Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI sebagian orang, lari mungkin sekadar aktivitas fisik untuk mencapai garis finis. Namun, bagi Yad Hapizudin dan Irma Handayani, setiap langkah di lintasan adalah manifestasi dari konsistensi, keberanian, dan upaya tanpa henti untuk melampaui batas diri. Dua atlet kebanggaan Indonesia yang didukung oleh PUMA Indonesia ini membuktikan bahwa prestasi besar lahir dari komitmen yang tak tergoyahkan.
Yad Hapizudin, pelari muda asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, kini menjadi sorotan di nomor spesialis 1.500 meter. Sementara itu, Irma Handayani, pelari maraton elite dari Kalimantan Timur, terus memperkuat posisinya di kancah internasional melalui ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.
Berikut adalah ringkasan pencapaian terbaru kedua atlet tersebut pada tahun 2026:
| Atlet | Ajang Kompetisi | Pencapaian / Catatan Waktu |
|---|---|---|
| Yad Hapizudin | Singapore Open Track and Field Championships 2026 | Juara 1 (Podium Utama) |
| Yad Hapizudin | Adhyaksa International Run 2026 (5 km) | Personal Best: 15 menit 08 detik |
| Irma Handayani | Daegu Marathon 2026, Korea Selatan | 2 jam 56 menit 01 detik |
MI/HO--Atlet lari Indonesia Irma HandayaniKesuksesan yang mereka raih saat ini tidak datang secara instan. Yad memulai perjalanannya dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah pada usia 12 tahun. Menariknya, ia sempat membagi fokus antara seni bela diri silat dan lari sebelum akhirnya memilih atletik sebagai jalan hidup setelah memenangkan kompetisi pelajar.
Di sisi lain, Irma Handayani memiliki kisah yang sangat menyentuh tentang ketangguhan. Berasal dari latar belakang sederhana, Irma pernah mengikuti perlombaan lari tanpa menggunakan sepatu. Keterbatasan tersebut justru menjadi pemantik semangatnya untuk membuktikan bahwa tekad yang kuat mampu mengalahkan segala rintangan fisik.
"Dulu aku pernah lari tanpa sepatu. Dari situ aku merasa tertantang untuk terus berkembang, supaya bisa punya performa yang lebih baik," ungkap Irma mengenang masa lalunya.
Menjadi atlet elit berarti harus siap berhadapan dengan kejenuhan dan pengorbanan. Yad mengakui bahwa menjaga fokus memerlukan target baru di setiap fase latihan. Ia harus merelakan waktu berkumpul bersama keluarga dan teman demi menjaga disiplin. Target besarnya saat ini adalah memecahkan rekor nasional nomor 1.500 meter kategori senior.
Bagi Irma, lari adalah gaya hidup yang menuntut penyesuaian rutinitas. Ia percaya bahwa menikmati setiap proses, termasuk saat-saat sulit di ajang seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), adalah kunci agar setiap perjalanan terasa lebih bermakna.
Dalam upaya melampaui batas, dukungan perlengkapan yang tepat menjadi krusial. PUMA Indonesia hadir mendukung kedua atlet ini melalui teknologi performance running terbaru. Yad menekankan pentingnya responsivitas sepatu, terutama saat memasuki dua kilometer terakhir yang krusial.
“Di 2 km terakhir itu biasanya sudah adu speed. Jadi aku butuh sepatu yang bisa bantu tetap responsif dan stabil,” jelasnya.
Penggunaan teknologi seperti NITRO™ Foam untuk pengembalian energi (energy return) dan PWRPLATE untuk stabilitas membantu Yad dan Irma menjaga efisiensi langkah mereka. Bagi mereka, dukungan PUMA bukan sekadar soal penyediaan alat olahraga, melainkan bentuk kepercayaan yang memperkuat mentalitas juara.
Pada akhirnya, kisah Yad dan Irma mengajarkan bahwa lari adalah tentang keberanian untuk menetapkan standar baru. Setiap garis finis bukanlah akhir, melainkan titik awal untuk tantangan yang lebih besar di masa depan. (Z-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved