Pilih Nekrokrasi atau Biokrasi?

Marianus Mantovanny Tapung Program Doktor UPI, Sekretaris Eksekutif Perennial Institute
23/5/2018 02:05
Pilih Nekrokrasi atau Biokrasi?
(seno)

ERICH Fromm (1900-1980) pernah membeberkan, pada fase perkembangan tertentu, entah secara kolektif ataupun individual, anggota masyarakat bisa masuk dikotomi antara kelompok yang ‘mencintai kematian’ (nekrofili) dan kelompok yang ‘mencintai kehidupan’ (biofili). Tiap kelompok memiliki tipikalitasnya. Kelompok nekrofili umumnya kaum pesimistis, skeptis, dan fatalistis menatap masa depan.

Dari perspektif psikologi sosial, kelompok nekrofili cenderung eksklusif dan tidak terbuka pada pendapat, pemikiran, dan perkembangan alternatif. Kelompok ini bisa membelah diri menjadi kelompok militan, radikal, dan rigoristik. Seandainya mereka menguasai negara dan sistem pemerintahannya, secara tidak sadar terbentuklah nekrokrasi.

Nekrokrasi tidak secara kasatmata hadir sebagai sebuah sistem administrasi kenegaraan, tetapi lebih pada sistem psikologi massal yang bertumbuh kembang pada kaum nekrofili. Namun, pada saatnya, sebagai sebuah sistem psikologi massal, nekrokrasi akan secara laten memengaruhi sistem administrasi kenegaraan.

Ketika berkesempatan memegang tampuk pimpinan, mereka bisa membawa negara pada bentuk otoritarian, totaliter, dan fasis. Mereka biasanya militan dan masif memproklamasi suatu ideologi menggandeng isu agama, budaya, suku, dan ras.
Sementara itu, kelompok biofili memiliki tipikalitas bertolak belakang dengan kelompok nekrofili. Kelompok itu memandang kehidupan mereka sangat optimistis. Bersikap inklusif dan terbuka pada pemikiran dan perkembangan baru. Cukup dinamis dan fleksibel sehingga kadang tidak memiliki pegangan ideologi kuat.

Bila kelompok ini menguasai masyarakat atau suatu sistem pemerintahan, yang terbentuk ialah sistem psikologi massal yang disebut biokrasi. Umumnya, mereka memandang masyarakat sebagai organisme yang terus berkembang dan tidak terpaku pada patron ideologi tertentu. Mereka respek pada demokrasi modern yang sangat menekankan penghargaan pada HAM, pluralitas, dan multikulturalitas.

Bagi kaum ini, bertumbuh dan berkembangnya suatu bangsa terletak pada penghargaan kemajemukan budaya, suku, ras, dan agama, bahkan pada kejamakan berpikir, dan berpendapat.  Namun, sebagai sistem psikologi massal, biokrasi cukup rentan dengan munculnya konflik dan perpecahan ketika dalam mengelolanya tidak memakai instrumen yang efektif.

Menurut Fromm (George, 2004), dengan munculnya sistem psikologi massal dalam bentuk nekrokrasi dan biokrasi ini, ada tiga tipikalitas masyarakat, pertama masyarakat pecinta kehidupan. Karakter sosial masyarakat ini penuh cita-cita, optimisme, dan menjaga kelangsungan dan perkembangan kehidupan. Masyarakat ini menjalin kerja sama, solidaritas, dan toleransi penuh cinta dan penghargaan.

Kedua, masyarakat nondestruktif tapi agresif dan progresif. Masyarakat ini memandang agresivitas, progresivitas, dan destruksi hal wajar dalam kehidupan mereka. Situasi masyarakat ini penuh kompetisi dengan manuver dan strategi untuk mempertahankan hidup.
Ketiga, masyarakat destruktif. Karakter sosialnya merusak, brutal, berprasangka buruk, intoleran, penuh dengan dendam, pengkhianatan, dan permusuhan. Pada masyarakat ini sering terjadi persaingan dan dapat berujung perpecahan. Perang dalam segala bentuk bagi mereka ialah kelaziman dan dibenarkan menurut cara pandang tertentu.

Saya kira, tantangan internal semua negara saat ini ialah fenomena menguat dan mengakarnya tipikalitas masyarakat destruktif. Dari perspektif manajemen konflik, salah satu isyarat negara kuat ialah ketika mampu mengelola berbagai bentuk gejala destruktif, dan mengonversi gejala itu menjadi kekuatan untuk semakin merekatkan soliditas berbangsa.

Ada banyak negara yang hari ini tetap berdiri tegak, bahkan menjadi besar, karena cerdas melewati berbagai tantangan internal. Kecerdasan itu mungkin terletak pada asas negara tidak boleh kalah! Penyelesaian berbagai gejala destruksi mesti mempertimbangkan berbagai pendekatan seperti kemanusiaan, kultural, sosiopolitik, sosioekonomi, dll, sehingga masyarakat merasakan perhatian dan keadilan.

Hipotesis
 
Saya punya hipotesis, bahwa bernegara bukanlah sebuah tujuan, melainkan sarana agar manusia mendapatkan pengakuannya. Tujuan manusia bernegara ialah mendapatkan eksistensi sebagai ens politicon. Dalam negara seorang mendapatkan hak dan kebebasan sejatinya sebagai manusia.

Bernegara ialah tempat dan ruang manusia mampu berada dan mengada. Hidup dan menghidupkan dirinya. Bernegara bisa jadi merupakan bentuk keterberian bagi masyarakat tertentu. Tetapi menjadi anggota masyarakat yang sejahtera lahir dan batin merupakan suatu pilihannya. Bernegara merupakan tempat yang disediakan Tuhan agar manusia mendapat kehidupan yang layak dan sejahtera.  

Bila bernegara hanya sebatas sebagai tujuan, yang sering terjadi munculnya pengingkaran terhadap hak-hak sebagai manusia. Masyarakat bahkan akan dikorbankan dan dieksploitasi hanya untuk kepentingan negara semata. Fakta sejarah membuktikan bahwa dengan adanya dalil tentang ‘masyarakat harus memberi untuk negara’ seakan melegitimasi kehendaknya berkuasa.

Dalil ini kemudian dipakai untuk melanggengkan hegemoninya dan membenarkan segala bentuk penyimpangan kekuasaan. Ada banyak pemimpin di dunia ini melakoni kekuasaan dengan memanfaatkan dalil ini demi mempertahankan negara mereka meski dengan mengorbankan masyarakat sendiri.

Bisa jadi konsep dan pemikiran ‘bernegara sebagai tujuan’ merupakan dampak dari sikap ‘memiliki’. Secara positif sikap ini akan memunculkan sikap patriotisme dan nasionalisme. Namun, secara negatif sikap ini berdampak pada bentuk fasisme dan totalitarianisme.
Pemimpin dan rakyat menganggap negaranya yang paling besar dan berjaya. Sementara negara lain menjadi subordinasi. Namun, bila motivasi bernegara muncul dari sikap ‘menjadi’, dengan setiap anggota masyarakat mendapat ruang dan tempat untuk kehidupan layak sebagai manusia, terbentuk sikap patriotisme dan nasionalisme sejati.

Ekspresi-ekspresi kecintaan terhadap negara justru muncul sebagai dampak rasa bahagia masyarakat karena diperlakukan adil oleh negaranya.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya