Unjuk Gigi di Turnamen Tertua

MAGGIE NUANSA MAHARDIKA
28/2/2015 00:00
Unjuk Gigi di Turnamen Tertua
(AFP/JUNG YEON-JE)
AJANG bulu tangkis All England selalu ditunggu pecinta bulu tangkis di seluruh dunia dan menjadi turnamen bergengsi karena merupakan satu yang tertua. Kini sudah memasuki edisi ke-105.

Bagi Indonesia yang menargetkan dua gelar di ajang itu, makna All England Super Series Premier 2015 bukan sekadar pencarian gelar. Bukan pula sekadar mempertahankan gelar yang sudah direbut ganda campuran Tontowi Ahmad (Owi)/ Liliyana Natsir (Butet) tiga kali berturut-turut (2012-2014) dan gelar ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan tahun lalu.

Memang, euforia atas pencapaian prestasi Owi/Butet dan Ahsan/Hendra tidak dapat begitu saja menghilang di benak masyarakat Indonesia. Owi/Butet ialah satu-satunya pasangan ganda campuran Indonesia yang berhasil mencetak hattrick di All England. Catatan prestasi itu menyamai legenda bulu tangkis dunia asal Korea Selatan, Park Joobong. Kemenangan Ahsan/Hendra di All England 2014 juga mengembalikan supremasi ganda putra Indonesia yang sudah 11 tahun puasa gelar All England.

Di tahun krusial ini, All England juga menjadi ajang penilaian pemain dan evaluasi program menuju Olimpiade 2016 Rio de Janeiro mengingat kuali kasi Olimpade 2016 akan dimulai Mei mendatang. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Rexy Mainaky menilai turnamen itu menjadi waktu yang tepat untuk melihat gambaran program latihan menuju Olimpiade. Dari All England, pihaknya akan melihat apakah program yang diberikan sudah tepat merujuk hasil yang dicapai nanti.

"Semua nanti kita lihat di All England. Itu jadi simulasi pertama para atlet elite, kita lihat apakah program kita cukup efektif dan apa yang harus dievaluasi," ungkap Rexy.

Turnamen yang digelar di Birmingham, Inggris, pada 3-8 Maret itu diikuti 34 pemain Indonesia, baik pemain pelatnas maupun pemain klub. Semua sektor disiapkan dengan persiapan program yang masuk di program persiapan Olimpiade meskipun tiap sektor punya target berbeda. Jika Ahsan/Hendra dan Owi/Butet ditargetkan menjadi juara, sektor ganda putri yang dimotori Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari dipatok masuk ke semi nal.

Sementara itu, para pemain tunggal lapis pertama pelatnas seperti Simon Santoso, Linda Wenifanetri, dan Bellaetrix Manuputty tidak dibebani target muluk. "Persiapan selama ini berjalan baik. Semua pemain, baik yang diberi target maupun yang tidak, saya lihat sudah siap," kata Rexy.

Kesiapan tersebut dinyatakan Owi/Butet yang tahun ini menatap gelar keempat mereka. "Kami akan merebut lagi gelar kami. Meskipun banyak pesaing berat jika kami mulus ke nal, tetap kami harus waspada justru di babak-babak awal karena masih masa adaptasi. Kalau sudah masuk semi nal, justru sudah enak mainnya," kata Liliyana.

Selain latihan sik dan teknik, mereka bersama sang pelatih, Richard Mainaky, mempelajari video permainan pesaing-pesaing berat mereka. Richard juga memberi keduanya latihan angkat beban untuk menambah daya tahan otot yang dinilainya masih kurang.

Pesaing berat Owi/Butet di All England masih sama dengan pesaing mereka di ajang papan atas lainnya, yakni peringkat satu dunia asal Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei, peringkat dua asal Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dan peringkat ketiga asal Tiongkok Xu Chen/Ma Jin. Owi/Butet akan memulai perjuangan mereka melawan pemain Irlandia Sam Magee/Chloe Magee.

Menurut Richard, Zhang/Zhao menjadi lawan paling berbahaya karena Zhang sangat cerdas di lapangan. Namun, Tontowi mengungkapkan lawan terberatnya ialah Nielsen/ Pedersen. "Kalau sama Zhang/Zhao, rekor pertemuannya masih seimbang, siapa yang lebih t maka dia yang akan menang di lapangan. Tapi dengan Nielsen/Pedersen, kalah 2-5 rekornya," katanya.

Liliyana menerangkan Nielsen/Pedersen memiliki pola permainan yang sangat rapi sebagaimana tipikal pemain Eropa lainnya. "Kalau sudah masuk ke pola mereka, kita susah untuk keluar. Dari awal kita hrus berusaha agar mereka yang masuk ke pola kita. Tapi, pasangan itu tak pernah juara di turnamen lainnya. Jadi, menurut saya, mentalnya belum teruji. Di situ celahnya. Kita pergunakan kelemahannya itu," tuturnya.

Di sektor ganda putra, Ahsan/Hendra yang kini menempati peringkat kelima dunia bakal mendapat perlawanan keras dari ganda peringkat satu dunia saat ini, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Mereka harus waspada mengingat catatan rekor pertemuan tak berpihak, yakni 1-5.

Selain Lee/Yoo, Ahsan/Hendra harus meruntuhkan hadangan peringkat kedua asal Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen, juga pemain Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa yang kini menempati peringkat keenam dunia untuk bisa memenangi partai puncak.

Di babak pertama, Ahsan/Hendra akan berhadapan dengan pemain kualifikasi. Pada babak selanjutnya, Ahsan/ Hendra harus waspada karena mungkin bertemu dengan Fu Haifeng/Zhang Nan. "Kalau melihat drawing, kami optimistis bisa juara. All England ialah target besar perdana kami tahun ini," ujar Hendra. Kendati mengharapkan dari ganda putra dan campuran, Indonesia punya ekspektasi tinggi di sektor ganda putri, terutama setelah Greysia/Nitya meraih emas Asian Games 2014. Setengah tahun belakangan, gra k prestasi Greysia/ Nitya menanjak cukup signi kan.

Kemenangan mereka di Asian Games tahun lalu dinilai menjadi semacam jalan pembuka harapan Indonesia di sektor itu untuk bisa kembali menjuarai turnamen dunia. Greysia/Nitya akan mendapat perlawanan dari pemain-pemain Tiongkok yang menempatkan empat wakil di jajaran top 8, yakni Tian Qing/Zhao Yunlei (1), Luo Ying/Luo Yu (3), Wang Xiaoli/Yu Yang (5), dan Bao Yixin/Tang Yuanting (8).

Ada juga pemain Jepang yang kini naik daun, yaitu Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (2) dan Reika Kakiiwa/Miyuki Maeda (6). Belum lagi pemain Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl yang menduduki peringkat keempat.

Dari daftar pesaing utama Indonesia tersebut, unggulan pertama sangat sulit ditaklukkan. Pasalnya, hingga tiga pertemuan sebelumnya, belum pernah sekali pun Greysia/ Nitya memetik kemenangan. Berbeda dengan yang lainnya, selisih jumlah kemenangan dan poin per gim mereka tidak jauh berbeda. "Mereka saya targetkan menembus semi nal," kata pelatih ganda putri nasional, Eng Hian.

Jika berhasil juara, keduanya akan menyamai ganda putri Minarni Soedaryanto/Retno Koestijah yang merupakan juara 1968 dan Verawaty Fajrin/Imelda Wigoena (juara 1979).

Sementara itu, di nomor tunggal, Indonesia sepertinya belum bisa menggantungkan harapan besar. Simon Santoso, yang menjadi senior satu-satunya di tunggal putra pelatnas, belum bisa membuktikan dirinya setelah terjangkit demam berdarah Agustus 2014. Performa Simon menurun hingga peringkat dunianya terjun bebas ke nomor 24. Pada ajang German Open GPG saja, ia harus angkat koper seusai penampilan pertamanya. Indonesia masih memiliki Tommy Sugiarto yang awal tahun ini mundur dari pelatnas, tetapi juga belum bisa tampil maksimal. Tunggal putra lainnya, Dionysius Hayom Rumbaka, harus merangkak dari babak kuali kasi. Undian juga ternyata tidak memihak Indonesia. Hayom atau Simon akan langsung kembali perang saudara dengan Tommy jika lolos ke babak utama.

Dari segi persaingan pun, kini mulai muncul pemain baru yang tampil konsisten, seperti Kento Momota. Pesaing utama di nomor itu juga tak bisa diremehkan sama sekali, apalagi ada Lin Dan (Tiongkok) dan Chen Long (Tiongkok), juga ada Jan O Jorgensen (Denmark) yang tampil konsisten.

Keran ekspektasi juga tak bisa dibuka lebar-lebar di sektor tunggal putri. Di tahun ini, hanya Linda Wenifanetri yang berhasil lolos masuk babak utama tanpa harus melewati kuali kasi.

Millicent Wiranto dan Bellaetrix Manuputty harus memulai dari babak kuali kasi. Jika keduanya lolos hingga partai nal kuali kasi, keduanya akan bentrok. Selanjutnya, siapa pun yang masuk babak utama akan langsung mendapatkan unggulan ketiga asal India Saina Nehwal. (R-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya