Indonesia Torehkan Tinta Emas di Multiajang Asia

(Rul/R-3)
05/12/2018 00:45
Indonesia Torehkan Tinta Emas di Multiajang Asia
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

TAHUN 2018 menjadi tahun yang bersejarah bagi dunia olahraga Indonesia. Setelah mengalami kemorosotan prestasi dalam beberapa dekade terakhir, para pahlawan olahraga dapat kembali bertaji dan memberikan prestasi terbaik bagi negeri.

Mereka berhasil membuktikan bahwa prestasi tak lagi hanya sekadar mimpi. Seolah menebus rasa bersalah atas pencapaian yang buruk pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, para atlet berjuang mati-matian untuk mengharumkan nama Indonesia di Asian Games 2018.

Mereka mempertahankan harga diri bangsa yang kali ini berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan multiajang terbesar di Asia tersebut. Sebanyak 98 medali dengan rincian 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu dipersembahkan kontingen ‘Merah Putih’ dalam ajang yang bergulir di Jakarta-Palembang pada 18 Agustus-2 September lalu.

Perestasi tersebut sekaligus menegaskan tercapainya target 10 besar yang semula dicanangkan pemerintah. Indonesia akhirnya menembus posisi empat besar di bawah para raksasa Asia dan Tiongkok yang keluar sebagai juara umum dengan 132 emas, 92 perak, dan 65 perunggu. Selain itu, Jepang di posisi kedua dengan 75 emas, 56 perak, dan 74 perunggu, serta Korea Selatan di posisi ketiga dengan 49 emas, 58 perak dan 70 perunggu.

Torehan tersebut menjadi pencapaian terbaik dalam sejarah partisipasi Indonesia di multiajang Asian Games. Meskipun ketika menjadi tuan rumah 1962, Indonesia menduduki posisi runner-up klasemen, medali yang diraih hanyalah 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu.
Pemerintah Indonesia pun tampaknya tak setengah-setengah dalam mempersiapkan gelaran pesta olahraga terbesar di Asia tersebut. Berbagai infrastruktur, venue, dan fasilitas olahraga diperbarui sesuai dengan standar internasional.

Khusus prestasi, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bahkan mengubah sistem penyaluran anggaran mereka. Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dibubarkan 10 bulan sebelum Asian Games 2018 berlangsung demi memotong alur birokrasi anggaran yang mempermudah pencairan dari Kemenpora langsung ke pengurus cabor.

Tak hanya itu, bonus bagi para peraih medali pun ditingkatkan hingga berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan multiajang Asian Games sebelumnya. Bonus sebesar Rp1,5 miliar bagi peraih emas, Rp500 juta untuk perak, dan Rp250 juta untuk  perunggu, jabatan pegawai negeri sipil (PNS), serta sebuah rumah bagi peraih emas merupakan apresiasi tertinggi yang diberikan pemerintah Indonesia.

Hal itu diharapkan dapat memacu dan memicu atlet Indonesia di level-level kejuaraan internasional selanjutnya. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menganggap, kejayaan para atlet Indonesia sepatutnya tidak berhenti di Asian Games.

Masih ada target tertinggi yang harus dicapai, yakni Olimpiade Tokyo 2020. Imam menyadari, pencapaian medali terbanyak Indonesia diraih dari luar cabor Olimpiade. Cabang-cabang Olimpiade yang mencatat prestasi di Asian Games 2018 hanya angkat besi, bulu tangkis, rowing (dayung), tenis, taekwondo, dan karate.

"Perjuangan atlet Indonesia seharusnya tidak berhenti di sini. Masih ada Olimpiade 2020, Asian Games 2022 yang menjadi orientasi besar pemerintah Indonesia, dan SEA Games 2019 di Filipina yang menjadi batu loncatan pencapaian Olimpiade 2020," ujar Menpora.

Kesuksesan prestasi 'Merah Putih' dibarengi dengan kesuksesan penyelenggaraan. Meski hanya memiliki masa persiapan yang singkat, yaitu 2,5 tahun sejak Maret 2016, penyelenggaraan dianggap sukses dan mendapat pujian dari Dewan Olimpiade Asia (OCA), serta para tamu negara.

Bahkan, kesuksesan penyelenggaraan di Asian Games 2018 membuat Indonesia mendapat kepercayaan dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk menjadi kandidat penyelenggara Olimpiade 2032 mendatang. Ketua Panitia Pelaksana Asian Games (2018) meyakini, Indonesia dapat menggelar pesta olahraga terbesar di dunia tersebut.

"Kami optimistis bisa, kalau tidak yakin, mengapa kami tetap berusaha menggelar Asian Games kendati hanya dua tahun persiapan. Meskipun perlu adanya pembenahan agar bisa memenangi pengajuan itu," Ketua Panitia Asian Games 2018 (Inasgoc) Erick Thohir.

"Kami tidak pernah tahu bagaimana prosesnya, tetapi saya berharap ketua pengurus cabang bisa agresif untuk mengajukan tuan rumah event besar karena kita punya sejumlah venue yang berkualitas. Palembang contohnya sebagai kota yang bisa terus berkelanjutan menjadi tuan rumah event besar," tandas Erick.

Batu Loncatan
Dalam waktu dekat Indonesia akan kembali menghadapi tantangan di level Asia Tenggara. SEA Games 2019 di Filipina akan berlangsung pada akhir tahun depan.

Meski demikian, lagi-lagi Kemenpora menganggap prestasi di SEA Games tak lagi menjadi prioritas. Mereka berencana untuk mengirimkan atlet-atlet junior dengan jumlah 60% lebih banyak jika dibandingkan dengan atlet senior.

Para atlet elite hanya menjadikan SEA Games sebagai uji coba demi menghadapi tantangan lain, yaitu kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020 dan Olimpiade Tokyo itu sendiri.

"Kalau lihat jumlah cabor yang lebih dari 40 cabor, kayaknya kita berpikir ulang untuk mengikuti semua pertandingan sehingga hanya cabor prioritas saja yang diturunkan. Belum lagi nomor pertandingannya banyak atau tidak, kalau tidak sorotan publik pasti nanti kayak keliatan menghabis-habiskan anggaran saja," ujar Gatot S Dewabroto, Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga.

"Karena mereka yang sudah juara di Asian Games, kalau sampai tidak juara di SEA Games, pasti akan merepotkan Kemenpora, KOI, dan KONI juga. Karena masyarakat kan taunya harusnya mereka juara di Asia Tenggara karena sudah juara di Asia.

Sementara faktanya, dalam pertandingan apa saja bisa terjadi sehingga untuk mempertahankan gengsi saya sarankan pada Kemenpora untuk turunkan atlet pelapis saja, yang elite biar fokus di kualifikasi dan Olimpiade," tambahnya.

Cetak banyak rekor
Selain dianggap sukses menggelar Asian Games 2018, Indonesia juga mendapat respons positif terhadap penyelenggaran Asian Para Games 2018. Terciptanya banyak rekor menjadi sejarah dalam penyelenggaraan Asian Para Games, salah satunya negara partisipan terbanyak dari tiga edisi. Kali ini, sebanyak 2.762 atlet dari 43 negara ikut berpartisipasi memperebutkan total 512 medali dari 18 cabang olahraga.

Tak hanya itu, para atlet disabilitas Indonesia juga sukses mencetak sejarah prestasi dengan meraih total 135 medali dengan rincian 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu. Ketua Panitia Pelaksana Penyelenggara Asian Para Games 2018 (Inapgoc) Raja Sapta Oktohari mengklaim, pesta kali ini menjadi yang terbaik dalam sejarah penyelenggaraan.

"Penyelenggaraan luar biasa, artinya kita sudah berupaya maksimal untuk memberikan yang terbaik dan alhamdulillah kita dapat apresiasi dari semua pihak. Dari Asian Paralympic Committee (APC), dari semua kontingen, dari semua respons yang kita dapat, kayaknya ini Asian Para Games yang terbaik yang pernah ada," pungkasnya. (Rul/R-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya