Harus Turunkan Level Testosteron

(BBC/R-3)
15/2/2019 08:00
Harus Turunkan Level Testosteron
( (Photo by Michal CIZEK / AFP))

SEDERET prestasi telah ditorehkan pelari jarak menengah Caster Semenya. Pelari berusia 28 tahun asal Afrika Selatan itu telah mengoleksi dua medali emas nomor lari 800 meter Olimpiade dan tiga medali emas untuk nomor yang sama di Kejuaraan Dunia Atletik.

Yang cukup spekatuler, Semenya juga mencetak rekor baru dunia nomor lari 600 meter dengan catatan wakt 1 menit 21,77 detik. Tak hanya itu, dia juga memperbaiki rekor di negaranya untuk nomor lari 400 meter, 800 meter, 1.000 meter, dan 1.500 meter.

Belasan medali emas dari berbagai kejuaraan dari level Afrika dan multievent persemakmuran telah diraih Semenya.

Namun dengan penampilannya yang tampak maskulin, prestasi Semenya sebagai atlet putri kerap diperta-nyakan soal genderi- tasnya.

Setelah merebut medali emas lari 800 meter pada Kejuaran Dunia Atletik di Berlin, Jerman, banyak kalangan meragukan jika Semennya sebagai atlet putri.

Semenya pun menarik dari berbagai kompetisi atletik. Setelah tes gender untuk mengukur level testosteronnya, Federasi Asosiasi Atletik Internasional (AAAF) kembali mengizinkan Semenya berlaga mulai 6 Juli 2010.

Berdasarkan tes medis bahwa level normal testosteron pada laki-laki berkisar antara 9,71-38,71 nmol/L, sedangkan level normal testosteron pada perempuan berkisar antara 0,5-2,43 nmol/L.

IAAF memiliki ketentuan bahwa atlet putri harus memiliki level hormon androgen tinggi (hyperandrogenism) untuk berkompetisi di atletik.

Persoalan Semenya pernah dialami atlet voli Indonesia Aprilia Manganang. Aprilia yang pernah menggeluti atletik pernah dimasalahkan dengan level testosteronnya yang tinggi.

Setelah berlalu 10 tahun, genderitas Semenya kembali diusik. Dia kembali dituduh sebagai atlet putra setelah pengacara IAAF menyatakan bahwa Semenye adalah lelaki kepada the Times.

Untuk memastikan itu, Pengadilan Arbitrasi untuk Olahraga (CAS) akan melakukan membahas nasib Semenya pekan depan.

"Ka-rena itu, (Semenya) untuk bisa tetap berlaga di kompetisi yang fair di kategori putri perlu memenuhi syarat DSD (standar pembeda gender) dengan mengurangi level testoteron sama dengan level testoteron normal perempuan," jelas pihak IAAF.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya