SELAMA 11 tahun melanglang buana ke penjuru Eropa, mulai dari Liverpool, Inter Milan, Chelsea, dan Napoli, Rafael Benitez kembali ke Kota Madrid, tempat dia lahir, dibesarkan, dan belajar bermain sepak bola.
Tak berlebihan jika Benitez yang ditunjuk sebagai pelatih baru Real Madrid untuk tiga tahun ke depan menggantikan Carlo Ancelotti senang.
Senang karena yang dilatih ialah Madrid, klub tempat Benitez belajar mengenal sepak bola semasa masih aktif bermain.
Dalam konferensi pers pertamanya, Benitez tak kuasa menahan air mata.
"Ini adalah bagian yang sulit, harus berbicara, tetapi tak benar-benar tahu apa yang harus dikatakan," ujar Benitez haru.
"Madrid ialah rumah saya. Sangat emosional bisa kembali. Saya harap itu berjalan baik, tim memainkan sepak bola berkualitas dan meraih trofi," tambahnya.
Sebagai pemain, kariernya sebagai pesepak bola profesional tak sementereng saat dia jadi pelatih saat ini.
Dia cuma mentok di level Real Madrid Castilla (1974-1981), sebelum bermain di Guardarmar, Parla, dan Linares.
Sempat melatih Osasuna, Extremadura, dan Tenerife, karier Benitez mulai terangkat saat dia ditunjuk membesut Valencia.
Di klub tersebut, Benitez memberi dua gelar La Liga dan satu Piala UEFA, sebelum memilih Liverpool pada 2004.
Kini, Benitez punya kesempatan untuk membuktikan jika Presiden Florentino Perez tidak salah memilihnya.
Akan tetapi, di Madrid khususnya dan klub-klub elite Eropa lainnya, gelar ialah suatu keharusan.
Jika tidak mendapatkan gelar, pencopotan pasti dilakukan klub.
Benitez menyadari hal itu.
"Saya tahu risiko yang harus saya jalankan. Pemecatan bisa terjadi kapan pun dan di mana pun," ujar pelatih berusia 55 tahun itu.
Penunjukan Benitez memang mengejutkan.
Pasalnya, sudah lebih dari satu dekade tidak ada pelatih Spanyol yang sukses bersama Real Madrid.
Apalagi Benitez sudah lama tidak menjuarai liga.
Pelatih Spanyol terakhir yang ditugasi membesut Madrid ialah Juande Ramos.
Sama seperti Lopez Caro, ia hanya punya waktu sekitar setengah musim.
Dikontrak pada Desember 2008, ia tidak diberi kontrak baru setelah kompetisi selesai di akhir Mei 2009.
Bagaimana Benitez? Terakhir kali ia memenangi liga domestik pada 2004 bersama Valencia.
Meski demikian, ia tergolong pelatih yang memiliki cukup banyak trofi, termasuk Liga Champions bersama Liverpool dan Piala UEFA/Europa League dengan Valencia dan Chelsea.
Adapun bersama Napoli, ia mendapat trofi Coppa Italia dan Piala Super Italia. Pelatih ke-12 Di Madrid, Benitez ialah pelatih ke-10 dalam 12 tahun terakhir sejak Perez menjadi bos klub ibu kota Spanyol itu.
Perez menjadi Presiden Madrid mulai 2000 menggantikan Lorenzo Sanz.
Kala itu, Vicente del Bosque yang sudah menjadi pelatih Madrid sejak 1999 masih menjabat.
Perez dikenal sebagai sosok yang kerap menyambut pelatih baru dengan perlakuan istimewa. Kali ini Perez bakal memberikan cek kosong alias dana tak terbatas untuk musim depan. (R-2)