SEJATINYA sejak keikutsertaan mereka di Copa America pada 1993, Meksiko selalu menjadi tim yang bersaing. Tengok saja prestasi mereka di turnamen empat tahunan itu.
Kecuali pada 2011, El Tri selalu lolos dari babak penyisihan grup. Bahkan pada 1993 mereka mampu menembus sampai partai puncak sebelum dijinakkan Argentina yang saat itu diperkuat Gabriel Batistuta.
Begitu pun di Piala Dunia 2014 lalu. La Verde--julukan lain Meksiko--tampil mengesankan dengan mengoleksi tujuh poin dari hasil bersaing dengan Kamerun, Kroasia, dan tuan rumah Brasil sebelum dijinakkan Belanda di fase knockout.
Persoalannya ialah skuat Meksiko kini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. El Tri kini banyak dihuni pemain tak berpengalaman karena dalam waktu dekat mereka juga akan mengikuti CONCACAF Gold Cup.
Jadi sang arsitek Miguel Herrera terpaksa harus membuat dua skuat yang terpisah. Apalagi Federasi Sepak Bola Meksiko (FMF) juga lebih memprioritaskan CONCACAF. Jadi boleh dibilang Copa America kali ini menjadi tantangan besar bagi Miguel Herrera.
Bahkan untuk menghadapi Bolivia pada laga pertama di babak penyisihan Grup A di Estadio Sausalito, Vina del Mar, Cile, hari ini, Meksiko disebut-sebut butuh kepercayaan lebih. Apalagi mereka baru saja menelan kekalahan dari Brasil dalam sebuah laga uji coba.
"Kami harus tenang dan mengerti bahwa timnya hanya tim alternatif. Jika mereka mampu masuk semifinal, itu akan menjadi pencapaian terbesar," kata mantan pemain Meksiko, Francisco Fonseca.
"Meski begitu, mereka harus menampilkan permainan terbaik dan melaju sejauh mungkin," imbuhnya.
Untuk menghadapi Bolivia, Herrera akan mengandalkan Raul Jimenez dan Javier Aquino. Bintang-bintang mereka seperti Javier Hernandez, Giovani dos Santos, dan Hector Herrera dikonsentrasikan untuk CONCACAF.
Di sisi lain, Bolivia juga tidak lebih baik kondisinya. Tim besutan Mauricio Soria itu bahkan baru sekali menang dari 16 pertandingan terakhirnya. (AP/AFP/R-1)