Tekad Ahsan/Hendra di Istora

MI/Maggie Nuansa Mahardika
01/6/2015 00:00
Tekad Ahsan/Hendra di Istora
(MI/BARY FATHAHILAH)
SETELAH terpuruk di turnamen Australia Terbuka 2015, ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan membidik gelar juara di ajang BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015 yang dimulai hari ini. Gelar juara menjadi target ganda putra terbaik Indonesia saat ini tersebut.

Selain sebagai obat kekecewaan atas hasil di Australia, gelar juara kali ini juga akan menjadi penebus kegagalan di Indonesia Open 2014. Tahun lalu, Ahsan/Hendra gagal menjadi kampiun setelah di final kalah dari pasangan Korsel Lee Yong Dae/Yoo Yeon-seong 21-15, 21-17.

"Tentunya ingin hasil lebih baik dari Australia Open, ketika kami terhenti di babak pertama. Waktu itu, kami tidak dapat feel bermain, ini yang mesti kami perbaiki sehingga tidak terulang lagi di Indonesia Open," kata Hendra.

Di atas kertas, drawing bagi Ahsan/Hendra cukup menguntungkan karena tak banyak dihadang unggulan. Di babak pertama, pasangan yang menjadi unggulan tiga itu akan bertemu pasangan Inggris Andre Ellis/Peter Mills di babak pertama.

Jika lolos, juara dunia 2013 itu akan berhadapan dengan rekan senegara, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon Fernaldi. Di perempat final, lawan mereka mungkin ialah ganda Jepang unggulan enam Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.

Jika mulus, mereka diprediksi akan bertemu unggulan delapan asal Tiongkok Zhang Nan/Fu Haifeng di semifinal. Bila berhasil menembus final, ganda Korea Selatan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong mungkin akan menjadi lawan yang kembali harus dirobohkan.

Di sisi lain, keberhasilan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi menjuarai Singapore Open Super Series 2015 menerbitkan harapan baru. Di atas kertas, lawan berat baru akan mereka hadapi di babak perempat final, yakni Zhang/Fu. Angga sendiri berharap bisa tampil sebaik mungkin dan tak menampik menyimpan hasrat untuk kembali menjadi juara di turnamen itu.

Selain Ahsan/Hendra, peluang besar untuk merebut juara juga ditumpukan pada ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dari hasil undian, Owi/Butet mungkin baru akan memenui lawan berat di perempat final.

Walau peluang Owi/Butet merebut juara terbuka lebar, pelatih ganda campuran PP PBSI Richard Mainaky mengungkapkan tak mau terus membebani Tontowi/Liliyana dengan target emas. Ia menegaskan capaian besar keduanya harus diraih, yakni medali emas Olimpiade 2016.

"Lebih baik juara di turnamen-turnamen penting seperti yang sudah menjadi milestone PBSI saja seperti Kejuaraan Dunia, Super Series Final, lalu puncaknya di Olimpiade," ungkapnya.

Tunggal putra
Di tunggal putra, dua pemain muda Jonatan Christie dan Ihsan Maulana Mustofa menegaskan akan berusaha tampil maksimal. Keduanya ingin memanfaatkan ajang super series kali ini sebaik mungkin.

"Bertanding di Istora itu rasa-nya amazing, penontonnya luar biasa! Tahun lalu saya baru bermain di partai ekshibisi, tahun ini sudah bisa tanding, semoga hasilnya baik," kata Jonatan.

Jonatan dan Ihsan sama-sama mesti berjuang dari babak kualifikasi. Di laga perdana, Jonatan akan menghadapi pemain Indonesia lainnya, Firman Abdul Kholik. Sementara itu, Ihsan ditantang Muhammad Arif Abdul Latif dari Malaysia.

"Saya mesti bermain sabar kalau ingin menang dari Arif. Dia pemain yang ulet, ke mana pun bola pasti dikejar," ujar Ihsan. (R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya