Demi Suara Kaum Milenial

Henri S Siagian
02/6/2018 12:00
Demi Suara Kaum Milenial
(dok pribadi)

MENGENAKAN jaket jins dengan gambar peta Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampil ala sosok film Dilan 1990 di Jakarta International Expo, Jumat (20/4).

Jokowi juga kerap tampil dengan kebiasaan menyeruput kopi, mengenakan sneaker, hingga menunggangi Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper. Belum lagi penguasaan Jokowi terhadap beragam platform teknologi dan gaya kekinian. Seperti, kebiasaan mengunggah vlog ataupun mengiyakan ajakan wefie oleh warga.

Gaya kekinian juga ditampilkan oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan. Mengenakan kemeja yang ditutupi jaket, berbicara dengan gaya nonformal dengan diselingi gimmick, serta ber-wefie, seperti saat mengikuti Roadshow Seminar Motivasi Spirit of Indonesia di Universitas Sam Ratulangi di Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (22/5).

Adapun mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, yang hadir satu panggung bersama Zulkifli Hasan di Kota Manado, konsisten dengan menyerukan semangat antikorupsi. Isu yang 'garang' dia sampaikan dengan bahasa yang sangat ringan serta jenaka kepada para calon pemilih pemula pada 2019 itu.

Sejumlah politisi lain seperti Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy, dan lainnya juga melakukan beragam upaya untuk menampilkan sosok yang dekat dengan anak muda.

Mengadopsi pendekatan pemasaran politik karya Avraham Shama dalam The Marketing of Political Candidates di dalam Journal of the Academy of Marketing Science  (1976), kandidat disetarakan dengan produk dalam pemasaran komersial sedangkan pemilih sebagai pasar.

Dengan mengacu riset pasar yang menjadi tahap awal, setiap kandidat mengembangkan positioning dan segmentasi pasar serta didukung upaya promosi.

Semua itu, menurut Shama, terkait erat dengan upaya merebut awareness para milenial, memberi pengetahuan tentang latar belakang kandidat, menyukai kandidat, menjadikan kandidat sebagai preferensi, meyakini sang kandidat sebagai yang terbaik, hingga mendukung, berkontribusi dan memberi suara kepada sang kandidat.

Sehingga, gaya kekinian para kandidat selaku produk politik terkait erat dengan upaya merebut perhatian, kesadaran, hingga membentuk preferensi dalam pasar kawula muda.

Dan persoalan gestur, bahasa tubuh, bahasa pakaian, dan bahasa ruang (proxemics), menjadi penting dalam membentuk citra politik yang diinginkan. (Yasraf Amir Piliang, 2003)

Penampilan ndeso dan sederhana yang melekat di sosok Jokowi pada Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2014 mulai bergeser pada gaya kekinian yang menyatu dengan Jokowi.

Di sisi lain, tidak terlihat citra anggota 'dewan yang terhormat' di kala Zulkifli menemui kaum muda. Pun Abraham yang tampil santai, tidak tegang seperti saat menyampaikan informasi selaku pemimpin KPK.

Hal itu wajar. Mengingat, berdasarkan perhitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada Pemilu 2019 terdapat sekitar 192 juta pemilih. Dan lebih dari 55% dari pemilih itu adalah yang berusia 17-38 tahun. (Media Indonesia, 20/4)

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR dalam Kolom Pakar Media Indonesia (23/4), preferensi kaum milenial menginginkan kandidat dengan karakteristik merakyat (35%) dan jujur/berintegritas (11,8%). Fenomena ini menunjukkan generasi milenial menyukai kandidat yang menyatu dan tak berjarak dengan 'gaya hidup' mereka (merakyat).

Adapun karakter mendasar generasi milenial (17 tahun-35 tahun), menurut Hanta, adalah melek informasi dan terkoneksi (connected) melalui jejaring media sosial digital, yang terhubung melalui internet.

Pemilih milenial terbilang pemilih kritis yang masih galau. Karena, sebanyak 63% dari responden dalam survei yang digelar Poltracking pada Februari 2018 mengaku masih mungkin mengubah kandidat pilihan mereka.

Tetapi, menurut Hanta, pilihan kelompok pemilih milenial tidak terlalu solid (di bawah 50%) dalam mendukung petahana Joko Widodo sebagai calon presiden (capres) dibandingkan pemilih matang yang cenderung lebih solid di atas 50%.

Pilihan anggota

CEO KAMI Indonesia Asri Anas mengaku telah menggelar roadshow seminar motivasi Spirit of Indonesia di berbagai kampus di 10 kota. Dalam sejumlah roadshow itu antara lain menampilkan Zulkifli Hasan dan Abraham Samad sebagai pembicara.

Kedua nama itu, jelas Asri, adalah pilihan anggota organisasinya yang mayoritas adalah anak milenial. Selain itu, dia mensyaratkan tokoh yang hendak menjadi pembicara harus mau mengenyampingkan protokoler.

"Kami minta ke Pak Zulkifli, kalau mau tampil juga tidak boleh terlalu formal. Selain itu, harus mau menyisihkan 15 menit setelah acara untuk selfie. Dampaknya langsung terlihat dari peningkatan pengikut akun medsos Pak Zul," kata Asri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya