Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sejarah politik Malaysia, rasanya baru Pemilu 2018 ini yang mendapat perhatian dunia internasional. Keterkejutan dunia ialah robohnya kekuatan politik UMNO dan Koalisi Barisan Nasional (BN) yang sudah berkuasa selama 60 tahun.
Anehnya lagi, kekuatan UMNO dan Koalisi BN ini bertekuk lutut di tangan seorang yang pernah memimpin UMNO selama 22 tahun lebih. Beliau ialah Mahathir Mohamad, usia 92 tahun, yang belakangan ini diberi kesempatan memimpin koalisi Pakatan Harapan (PH), koalisi oposisi yang didukung Anwar Ibrahim, tokoh politik reformis yang justru sebelum ini dijebloskan Mahathir masuk penjara dengan tuduhan sodomi.
Bersatunya Mahathir dan Anwar Ibrahim, yang didukung partai oposisi Cina, Democratic Action Party (DAP) yang dipimpin Lim Kit Siang, dan Partai Pribumi Bersatu Malaysia dibawah kepemimpinan Muhyidin Yasin, yang sebelumnya merupakan Wakil PM Najib Tun Razak.
Permanen dua koalisi Melayu
Setelah PH berkuasa dan sejak dilantik Mahathir sebagai PM Malaysia oleh Yang Dipertuan Agung pada 10 Mei yang lalu, berarti partai UMNO dan Koalisi BN untuk pertama kalinya menjadi partai oposisi di parlemen.
Kekuatan kedua koalisi yang semua dipimpin elite politik Melayu ini, jika berjalan permanen akan lebih menyehatkan politik Malaysia. Karena bisa jadi setiap pemilu antara UMNO dan BN vs PH menjadi pertarungan yang sengit untuk merebut kepemimpinan Nasional Malaysia.
Bagi UMNO dan Koalisi BN, kekalahan telak pada pemilu kemarin jelas tamparan luar biasa. Pertanyaan yang muncul, apakah partai yang sudah berkuasa lama, yang memiliki sumber daya dan aset yang luar biasa, mampu bangkit kembali dalam pemilu yang akan datang.
Apalagi, selama ini ada anggapan UMNO dianggap sebagai partai benteng terakhir masyarakat Melayu dan juga partai naungan Raja-Raja Melayu Malaysia. Ada 2 kemungkinan yang terjadi. Pertama, UMNO akan melakukan reformasi besar-besaran dan merebut kembali hati masyarakat Malaysia. Kemungkinan kedua, tetapi sangat kecil akan terjadi, bersatunya kembali pimpinan UMNO untuk masuk koalisi Pakatan Harapan.
Elite UMNO merasa yakin reformasi dan perubahan yang akan dilakukan secara internal paling tidak menjawab mengapa UMNO dan Koalisi BN kalah dalam pemilu kemarin. Tantangan ke depan, bagaimana melakukan pembersihan elite yang busuk dan dianggap menjatuhkan UMNO selama ini.
Upaya seperti ini tentunya sejalan dengan kebijakan Mahathir yang akan membongkar korupsi Najib Tun Razak. Bahkan, Mahathir akan membuka beberapa perkara di Kejaksaan Agung, Badan Anti Rasuah (KPK-nya Malaysia) yang tentunya jika ini terbukti akan semakin terseok–seoknya elite politik UMNO. Oleh karena itu, perseteruan sesama elite Melayu diperkirakan berjalan lama.
Kinerja Mahathir
Meskipun demikian, kinerja Kabinet Mahathir selama beberapa tahun ke depan akan menentukan seberapa lama pula PH berkuasa di Malaysia. Visi dan janji Mahathir selama kampanye pemilu kemarin tentunya akan ditagih masyarakat Malaysia.
Di samping itu juga upaya ‘bersih-bersih’ Mahathir terhadap UMNO ini menjadi tantangan tersendiri pula. Apalagi, upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih ini menyentuh kerabat–kerabat Kerajaan Melayu sehingga tidaklah mudah bagi Mahathir melakukan kebijakan ini karena pasti mendapatkan tantangan dari kelompok tertentu.
Tantangan internal PH tentunya juga akan menentukan kekuatan masa depan politik Mahathir dan Koalisi PH. Pertama, koalisi yang berkuasa sekarang dari segi kekompakan belum teruji secara politik. Seperti bergabungnya Partai DAP yang dipimpin Lim Kit Siang ialah pertama kali berkuasa--yang selama ini beroposisi--sekarang memerintah.
Kerja sama antara Partai PKR Anwar Ibrahim dan Partai Pribumi belum teruji dalam menjalankan pemerintahan Malaysia. Kerja sama internal Pakatan baru dimulai, potensi gesekan bisa saja terjadi sehingga jika Pakatan tidak berhasil melakukan konsolidasi politik secara baik, tentunya ini ancaman bagi masa depan politik Pakatan.
Kita juga belum bisa membayangkan, jika Mahathir sudah tidak lagi berkuasa dalam Pakatan, apakah Pakatan mampu bertahan dan memenangkan kembali pemilu yang akan datang.
Persoalan yang paling berat, apakah Pakatan mampu secara spiritual menggantikan posisi UMNO dan Koalisi BN yang selama ini dianggap penaung utama masyarakat Melayu. Andai kata Pakatan mampu menarik tokoh UMNO masuk ke Koalisi Pakatan, bisa jadi Pakatan mampu menggantikan UMNO yang selama ini dalam sejarah Malaysia sudah menjadi darah daging masyarakat Melayu.
Posisi Anwar Ibrahim
Tantangan lainnya ialah bagaimana Mahathir dengan koalisi yang baru menjalankan birokrasi pemerintahan. Pola pikir birokrasi yang selama ini berpihak kepada UMNO akan menimbulkan persoalan baru bagi Mahathir. Dalam hal ini diperlukan kepiawaian tersendiri bagi Mahathir yang pernah berkuasa selama 22 tahun untuk ‘menjinakkan’ birokrasi.
Terakhir, suksesi kepemimpinan Mahathir yang akan dilanjutkan Anwar Ibrahim bukanlah persoalan mudah. Di samping perlu kesepakatan internal Koalisi Pakatan, Anwar Ibrahim juga harus menjalankan pilihan sela dipinang yang mungkin akan menggantikan istrinya Wan Azizah yang duduk dalam parlemen Malaysia. Tentunya jika ini terjadi, pola kepemimpinan Anwar Ibrahim sebagai PM akan menentukan corak masa depan politik Malaysia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved