#gantimatswapati

Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia
03/6/2018 05:05
#gantimatswapati
(MI)

KEGADUHAN menyeruak di Negara Wiratha gara-gara maraknya ‘kampanye’ #gantimatswapati. Pamflet, selebaran, spanduk, dan baliho yang berisi tulisan itu bertebaran di mana-mana. Sebagian rakyat ada pula yang petentang-tenteng mengenakan kaus bertuliskan #gantimatswapati.

Pada bagian lain, sejumlah anak muda ke sana ke mari berdemo berorasi yang intinya Matswapati harus diganti. Mereka menuduh Matswapati tidak becus mengurus rakyat dan negara. Katanya, utang negara membengkak, pengangguran membeludak, harga sembako semakin mahal, dan lainnya.  

Bukan itu saja, kelompok mereka meracuni warga dengan ujaran kebencian, fitnah, hoaks, dan sejenisnya yang ditebarkan lewat berbagai media. Semuanya menyudutkan Matswapati, pemimpin tertinggi Wiratha. Namun, tidak semua anggota masyarakat terpengaruh. Masih banyak warga yang berpikir jernih dan berhati bening. Mereka bisa melihat mana yang benar dan mana yang menggombal. Namun, bagaimanapun, sepak terjang mereka membuat masyarakat terpolarisasi dan menimbulkan ketegangan.


Mengatur strategi

Kampanye negatif itu akhirnya sampai ke lingkungan istana. Matswapati lalu bertanya kepada putra sulungnya, Raden Seta, apa sesungguhnya yang terjadi. Seta matur, memang sedang ada gerakan masif yang memprovokasi rakyat di hampir seluruh pelosok Wiratha.
 
Lebih lanjut Seta mengatakan, berdasarkan laporan telik sandi negara, gerakan miring itu diotaki tiga elite Wiratha, yakni Kencakarupa, Rupakenca, dan Rajamala. Mereka bertiga itu sesungguhnya masih kerabat Matswapati.

Istri Matswapati, Rekatawati, ialah adik trio elite yang mempunyai kedudukan strategis sebagai senapati. Mereka ialah para anak angkat pasangan Durgandini-Palasara, sedangkan Durgandini adik kandung Durgandana, nama muda Matswapati.

Dari info rahasia, sudah lama Kencakarupa bernafsu menguasai takhta Wiratha. Namun, jika berdasarkan konstitusi, ia tidak mungkin bisa menjadi raja. Maka, jalan yang harus ditempuh ialah menumbangkan Matswapati. Itu jalan satu-satunya mesti sangat berisiko.

Untuk itu ia perlu kekuatan. Maka, Kencakarupa lalu berkoalisi dengan Rupakenca dan Rajamala. Mereka membentuk sekretariat bersama (sekber) di Kesatrian Kencarupa. Setiap hari mereka menggelar rapat mematangkan strategi pemenangan. Pun, draf bagi-bagi kekuasaan bila berkuasa.

Koalisi itu lalu menelurkan berbagai strategi. Pertama, menyebarkan berita bohong tentang keburukan Matswapati sehingga rakyat membencinya. Kedua, mengelabuhi rakyat dengan kabar bobroknya tata kelola pemerintahan. Ketiga, mempropagandakan saatnya ganti pemimpin. Terakhir, memaksa Matswapati lengser dengan skenario lewat adu jago.

Begitulah laporan intelijen yang diterima Seta. Namun, Matswapati tidak percaya begitu saja. Ia lalu memanggil Kencakarupa dan Rupakenca untuk mengonfirmasi. Semula dua sentana dalem itu membantah mereka terlibat dalam kegaduhan di Wiratha. Namun, setelah diperlihatkan berbagai bukti, kedua tidak bisa mengelak.

Suasana pun menjadi panas. Kencakarupa dengan terbuka mengakui memang ingin menjadi raja di Wiratha. Ia menantang Matswapati untuk menyiapkan jago (petarung), siapa pun, untuk diadu dengan jagonya, Rajamala. Siapa yang jagonya menang berhak atas takhta Wiratha.


Kembali tenteram

Tidak ada pilihan bagi Matswapati. Ada ketakutan karena para pembangkangnya itu sesungguhnya para pilar pertahanan Wiratha. Bayangan masa depannya yang buruk pun menghantuinya. Namun, ia memasrahkan hidup-matinya kepada Sanghyang Widhi.

Matswapati memerintahkan putra keduanya, Raden Utara, mencari jago. Setelah njajah desa milang kori (keluar masuk kampung), akhirnya atas saran lurah pasar Wijakangka, Utara menemukan jago yang gagah perkasa. Jagonya ialah tukang jagal bernama Abilawa yang bekerja pada juru masak istana Wiratha bernama Jagal Welakas.

Betapa leganya Matswapati setelah mendapatkan jago. Namun, ia masih ragu akan kemampuan anak dusun itu menghadapi Rajamala, yang dikenal sakti mandraguna. Namun, bagaimanapun Abilawa satu-satunya harapannya untuk menyelamatkan kehormatannya.

Pada waktu yang telah ditentukan, digelarlah pertarungan Abilawa melawan Rajamala. Pada awalnya, kekuatan kedua seteru itu imbang. Namun, lama kelamaan Rajamala tertekan dan akhirnya tewas setelah jantungnya tertikam kuku pancanaka, senjata Abilawa.  

Kencakarupa-Rupakenca dibantu dengan para pengikut lalu menggotong jasad Rajamala dan diceburkan ke sendang Watari. Ajaib, Rajamala hidup kembali dan dalam kondisi segar bugar. Ia kemudian maju lagi menerjang Abilawa yang masih tertegun-tegun.   

Dengan kuku pancanakna, Abilawa kembali merubuhkan lawan. Namun, lagi-lagi setelah bangkai Rajamala terbasuh air sendang, ia bangkit lagi dan malah semakin beringas. Kejadian ini berulang kali terjadi sehingga membuat Abilawa hampir kehabisan tenaga dan jiwanya terancam.

Melihat situasi kritis tersebut, Wrahanala, pelatih tari istana Wiratha, melepaskan panah saktinya ke sendang tersebut. Ketika Rajamala mati dan dimandikan ke sendang, jasadnya hancur lebur. Seketika itu Kencakarupa-Rupakenca mengamuk. Namun, keduanya dapat disirnakan Abilawa.
 
Dengan matinya semua anggota koalisi Kencakarupa, aksi-aksi yang memprovokasi rakyat langsung lenyap. Tidak ada lagi ujaran kebencian, fitnah, berita bohong yang menyudutkan Matswapati. Singkatnya Wiratha kembali tenteram dan Matswapati tetap bertakhta.


Keluarga Pandawa

Semula Matswapati tidak mengetahui siapa sesungguhnya yang telah menstabilkan politik Wiratha. Namun, akhirnya terkuak bahwa para pahlawan itu ialah cucu buyutnya sendiri. Mereka ialah Wijakangko yang merupakan Puntadewa, Abilawa (Bratasena), dan Wrahatnala (Arjuna).

Mereka bersama kedua adik kembar, Tangsen dan Pinten, sedang hidup menyamar di Wiratha sebagai kelanjutan dari menjalani hukuman di Hutan Kamyaka selama 12 tahun. Keluarga Pandawa itu melakoni pembuangan karena kalah bermain dadu dengan Kurawa.

Sebagai balas jasanya, Matswapati bersabda bahwa Wiratha dengan seluruh kekuatan angkatan perangnya akan membantu Pandawa menghadapi Bharatayuda. Ini perang antara Pandawa dan Kurawa sebagai pembuktian hukum jagat bahwa kebenaran menang melawan kebatilan.

Poin yang bisa digarisbawahi dari kisah itu ialah sapa sing mbibiti ala wahyune bakal sirna, siapa yang mengawali dengan keburukan pada akhirnya celaka. (M-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya