Suksesnya Sistem ERP di Singapura

14/6/2015 00:00
Suksesnya Sistem ERP di Singapura
(MI/Rommy Pujianto)
BERBEDA dengan pemberlakuan jalan berbayar (electronic road pricing/ERP) di DKI Jakarta yang masih menjadi kontroversi dan belum terlihat akan diimplementasikan dalam waktu dekat, di Singapura sistem tersebut telah sukses dilaksanakan.

Ya, negara kota yang didirikan oleh Lee Kuan Yew itu telah menerapkan ERP untuk mengurai kepadatan di jalan raya.

Semua kendaraan bermesin, baik roda dua maupun roda empat atau lebih, terkena kebijakan ERP itu dengan tarif yang berbeda-beda. Keberadaan ERP biasanya ada di dekat pusat bisnis Singapura.

''Dengan ERP ini memang kami harus membayar lebih bila menggunakan kendaraan pribadi ke tempat-tempat yang di jam sibuk selalu padat. Tapi itu cukup sebanding dengan yang kita dapatkan. Dengan adanya ERP, kepadatan pun jadi sedikit berkurang dan mobil dapat melaju dengan sedikit lebih kencang,'' kata Henry, seorang warga Singapura.

Adanya ERP membuat kebanyakan warga Sigapura memilih transportasi massal untuk melakukan aktivitas harian.

Maka, tak mengherankan bila pada jam kerja dan jam pulang kerja, moda transportasi massal selalu padat dipenuhi orang.

Bahkan terkadang ada imbauan bagi yang tidak berkepentingan tidak usah menggunakan transportasi publik itu.

ERP di Singapura sudah diimplementasikan sejak 1998 oleh Land Trasport Authority (LTA).

Namun, baru enam tahun terakhir penggunaan ERP diberlakukan masif di Singapura. Saat ini, tercatat ada sekitar 80 titik jalan di Singapura yang menggunakan sistem ERP.

Pemberlakuan ERP berbeda-beda di sejumlah ruas jalan tergantung tingkat kepadatan jalan.

Setiap kendaraan di Singapura harus menggunakan in-vehicle unit yang dipasang di kaca depan bagian kanan sebagai alat pembayaran ERP.

Dengan sistem itu, pengguna ERP langsung terpotong saldonya dalam kartu cashcard atau EZ-Link yang mereka punya.

Bila saldo tidak mencukupi, sang pengemudi yang data dirinya tercatat dalam surat izin mengemudi akan dikirimi surat ke rumahnya untuk melakukan pembayaran.

Meski banyak titik ERP di Singapura, masih banyak pula jalan yang tidak menggunakan sistem tersebut.

Namun, biasanya kepadatan akan sedikit menghambat perjalanan. Seperti yang saya alami ketika meminta sopir taksi yang saya tumpangi untuk menghindari ERP karena enggan membayar lebih ongkos taksi dengan melewati ERP.

Sang sopir pun langsung membawa saya berputar ke arah jalan yang tidak ada simbol atau gerbang ERP di atasnya.

Akibatnya, saya justru sedikit terlambat sampai ke tempat tujuan karena harus melewati sejumlah kemacetan.

(Gnr/R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya