Viktor Axelsen Pensiun di Usia 32 Tahun usai Cedera Punggung, Akhiri Karier Gemilang

Khoerun Nadif Rahmat
15/4/2026 17:19
Viktor Axelsen Pensiun di Usia 32 Tahun usai Cedera Punggung, Akhiri Karier Gemilang
Pebulu tangkis tunggal putra Denmark Viktor Axelsen berselebrasi usai mengalahkan tunggal putra Indonesia Anthony Ginting dalam babak final Indonesia Open 2023 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (18/6/2023).(Antara)

PEBULU tangkis Denmark Viktor Axelsen memutuskan pensiun dari dunia profesional pada usia 32 tahun setelah tidak lagi mampu tampil di level tertinggi akibat masalah punggung pascaoperasi pada April 2025.

Keputusan tersebut diumumkan peraih dua medali emas Olimpiade itu melalui unggahan di Instagram. Ia mengakui kondisi fisiknya tidak lagi memungkinkan untuk menjalani latihan dan kompetisi dengan intensitas tinggi.

"Menerima situasi ini sangatlah sulit, tetapi kini saya telah sampai pada titik di mana tubuh saya tidak mengizinkan untuk melanjutkan," tulis Axelsen.

Axelsen menutup karier sebagai salah satu pemain tunggal putra paling berprestasi dalam sejarah bulu tangkis. Ia meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024, serta medali perunggu di Rio 2016.

Di level dunia, ia juga menjuarai Kejuaraan Dunia pada 2017 dan 2022, serta menempati peringkat satu dunia selama lebih dari 100 pekan berturut-turut. Catatan tersebut hanya kalah dari total durasi milik Lee Chong Wei.

Konsistensi Axelsen turut tercermin di ajang BWF World Tour Finals dengan torehan tiga gelar beruntun pada 2021 hingga 2023. Secara keseluruhan, ia mengoleksi lima gelar turnamen penutup musim serta 10 gelar Super 1000.

"Sejak pertama kali memegang raket, saya tahu impian saya adalah menjadi yang terbaik di dunia. Saya telah memberikan segalanya untuk olahraga ini. Ini bukan sekadar karier bagi saya melainkan hidup saya, dan saya telah melakukan segala cara," tulisnya.

Dengan tinggi badan mencapai 1,94 meter, Axelsen dikenal mengubah standar fisik tunggal putra melalui kombinasi kekuatan, jangkauan, dan kontrol taktik. Ia menjadi salah satu pemain yang mampu bersaing lintas era, termasuk menghadapi dominasi Lin Dan dan Lee Chong Wei.

Di luar lapangan, pengaruhnya juga terasa secara global. Ia mempelajari bahasa Mandarin untuk mendekatkan diri dengan penggemar di Asia dan memutuskan pindah ke Dubai setelah meraih emas Olimpiade pertamanya.

Di kota tersebut, Axelsen membangun pusat latihan mandiri yang turut membantu perkembangan sejumlah pemain, di antaranya Lakshya Sen, Brian Yang, dan Loh Kean Yew.

"Saya telah mencapai semua yang dulu saya impikan, bahkan lebih. Ini yang membuat perpisahan ini terasa paling berat bukanlah kompetisinya melainkan segala hal di sekitarnya – perjalanan, rutinitas harian, dan orang-orangnya," kata dia.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para penggemar atas dukungan yang diberikan sepanjang kariernya.

"Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan betapa berterima kasihnya saya kepada kalian semua. Dukungan kalian dari seluruh dunia sangat berarti bagi saya," tulisnya.

Meski pensiun dari panggung profesional, Axelsen menegaskan keterikatannya dengan bulu tangkis belum sepenuhnya berakhir.

"Ini memang perpisahan untuk Viktor Axelsen sebagai pemain bulu tangkis, tetapi bukan perpisahan saya dengan olahraga ini selamanya. Saya telah memberikan segalanya untuk bulu tangkis, dan bulu tangkis telah memberikan segalanya kembali kepada saya," tutupnya. (Ndf/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya