Atlet Muda Butuh Jam Terbang

M Taufan SP Bustan
12/3/2019 05:40
 Atlet Muda Butuh Jam Terbang
(Antara)

 KESUKSESAN pasangan ganda putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjuarai All England 2019 menjadi pelajaran bagi Pengurus Pusat Persatuan Badminton Seluruh Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Kabid Binpres PP PBSI Susy Susanti dalam evaluasinya, kemarin.

Menurut Susy, meski sejumlah atlet pelatnas yang diturunkan belum berhasil meraih gelar juara, secara keseluruhan khususnya pemain muda dinilai memiliki progres. Terbukti, tahun lalu Indonesia hanya meloloskan satu wakil ke semifinal, sedangkan tahun ini ada tiga.

"Persoalannya lebih pada pengalaman, ketenangan, yang bisa menentukan si atlet itu bisa tampil sampai akhir. Apalagi di turnamen bergengsi seperti All England. Artinya, para atlet kita masih butuh jam terbang," kata Susy dalam siaran persnya, kemarin.

Ia mencontohkan pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian. Seandainya mereka lebih percaya diri dan konsisten, bukan tidak mungkin terjadi all Indonesian finals di ganda putra. "Mereka tinggal butuh ketenangan, kematangan, dan jam terbang."

"Secara pukulan, permainan, sebetulnya sudah mulai bagus, sudah mulai naik, tapi harus lengkapi di nonteknisnya. Dari servis, poin-poin kritis, ada beberapa hal yang harus dibenahi," tegasnya.

Terlepas dari itu, lanjut Susy, kesuksesan Hendra/Ahsan juga memberikan semangat baru bagi Indonesia menuju Olimpiade Tokyo 2010. Sebabnya, mereka kini tidak lagi hanya bergantung kepada pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

"Sekarang kita punya Hendra/Ahsan, Fajar/Rian. Jadi, di ganda putra kita bisa lebih percaya diri. Tapi tetap kerja keras lagi karena di sektor lain masih belum, sekarang persaingan ketat, kami harus mempersiapkan atlet lagi."

"Ganda campuran ada harapan. Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow sudah bagus meski baru dipasangkan di dua turnamen. Lalu Praveen/Melati juga tinggal butuh strategi," ujarnya.

Menyoal status Hendra/Ahsan yang sebagai atlet profesional, PBSI, kata Susy, tidak masalah. PBSI tetap menganggap mereka atlet pelatnas. Apalagi mereka juga kerap berlatih bersama atlet-atlet pelatnas. "Kami tidak pernah menganggap mereka sudah di luar. Tetap menganggap mereka sebagai anak-anak kami."

Jadi anutan

Pelatih sektor ganda putra pelatnas Herry Iman Pierngadi menyebut para pemain junior harus belajar banyak dari Hendra/Ahsan bagaimana mereka mampu menjaga mental bertanding. Betapa tidak? Keduanya mampu menghadapi lawan yang lebih muda meski dalam kondisi yang kurang bagus.

"Hendra/Ahsan belum habis. Hal yang harus ditiru dari mereka adalah sikap yang tidak pernah menyerah dalam pertandingan," kata Herry.

"Mereka punya mental juara walaupun kondisi fisik mereka tidak prima dan ketinggalan pada gim pertama. Mental juara mereka memang sudah kelihatan," imbuhnya.

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun itu setelah meraih gelar juara All England pada 2014. Pada 2014, Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 di final.

Keberhasilan Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada 2019 menjadi kesuksesan Indonesia untuk tetap mempertahankan gelar All England pada nomor ganda putra setelah pasangan Kevin/Marcus meraih gelar pada 2017 dan 2018. (R-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya