Strategi Perbati Jaring Bibit Petinju Potensial Lewat Ajang UBL 2026

Khoerun Nadif Rahmat
17/4/2026 21:49
Strategi Perbati Jaring Bibit Petinju Potensial Lewat Ajang UBL 2026
Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) menjadikan ajang University Boxing League (UBL) Nasional 2026 sebagai momentum strategis dalam menjaring bibit petinju amatir potensial dari kalangan mahasiswa.(Dok Istimewa )

PENGURUS Besar Tinju Indonesia (Perbati) menjadikan ajang University Boxing League (UBL) Nasional 2026 sebagai momentum strategis dalam menjaring bibit petinju amatir potensial dari kalangan mahasiswa. 

Kompetisi yang akan digelar di Jakarta pada 23 Mei mendatang tersebut diharapkan mampu melahirkan talenta muda yang siap diproyeksikan ke level nasional maupun internasional.

Sekretaris Jenderal Perbati Hengky Silatang menegaskan bahwa UBL memberikan ruang luas bagi seluruh mahasiswa di Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka tanpa adanya sekat latar belakang. Pihaknya menitikberatkan pada aspek potensi yang dimiliki oleh setiap peserta yang bertanding.

“Dari UBL ini kami harapkan muncul atlet yang bisa membawa Merah Putih. Kami tidak memilih berdasarkan latar belakang, yang penting potensial. Tidak ada batasan, seluruh Indonesia punya kesempatan,” ujar Hengky dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4).

Hengky menambahkan, meskipun UBL berstatus sebagai ajang nasional, Perbati berkomitmen untuk memberikan pembinaan lanjutan bagi atlet yang menonjol agar bisa menembus kancah dunia.

“Kalau memang ada potensi, tentu akan kami dorong ke level berikutnya, termasuk internasional,” katanya.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum Perbati Sultan Sapta melihat mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung atlet nasional di masa depan. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian tersebut harus dilalui melalui proses seleksi yang ketat dan terstruktur.

“Perbati selalu melihat potensi mahasiswa. Kalau ada yang menonjol, sangat mungkin diproyeksikan menjadi atlet Indonesia. Tentu ada tahapan seperti seleksi kejuaraan nasional dan lainnya,” tutur Sultan.

Harapan serupa disampaikan oleh Presiden UBL Sandri Karamoy. Ia menginginkan kompetisi ini memberikan kontribusi nyata bagi pembinaan tinju di Tanah Air, terutama menjelang agenda besar seperti Asian Boxing U-19 dan U-23 yang akan digelar pada Juli mendatang.

“Kami juga berharap dari sini ada yang bisa mewakili ke depannya,” kata Sandri.

Sandri mengakui bahwa tantangan terbesar dalam menyelenggarakan UBL adalah menyaring atlet dari berbagai daerah yang memiliki kualitas kemampuan relatif merata.

Proses seleksi telah dilakukan melalui rangkaian panjang di enam kota besar, termasuk Bali, Banten, Yogyakarta, dan Semarang, dengan antusiasme yang cukup tinggi.

“Kami mengumpulkan peserta dari enam kota besar seperti Bali, Banten, Yogyakarta, dan Semarang. Di beberapa daerah, jumlah partai cukup banyak, seperti di Yogyakarta dan Semarang yang mencapai sekitar 35 partai,” ungkapnya.

Sistem poin menjadi indikator utama dalam menentukan atlet yang berhak melaju ke babak nasional. Hanya mereka dengan raihan poin tertinggi yang dipilih untuk bertanding memperebutkan gelar juara.

“Itu tantangan kami, karena hampir semua punya potensi yang sama. Tapi kami harus memilih yang terbaik berdasarkan poin,” ucap Sandri.

UBL Nasional 2026 merupakan puncak dari UBL Season 1 yang telah melibatkan lebih dari 60 universitas dan 280 mahasiswa melalui roadshow di enam provinsi. Tercatat sebanyak 18 petinju terbaik akan bersaing memperebutkan sembilan sabuk juara nasional di berbagai kelas.

Sandri menjelaskan bahwa UBL telah menyusun rencana jangka panjang untuk membawa atlet mahasiswa berprestasi ke ajang internasional. Setelah musim ini berakhir, pihaknya akan kembali melakukan seleksi melalui roadshow di wilayah Jabodetabek untuk musim berikutnya.

“Setelah nasional, kami akan melakukan roadshow di wilayah Jabodetabek, lalu diseleksi kembali untuk musim berikutnya. Dari situ, kami menargetkan satu atlet terbaik untuk dikirim ke ajang internasional,” ujarnya.

Menurut Sandri, kunci utama bagi para petinju mahasiswa untuk meraih prestasi adalah konsistensi dalam bertanding, disiplin tinggi, serta tetap menjunjung nilai-nilai sportivitas.

UBL juga berencana memperluas jangkauan kompetisi hingga ke 14 provinsi pada musim mendatang demi membangun ekosistem tinju mahasiswa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya