Indonesia Tolak Ikut Bidding Event Internasional Bulutangkis

Nurul Fadillah
29/11/2018 13:50
Indonesia Tolak Ikut Bidding Event Internasional Bulutangkis
(ANTARA)

PENGURUS Pusat Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memilih tidak mengikuti bidding atau pengajuan tuan rumah untuk penyelenggaraan turnamen internasional milik Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) pada edisi 2019-2025. 

Pasalnya, kebijakan federasi bulu tangkis dunia tersebut dinilai memberatkan negara penyelenggara.

Terdapat enam turnamen yang masuk ajang besar BWF, yaitu Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Dunia Veteran, Kejuaraan Dunia Junior, Piala Suhandinata (Kejuaraan Dunia Junior Beregu), Piala Thomas dan Uber, serta Piala Sudirman. 

Dalam tiap ajang tersebut, BWF memberlakukan pembagian komersian 80%-20% dalam arti mayoritas sponsor dikendalikan penuh oleh BWF, sementara sisanya diatur oleh negara penyelenggara.

Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto mengatakan, kondisi ini menyulitkan bagi negara penyelenggara untuk mencari sponsor yang bisa memenuhi persyaratan tersebut. Apalagi, anggaran penyelenggaraan yang dibutuhkan tidak sedikit dan terus mengalami peningkatan tiap tahunnya.

"PBSI memang mengajukan keberatan kepada kepada BWF mengenai hal ini karena dianggap memberatkan kami sebagai negara penyelenggara. Kami berharap BWF bisa mengubah konsep pembagian komersial menjadi 60%-40%, di mana 60%-nya itu dikendalikan oleh negara penyelenggara," ujar Budiharto berdasarkan rilis yang diterima Media Indonesia, Kamis (29/11).

Sejauh ini terdapat tiga negara yang memilih langkah yang sama, yaitu Malaysia dan Tiongkok. Ketiganya telah mengajukan keberatan kepada BWF atas ketentuan komersial yang dianggap tidak adil.

Kasubid Hubungan Internasional PP PBSI, Bambang Roedyanto, mengatakan Indonesia sempat menerima aturan ini saat menyelenggarakan Kejuaraan Dunia 2015 silam. Menurutnya, saat itu sebagai tuan rumah Indonesia mengalami kerugian akibat aturan tersebut.

"Belum lagi semakin ke sini akan semakin banyak biaya ekstra yang terus meningkat dan dibebankan kepada negara penyelenggara, termasuk masalah akomodasi, trasnpor dan berbagai biaya lainnya, kalau bisa ya sebaiknya jangan berat sebelah seperti ini," tandasnya.

Pria yang karib disapa Roedy tersebut menambahkan, hari ini telah berlangsung bidding tuan rumah penyelenggara BWF Major Events 2019-2025 di Kantor Pusat BWF, Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa negara yang mengikuti bidding, diantaranya Jepang, Korea, Makau, India, Rusia, dan Thailand.

Indonesia sendiri terakhir kali mengikuti bidding turnamen besar pada 2014 lalu. Kala itu, Indonesia memenangkan bidding sebagai tuan rumah penyelenggara Kejuaraan Dunia 2016 di Jakarta, serta Kejuaraan Dunia Junior dan Kejuaraan Dunia Junior Beregu 2017 di Yogyakarta.

Dengan demikian, Indonesia hanya akan menjadi tuan rumah turnamen BWF World Tour, yaitu Indonesia Terbuka Super 1.000, Indonesia Masters Super 500, dan Indonesia Badminton Championships Super 100 hingga 2021 mendatang. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya