Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DARI turnamen grand slam Australia Terbuka 2019 tersisa banyak hal menarik yang menjadi sorotan. Perbincangan dari Rod Laver Arena, Melbourne, Australia, itu ialah soal NextGen.
NextGen ialah sebutan petenis belia yang mencapai babak delapan besar hingga babak semifinal dan berpotensi untuk menjadi bintang tenis di masa mendatang. Salah satu petenis yang masuk kategori tersebut yakni Stefanos Tsitispas.
Sebelumnya petenis berusia 20 tahun asal Yunani itu belum begitu dikenal. Tiba-tiba popularitasnya meroket. Saat memasuki babak 16 besar Australia Terbuka 2019, tak diduga Tsitsipas menumbangkan sang juara bertahan dan pemegang enam gelar Australia Terbuka, Roger Federer, dari Swiss.
Setelah mengalahkan petensi nomor tiga dunia dengan skor 6-7 (11-13), 7-6 (7-3), 7-5, 7-6 (7-5), Tsitsipas pun langsung dijuluki the Giant Killer.
Ternyata Tsitsipas sangat mengidolakan Federer, petenis berusia 37 tahun yang mengoleksi 20 gelar grand slam. Bahkan petenis yang dilatih ayahnya, Apostolos Tsitsipas, itu telah mengidolakan Federer sejak masa kanak-kanak.
Pertanyaannya, apa kunci Tsitsipas bisa mengalahkan idolanya sendiri? Ternyata Tsitsipas kerap menonton video daring Youtube pertandingan Federer.
Tiada hari bagi Tsitsipas menonton gaya permainan Federer di Youtube. Salah satu video Youtube favoritnya ialah aksi Federer mengalahkan petenis Pete Sampras pada turnamen Wimbledon 2001.
Dengan seringnya menonton sang idola, Tsitsipas memahami gaya permainan Federer. Bahkan gaya mengayun raket dan bermainnya juga banyak meniru Federer.
Soal gaya bermain dan perjalan karier Tsitsipas diungkapkan wartawan Yunani Vicky Georgatou.
“Saat saya pertama melihat dia bermain, saya yakin dia akan menjadi petenis besar,” kata Georgatou kepada BBC Sport.
“Saat itu banyak anak akan bermain dengan pukulan backhand dua tangan, saya lihat dia bermain dengan pukulan backhand dengan satu tangan (mirip gaya Federer),” kata Georgatou.
“Dia memiliki variasi permainan, dia bisa bermain di depan net, dia melakukan pukulan voli dan melakukan permainan tak terduga,” jelas Georgatou,
“Kadang-kadang gayanya mengingatkan saya kepada Federer. Mungkin itu dampak dia sering melihat video Federer,” kata Georgatou. (BBC/R-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved