Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ALQURAN diturunkan tidak sekadar hanya untuk menjadi bacaan. Dibaca wajib dan berpahala, tapi merugilah jika kemuliaan kandungan Alquran tidak kita hayati dan amalkan dengan sungguh-sungguh. Ditilik dari sejarah sosialnya, Alquran diturunkan di saat umat manusia berada dalam kekalutan pemikiran dan perilaku.
Saat jarak kemanusiaan dengan krisis kemanusiaannya--yang kini didefinisikan sebagai kejahiliahan berada dalam hitungan jengkal. Krisis pemikiran yang menjadi sumber krisis kemanusiaan kala itu, membuat apresiasi manusia pada semua dimensi kehidupan redup dan sirna. Benar dan salah, tidak lagi nyata. Hatta terhadap hal-hal kemanusiaan dan ketuhanan.
Dalam kondisi krisis seperti inilah Alquran diturunkan. Ayatnya, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut)." (QS. Al-Alaq [96]: 1-5)
Ayat yang pertama turun muatannya tegas dan jelas. Mengajak manusia 'baca' untuk kemudian bisa mereposisi pikiran 'krisisnya' menjadi pikiran 'kritis'. “Dia Allah, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Baca dan pelajarilah.
Di antara baca dan pelajari, pada ayat Alquran yang pertama turun, juga tersurat jelas pernyataan khalik dan mahluk. Tentang Allah yang mencipta, yang mulia, yang mengajarkan, dengan makhluk yang diciptakan dan serba harus belajar.
Akar persoalan krisis manusia sebagian besar disebabkan kerancuan kesadarannya. Rasionya salah 'baca' inilah yang menyebabkan manusia tempo itu terperosok ke lubang jahiliah. Kesalahan 'baca' dalam memosisikan Allah sebagai khalik dan manusia sebagai makhluk, implikasinya bisa ke mana-mana. Bukan cuma sekadar lupa diri dan lupa sosial, melainkan juga lupa tanggung jawab.
Akar pikiran yang berkembang di jaman jahiliah, saat Alquran pertama kali diturunkan, relatif sama dengan akar pikiran jahiliah yang berkembang di masa Rasul-Rasul sebelumnya. Sarat dengan penafian terhadap kehakikian eksistensi khalik dan makhluk. Bukan berarti 'Tuhan' di zaman jahiliah tidak dikenal. Mereka kenal, tetapi kaum jahiliah gemar merekayasa sendiri Tuhan-Tuhannya. Tuhan mereka formalkan, tetapi diposisikan tak berdaya, hanya sekadar berhala.
Dalam kondisi seperti inilah, kaum jahiliah bisa melakukan apa saja atas nama tuhan. Dan tuhan dipaksa nurut pada kemauan mereka. Termasuk dalam urusan kekejian. Bukankah dengan mencatut nama tuhan, kaum jahiliah bisa membunuh anak perempuannya sendiri?
Merusak, meneror, dan bunuh diri, sama saja. Ini juga kejahiliahan, karena ciri dan karakternya menantang khalik. Ingkar dan mungkar pada dimensi kepengasihan dan kepenyayangannya. Kejahiliahan, sebagaimana riwayat yang ada di semua jaman para Rasul, bukanlah realitas beku.
Statis. Ia bermetamorfosa, mengikuti gerak jamannya. Bisa berganti-ganti jubah dan wajah. Bahkan bisa berkedok-kedok. Tak ubahnya dengan syirik. Yang meski dosanya besar, orang tak mudah mendeteksinya. Ia bisa seperti semut hitam merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.
Dimensi kontradiktif
Dalam keyakinan jahiliah, iman bisa diapain saja, bahkan direkayasa sampai ke dimensi kontradiktif sekalipun sehingga atas nama iman, seseorang menjadi absah mempraktikkan kemungkaran, kekejian, dan ketidakberadaban. Itulah yang kemarin dikerjakan para teroris, itulah kebiadaban yang kita saksikan tatkala mereka membunuh, membuat cemas, dan takut orang baik-baik. Mudah bagi kaum jahiliah memanipulasi pembenaran dengan kesucian iman. Meski apa yang diperjuangkan, dipikirkan, dan diperbuat, menjadi rangkaian yang bertolak belakang.
Dasar keyakinan seorang pejuang harus senapas sejiwa dengan apa yang diperjuangkan. Baginda Rasulullah, sebagaimana hadis riwayat muslim bersabda, bahwa di hari kiamat ada 3 golongan yang akan diseret ke dalam api neraka. Salah satunya ialah mereka yang merasa sebagai pejuang Allah. Merasa mujahid sampai lupa arogan, padahal dasar pejuangannya tidak berlandaskan jalan Allah.
Mengapa murka Allah sampai sedemikian, karena ini ciri orang yang merasa mujahid padahal berkarakter jahiliah. Ini karakter manipulatif yang melakukan pengelabuan atas kesucian ajaran Islam. Agama digunakannya untuk bersombong ria, menepuk dadanya sendiri. Seolah ia yang paling islami, paling mengerti Islam dan paling berhak mewakili umat Islam. Orang lain tidak.
Ia tidak sadar kalau mengolok-olok, menyindir, merupakan ciri karakter orang jahiliah yang dimurkai Allah. Karena dari sinilah virus perpecahan menyebar dan membuat umat sulit bersatu. Inilah yang kalau kita refleksikan dalam-dalam merupakan realitas yang 'digempur' ayat Alquran saat turun pertama kali.
Sesungguhnya, Islam tidak pernah menoleransi panggung untuk bertepuk dada, berbicara seenaknya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Coba sekali lagi, kita renung-renung, keyakinan Islam sebelah mana yang membenarkan orang menyakiti hati dan mengolok olok perasaan orang lain? Siapapun dia. Setokoh apapun dia. Tak ada!
Yang ada sebagaimana Allah firmankan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka."
Dalam hadis yang sahih, Baginda Rasulullah bersabda, "Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." Dalam riwayat lain disebutkan, "Dan meremehkan orang lain."
Kita tentu mafhum bahwa kesombongan merupakan sifat yang Allah benci. Sifat itu pula yang berkembang di masyarakat Arab jahiliah, tatkala Alquran turun untuk pertama kali. Dalam surah lain, Allah berfirman, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32).
Sesungguhnya Alquran diturunkan untuk membimbing jalan menuju muslim sejati, untuk mempersembahkan perilaku yang rahmatan lil alamin. Dalam perspektif inilah saya mafhum mengapa setiap tahun kita selalu merasa penting merenungi peristiwa Nuzululquran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved