PASCASANKSI FIFA terhadap PSSI, Kemenpora merespons dengan langkah-langkah konkret agar persepakbolaan nasional tidak lama terkucil di dunia internasional. Selain segera menggelar Kongres PSSI, dalam waktu dekat akan digelar kompetisi, baik amatir maupun profesional.
Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, menyatakan kompetisi itu tidak semata-mata terkait dengan teknis persepakbolaan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, dan dimensi dinamika kemaslahatan umum yang menyertainya.
"Kepada para pemain diharapkan tidak khawatir. Pemerintah berkomitmen untuk kembali menggulirkan kompetisi dengan standar dan kualitas yang lebih baik sehingga hak dan kewajiban pemain, pelatih, dan perangkat pertandingan dapat terpenuhi secara lebih baik," tegasnya.
Menurut Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga M Khusen Yusuf, kompetisi yang rencananya digelar seusai Lebaran ini akan menjadi langkah awal sebelum Tim Transisi menggelar kompetisi lanjutan seperti ajang pramusim dan kompetisi liga pada tahun depan. Kompetisi liga pun direncanakan akan disesuaikan dengan kalender AFC yang memulai kompetisi pada Januari dan berakhir pada Oktober.
"Kita menekankan tata kelola kompetisi yang lebih transparan dan minim mafia bola. Potensi pihak-pihak yang mencari untung dengan mengabaikan fair play harus dihindari," tukasnya. Tentang format kompetisi hingga operator kompetisi sampai saat ini belum ditetapkan. Namun, proses bidding operator rencananya dilakukan pekan depan. Sebelumnya, PT Liga Indonesia menolak menjadi operator karena posisinya di bawah PSSI.
Selain menyiapkan kompetisi liga, pada tahap awal Tim Transisi juga merencanakan menggelar turnamen Piala Kemerdekaaan memperebutkan Piala Presiden. Menurut anggota Tim Transisi Diaz Hendropriyono, pendaftaran peserta dilakukan pada 1-22 Juni ini.
Pada kesempatan terpisah, Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar berharap kompetisi itu benar-benar terealisasi dalam waktu dekat. "Jika kompetisi tidak bergulir, tidak hanya Persib dan klub-klub lain yang rugi, tetapi juga pemain dan masyarakat pecinta sepak bola," ujarnya.
Umuh mengakui, akibat sanksi FIFA, dirinya harus memikirkan nasib para pemain. Menurutnya, hal itu akan dibahas bersama jajaran pengurus Persib sesegera mungkin.
"Jangan sampai pemain terkatung-katung nasibnya," keluhnya. Sebelumnya, Komite Eksekutif FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSSI karena dinilai melanggar statuta. Sanksi itu berupa larangan bertanding di turnamen internasional dan tidak mendapat bantuan dari FIFA dan AFC dalam bentuk dana, program (Media Indonesia, 31/5). Curiga palsu Saat menanggapi surat FIFA, Menpora Imam Nahrawi mencurigai surat itu tidak asli alias palsu. "Saya belum membaca surat tersebut karena suratnya tidak langsung kepada saya. Bisa saja surat itu palsu," katanya saat berkunjung ke Subang, Jawa Barat, kemarin.
Kecurigaan akan keaslian surat dari FIFA tersebut juga diutarakan anggota Tim Transisi Rudy Rudiatmo. "Ketika banyak pejabat FIFA ditangkap FBI karena kasus korupsi, tentu sanksi ini perlu ditelusuri keabsahannya," ujar Rudy di Solo, kemarin.
Sementara itu, anggota Tim Transisi Cheppy T Wartono mengaku siap membuka 'dosa-dosa' PSSI selama ini. Ia membocorkan sedikit kasus bantuan FIFA untuk membuat lapangan yang kemudian dialihkan PSSI ke daerah lain yang dimiliki sosok tertentu. "Laporan masyarakat itu nanti kami kumpulkan dan kemudian akan kami proses ke pihak kepolisian," pungkasnya. (RZ/WJ/Ant/X-5)