Belum Pulih dari Trauma, Pemkab Malang tak Izinkan Stadion Kanjuruhan Gelar Derbi Jatim

Media Indonesia
16/4/2026 11:07
Belum Pulih dari Trauma, Pemkab Malang tak Izinkan Stadion Kanjuruhan Gelar Derbi Jatim
Penggunaan Stadion Kanjuruhan sebagai lokasi derbi Jawa Timur antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dilarang .(Ist)

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Malang secara resmi menyatakan tidak memberikan rekomendasi penggunaan Stadion Kanjuruhan sebagai lokasi laga derbi Jawa Timur antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang dijadwalkan pada 28 April mendatang. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek psikologis dan trauma kolektif pascatragedi 1 Oktober 2022.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Malang Rahmat Hardijono, menegaskan bahwa Stadion Kanjuruhan belum siap secara emosional untuk menggelar laga dengan tensi tinggi tersebut.

“Pemkab Malang tidak merekomendasikan laga Derby Jatim digelar di Kanjuruhan. Ini ada luka yang belum pulih, yang belum bisa disembuhkan,” ujar Rahmat dalam kegiatan Sharing Session bertajuk ‘Malang Raya Roundtable: Mencari Konsensus Publik Jelang Derby Jatim’ di Klojen, Kota Malang, Rabu (15/4).

Belum Ada Izin Resmi
Rahmat menambahkan bahwa sikap resmi ini akan disampaikan langsung oleh Bupati Malang, Sanusi, dalam rapat koordinasi bersama Polres Malang. Hingga saat ini, izin keramaian untuk pertandingan tersebut memang belum diterbitkan oleh pihak kepolisian.

“Nanti bupati akan rapat di Polres tidak akan merekomendasikan Kanjuruhan. Izin sampai sekarang belum keluar. Pemerintah kabupaten Malang tidak akan merekomendasikan Stadion Kanjuruhan sebagai tempat pertandingan Arema melawan Persebaya pada 28 April,” tukasnya.

Senada dengan Pemkab, Ketua PSSI Kabupaten Malang Muhammad Ukasyah Ali Murtadho, menilai ketiadaan rekomendasi dari pemangku wilayah sudah cukup untuk membatalkan rencana pertandingan di lokasi tersebut. Apalagi, pihak kepolisian dikabarkan menunjukkan sinyal serupa.

“Kalau sudah dinyatakan Pemkab Malang tidak merekomendasikan, itu sudah menjadi salah satu unsur untuk membatalkan pertandingan. Kami dapat informasi bahwa Kapolres Malang tidak siap. Berarti sudah ada dua aspek. Tinggal kita tunggu putusan resminya,” kata Ali.

Sorotan terhadap PT LIB
Penolakan keras juga datang dari peneliti Rafi Azzamy. Ia mencurigai adanya motif bisnis di balik rencana pemilihan Stadion Kanjuruhan yang dianggap mengabaikan rasa keadilan bagi korban tragedi kemanusiaan.

“Saya melihat mens rea, ada satu niat jahat yang dilakukan PT LIB dalam konteks penyelenggaraan laga di Kanjuruhan. Jelas, Stadion Kanjuruhan sepi penonton, maka perlu diramaikan lagi melalui derbi. Pertandingan di Kanjuruhan akan mengaburkan masalah,” ungkap Rafi.

Rafi menyarankan agar laga tersebut dipindahkan ke luar daerah demi menjaga kondusivitas. “Saya menawarkan solusi laga itu dipindah, terserah di mana, asal tidak di Kanjuruhan. Laga digelar di Stadion Kanjuruhan itu kemungkaran,” imbuhnya.

Di sisi lain, anggota DPRD Kota Malang Ginanjar Yoni Wardoyo, menekankan pentingnya keseimbangan antara penghormatan sejarah dan upaya bangkitnya sepak bola nasional.

“Tragedi kemanusiaan di Kanjuruhan harus menjadi catatan sejarah ke depan. Tapi itu tidak boleh terus berlanjut. Harus kita pulihkan. Kita harus bangkit bersama. Dari perspektif kemanusiaan kita harus jadikan catatan, tapi dari perspektif sepak bola kita harus bangkit,” pungkasnya. (P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya