Skandal FIFA Bekal Tim Transisi Bersihkan PSSI

MI/Gnr/Sat/Beo/AFP/X-9
30/5/2015 00:00
Skandal FIFA Bekal Tim Transisi Bersihkan PSSI
(AFP)
SKANDAL korupsi di tubuh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjadi landasan penting bagi Tim Transisi bentukan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi untuk menyelisik lebih jauh dugaan pelanggaran di tubuh PSSI. Anggota Tim Transisi, Zuhairi Misrawi, mengatakan skandal di FIFA serupa dengan dugaan di PSSI. "Apa yang terjadi di FIFA hampir mirip dengan yang terjadi di PSSI. Misalnya terkait dengan sponsorship, lalu juga hak siar yang pendapatannya digunakan untuk apa. Kuncinya ialah soal transparansi," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Transparansi di PSSI pernah digugat di Komisi Informasi Pusat yang akhirnya meminta PSSI membuka data keuangannya kepada publik karena lembaga yang berdiri pada 1948 itu merupakan salah satu badan publik. Namun, PSSI menyatakan banding hingga kasasi. Zuhairi menambahkan, Tim Transisi akan mengeksplorasi temuan Tim Sembilan yang telah dibubarkan Menpora terkait dugaan pelanggaran di PSSI. Pihaknya berkoordinasi dengan penegak hukum untuk menindaklanjuti temuan itu.

Anggota Tim Transisi lainnya, Cheppy Wartono, menegaskan, sesuai dengan SK Menpora, 13 anggota tim tetap bekerja meski dalam putusan sela, PTUN Jakarta memerintahkan SK pembekuan PSSI ditunda. Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso pun menegaskan pihaknya siap turun tangan. "Kalau memang ada laporannya, kita akan tangani. Sementara ini kami hanya dengar kabar ada penyimpangan dana ini dan itu di PSSI."

Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti meminta berbagai pihak tidak mengaitkan skandal di FIFA dengan PSSI. "Penangkapan pejabat FIFA terkait bidding tuan rumah Piala Dunia. Kecurangan pada bidding atau lelang dapat terjadi di mana saja dan di institusi mana pun, bukan hanya di sepak bola. Jadi jangan kait-kaitkan hal ini dengan PSSI," katanya seperti dilansir situs PSSI, kemarin.

Terungkapnya skandal korupsi menjadi perhatian utama dalam Kongres FIFA di Zurich, Swiss, kemarin, dengan agenda utama pemilihan presiden baru. Hingga berita ini diturunkan pukul 22.30 WIB tadi malam, belum diketahui siapa yang terpilih, Sepp Blatter atau Pangeran Ali bin Al Hussein. Kongres cukup memanas, bahkan diwarnai ancaman bom.

Dalam pidato pembukaan kongres, Blatter mengatakan kesiapannya untuk memperbaiki FIFA. "Tidak ada tempat untuk segala jenis korupsi di FIFA. Kami telah kehilangan kepercayaan di mata publik dan sebagian dari kami harus mendapatkan kembali kepercayaan itu," kata Blatter yang memimpin FIFA sejak 1998.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya