Pesan Butet, yang Memalukan itu ialah Menyerah

M Taufan SP Bustan/X-8
28/1/2019 08:40
Pesan Butet, yang Memalukan itu ialah Menyerah
SALAM PERPISAHAN: Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir (Butet) melambaikan tangan ke arah penonton sebagai salam perpisahan seusai pertandingan fi nal Daihatsu Indonesia Master 2019 di Istora Senayan, Jakarta, kemarin. Butet mengakhiri k(MI/RAMDANI)

BERAKHIR sudah narasi panjang Liliyana Natsir di dunia bulu tangkis. Setelah 24 tahun berkiprah, setelah menyabet seabrek gelar, setelah berulang kali mengharumkan nama bangsa dan negara, dia resmi gantung raket.

Butet, demikian Liliyana biasa disapa, tak dapat menyembunyikan kesedihan dan keharuan tatkala ribuan penonton di Istora Senayan, Jakarta, menggemakan namanya, kemarin. Dengan suara terbata, dia mengucapkan selamat tinggal kepada olahraga tepok bulu yang membesarkan namanya itu.

"Hari ini adalah momen yang paling berat bagi saya, 24 tahun saya di bulu tangkis. Semua telah dilewati, baik suka, duka, tangis, dan tawa," ucap Butet. Dia beberapa kali menyeka air mata.

Acara perpisahan untuk Butet digelar menarik dengan tema Liliyana Natsir's farewell event, tepat sebelum laga final Indonesia Masters 2019. Kedua orangtua Butet, Beno Natsir dan Olla Maramis, ikut menjadi saksi. Pun dengan 17 atlet pelatnas yang menggambarkan 17 tahun Butet berada di Pelatnas PBSI Cipayung.

"Tibalah di mana saya harus menyatakan pensiun sebagai atlet profesional bulu tangkis. Hari ini, Minggu, 27 Januari 2019. Saya tak akan bisa menjadi atlet bulu tangkis tanpa dukungan kalian dan mereka semua," ungkap Butet disambut gemuruh tepuk tangan.

Bulu tangkis, tutur kelahiran Manado, 9 September 1985 itu, telah membawa namanya tenar di seluruh dunia. "Saya tidak pergi menjauh, tapi memberikan kesempatan kepada adik-adik untuk menjadi pemenang baru."

Kepada penerusnya, Butet berpesan untuk tidak mudah putus asa. Kekalahan, ucap dia, bukanlah hal yang memalukan. "Yang memalukan itu ialah menyerah. Tekun berlatih dan raihlah prestasi," tandasnya.

Setelah pensiun dari bulu tangkis, Butet akan menikmati hidup dengan liburan. Setelah itu, dia akan fokus membesarkan bisnisnya, seperti di bidang properti dan massage.

Saat ditanya apakah nantinya ingin kembali ke bulu tangkis sebagai pelatih, misalnya, Butet belum bisa menjawab pasti. Yang pasti, dia tak mungkin melupakan bulu tangkis.

Butet mulai mengakrabi olahraga bulu tangkis pada usia 9 tahun dan masuk pelatnas pada 2002. Sejak itu, seabrek gelar diraup, baik di ganda putri maupun ganda campuran. Bersama Nova Widianto, umpamanya, Butet menjadi juara dunia 2005 dan 2007, serta meraih medali perak Olimpiade 2008 Beijing. Lalu, bersama Tontowi Ahmad, dia berjaya di Kejuaraan Dunia 2013 dan 2017, serta merebut medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Butet sebenarnya berpeluang menutup kiprah dengan manis. Sayang bersama Tontowi, dia kalah dari Zheng Siwei/Huang Yaqiong 21-19, 19-21, 16-21 di final Indonesia Masters, kemarin. (M Taufan SP Bustan/X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya