TEMPAT di unggulan kelima menjadi tanda bahwa perlu kerja sangat keras bagi Indonesia agar bisa meraih gelar di ajang beregu campuran Piala Sudirman 2015 yang akan dihelat di Dongguan, Tiongkok, pada 10-17 Mei mendatang. Amunisi dalam skuat yang belum ideal tak membuat Indonesia patah arang menghadapi empat pesaing berat yang lebih diunggulkan, yakni Tiongkok sebagai unggulan utama, Korea Selatan (2), Denmark (3), dan Jepang (4).
Piala Sudirman sesungguhnya memiliki arti lebih bagi Indonesia karena nama kejuaraannya sendiri diambil dari nama salah satu pendiri Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), yakni Dick Sudirman. Ironis, dari 13 kali perhelatan, Indonesia baru bisa juara satu kali yaitu pada perhelatan perdana, 1989. Setelah itu, Indonesia paling baik hanya mentok menjadi runner-up (1991, 1993, 1995, 2005, dan 2007). Pada perhelatan terakhir, 2013, Indonesia bahkan tak mampu menembus semifinal.
Pada awal tahun, misi besar dibidik pengurus PBSI yaitu menjadi juara. Namun, seiring dengan bergulirnya waktu, target itu terdegradasi menjadi lolos ke final. Hal itu dipengaruhi juga oleh para senior tunggal putra di pemusatan latihan, Tommy Sugiarto dan Simon Santoso, yang memutuskan mundur dari pelatnas.
Hasil undian menempatkan Indonesia tergabung di Grup C bersama Denmark dan Inggris (lihat grafik).
Manajer tim Indonesia untuk Piala Sudirman 2015, Rexy Mainaky, menuturkan untuk mencapai final, pihaknya mengincar posisi untuk menjadi juara grup terlebih dahulu. "Dengan menjadi juara grup, amat mungkin kita terhindar dari tim-tim kuat dari grup-grup lain. Saat ini kami lihat Denmark lawan paling berat di grup, tetapi masih imbang," ungkapnya.
Denmark menjadi benteng paling kukuh untuk ditembus. Bila tim Denmark tampil dengan komposisi ideal, para pemain Indonesia akan berhadapan dengan atlet papan atas seperti ganda putra Mathias Boe/Carsten Mogensen, ganda putri Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl, ganda campuran Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dan tunggal putra Jan O Jorgensen.
Menurut Rexy, Indonesia bisa mencuri poin di nomor ganda. "Kalau tunggal putra, peluangnya sangat berat karena yang kita kirim pemain muda yang kelasnya masih jauh dengan Jorgensen atau (Viktor) Axelsen. Tunggal putri kita memang tidak menonjol, tetapi Denmark juga tidak punya pemain putri yang menonjol. Namun begitu, Inggris tidak bisa diremehkan, terutama tunggal putra Rajiv Ousev, dia cukup tangguh," kata Rexy yang pernah beberapa tahun melatih tim nasional Inggris itu.
Dalam masa persiapan, tiba-tiba tersiar kabar lima pemain top Denmark, yakni Boe, Mogensen, Pedersen, Nielsen, dan Juhl, dicoret dari tim nasional karena berkonflik dengan sponsor tim. Tentu saja tim Denmark akan lebih mudah dikalahkan jika tak ada mereka.
Dengan memandang hal tersebut, Rexy tak mau anak-anaknya lengah karena pemain pelapis kadang bermain sangat bagus karena tak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Mantan atlet bulu tangkis Christian Hadinata menilai Denmark memang kuat dari segi materi pemain. "Akan tetapi, sejarah menunjukkan rekor Denmark di kejuaraan beregu kurang bagus. Apa pun bisa terjadi di bulu tangkis, tim Jepang saja juara dengan menyisihkan Tiongkok di semifinal Piala Thomas 2014. Jadi yang penting persiapan dan optimisme harus dijaga," ungkapnya.
Jika lolos ke final, mungkin Indonesia akan berhadapan dengan TiongÂkok yang selama ini mendominasi gelar Piala Sudirman. Sektor ganda yang digawangi Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari menjadi tumpuan untuk mencuri poin.
Pelatih ganda putra Aryanto mengatakan Ahsan/Hendra tahun ini berada dalam performa yang cukup baik mengingat keduanya punya misi kembali menjadi nomor satu. Pelatih ganda campuran Richard Mainaky mengatakan ia punya strategi tersendiri untuk dijalankan Tontowi/Liliyana. "Biar saja Tontowi/Liliyana bersembunyi di balik kekalahan mereka saat ini. Saya selalu bilang, mereka incar juara di turnamen yang penting-penting saja, termasuk Piala Sudirman. Saya tidak mau mereka jadi juara terus dan tahun depannya menurun. Mereka bertahun-tahun jadi tumpuan. Apa enggak butek tuh? Biar saya yang kerja keras meracik strateginya. Strategi itu sudah dicoba di Singapore Open dan Malaysia Open dan cukup berhasil. Namun, itu melelahkan, jadi harus simpan tenaga buat lawan pemain berat saja seperti Zhang Nan/Zhao Yunlei. Kalau pelapisnya, Xu Chen/Ma Jin, saya lihat tidak dalam performa yang baik," kata dia.
Kesempatan pemain junior Peraih emas Olimpiade 2004 Athena Taufik Hidayat menuturkan keputusan PBSI untuk memasukkan tiga nama pemain tunggal putra muda (Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, dan Firman Khalik) sangat tepat. "Kalau saya lihat, tunggal putra yang senior pun tidak menjanjikan dalam persaingan dunia. Daripada dikirim terus kalah juga, lebih baik kasih kesempatan buat yang muda-muda. Selain (pemain muda) punya tabungan pengalaman, masyarakat juga lebih maklum kalau mereka kalah," kata dia, beberapa waktu lalu.
Sadar bahwa beban ketiga anak binaannya berat, pelatih tunggal putra nasional Hendri Saputra mengatakan ia berusaha mengarahkan ketiganya agar tetap berpikir positif. "Saya tekankan tidak perlu berpikir menang atau kalah, toh lawan di atas mereka semua levelnya. Yang penting mereka bisa mengimbangi. Namun, bukan berarti mereka tidak harus bertanggung jawab, mereka harus serius mempersiapkan diri."
Untuk latihan, Hendri fokus menjaga stamina dan fokus di lapangan. "Pemain muda rata-rata masih sering kehilangan fokus, apalagi dalam keadaan memimpin poin, agar tidak mudah dikejar. Saya optimistis mereka mampu, kalau dari segi fisik, kondisi mereka sangat baik," jelas Hendri.
Tanggung jawab dan beban tak bisa dibantah para pemain muda, termasuk Jonatan. Saat ini, dialah tunggal putra dalam tim yang memiliki peringkat paling baik, yakni di nomor 63 dunia. "Memang sebenarnya lebih enak kalau ada senior, terutama ketika latihan biar ada yang membimbing. Sekarang saya latihan sangat serius, ini kesempatan sangat besar buat saya. Kapan lagi bisa berhadapan dengan pemain-pemain papan atas?" ungkapnya.
Saking ia bersemaÂngat, Piala Sudirman sampai terbawa-bawa dalam mimpinya. "Tidak bisa dimungkiri, saya ingin jadi tunggal pertama. Saya sampai mimpi melawan Jorgensen. Saya juga mimpi melawan Chen Long (Tiongkok). Bahkan saya ingat skornya, saya kalah dalam rubber game. Skor terakhirnya 17-21. Ini akan saya imani saja, siapa yang lebih dia yang akan menang kan," ujar Jonatan. (R-3)