Zverev Siap Gusur Era the Big Four

Budi Ernanto
21/11/2018 02:15
Zverev Siap Gusur Era the Big Four
(Glyn KIRK / AFP)

KESUKSESAN petenis muda Jerman Alexander Zverev menjuarai turnamen Final ATP 2018 disebut-sebut punya arti khusus. Ia diprediksi mereduksi era empat petenis yang kerap dijuluki Big Four, yakni Novak Djoko­vic, Rafael Nadal, Roger Federer, dan Andy Murray, yang begitu digdaya dalam satu  dasawarsa terakhir.

Legenda tenis Jerman, Boris Becker, mengatakan bahwa kemenangan Zverev sudah sangat dinanti-nanti dunia. Para penggemar tenis sangat mendambakan wajah baru dan Zverev akhirnya mampu mewujudkannya.

“Zverev telah menjuarai tiga turnamen Masters 1000 dan mengalahkan Djokovic dan (Roger) Federer. Kemenangan dari dua petenis itu merupakan peristiwa besar. Dunia telah menyaksikan bahwa bintang baru di dunia tenis telah datang,” kata Becker yang merupakan mantan pelatih Djokovic.

Menurut Becker, Zverev benar-benar konsisten sepanjang tahun ini. Walau dia sempat turun peringkat dari peringkat ketiga pada tahun lalu, permainannya stabil hingga mampu membawa­nya ke London. Kemenangan di Final ATP pun membuat Zverev mengakhiri tahun ini di peringkat keempat atau naik satu peringkat ketika mulai berlaga di Final ATP.

“Melawan Djokovic, mental Zverev tidak tertekan. Saya sangat terkesan dengan cara dia memulai pertandingan, apalagi dia merupakan kuda hitam. Menjadi pemenang Final ATP akan jadi penyemangat bagi Zverev untuk menghadapi tahun depan,” kata Becker.

Zverev kini menjadi petenis Jerman pertama setelah Becker­ yang juga pernah menjadi juara pada 1995. Kemenangan dua set dengan skor 6-4 dan 6-3 atas Djokovic membuatnya jadi juara termuda di kejuaraan penutup tahun itu dan sangat berkesan untuk Zverev karena itu mengobati kekecewaannya yang sepanjang tahun ini gagal di tiga turnamen grand slam.

“Saya benar-benar tidak bisa menggambarkan perasa­an saya. Rasanya sangat bahagia. Jelas, ini merupakan gelar terbesar yang pernah saya menangi,” ucap Zve­rez yang memulai debutnya di Final ATP pada tahun lalu.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Djokovic setelah melakukan pertandingan yang hebat di paruh kedua tahun ini. Dia tidak tampil bagus kali ini dan itu menguntungkan saya. Lepas itu, saya pikir para petenis muda sudah lahir,” lanjutnya.

Capai target
Walau gagal menjadi juara, Djokovic mengaku tidak terlalu kecewa. Target besarnya, menjadi petenis nomor satu dunia di akhir tahun ini, telah tercapai. “Saya sudah sangat teliti dengan strategi untuk bisa menggapai mimpi itu,” kata Djokovic.

Petenis asal Serbia yang kini berusia 31 tahun itu juga kembali menyebut tahun ini sangat fenomenal untuk dirinya. Dia juga sangat bangga dengan perjuangannya di sepanjang 2018 walau akhirnya harus puas menerima kekalahan atas Zverev. Namun, dia menyatakan sangat senang dengan penampilan Zverev.

Menyoal performanya di London, Djokovic tidak menyangkal bahwa dirinya cukup kewalahan menghadapi berbagai turnamen di peng­hujung tahun. “Ya, mungkin lelah. Beberapa pertandingan  menguras tenaga.” (ATP/BBC/R-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya