Judoka Miftahul Jannah Akan Ganti Cabor ke Catur

Satria Sakti Utama
09/10/2018 16:22
Judoka Miftahul Jannah Akan Ganti Cabor ke Catur
(ANTARA)

JUDOKA Miftahul Jannah tengah mempertimbangkan opsi untuk 'banting setir' ke cabang olahraga lainnya setelah mendapati dirinya gagal bertanding pada ajang Asian Para Games 2018, Senin (8/10). Miftah--sapaan Miftahul-- sendiri mengaku ingin menggeluti dunia catur jika benar-benar hijrah dari judo.

"Miftah dikenalkan catur sejak umur 4 tahun sama orang tua. Mulai mengikuti turnamen-turnamen catur di umur 6 tahun dan Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Hobi yang sangat Miftah cintai adalah catur, sudah seperti sahabat. Jadi Miftah ingin mengabdi lagi ke catur," kata Miftah dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/10).

Perempuan asal Aceh ini terpaksa mendapati dirinya didiskualifikasi dari di cabor blind judo. Wasit menilai Miftah melanggar regulasi International Judo Federation (IJF) pada artikel 4 pasal 4 yang menjelaskan adanya larangan memakai penutup kepala. Dalam kasus Miftah, ia menggunakan hijab. Aturan ini dikeluarkan IJF untuk alasan keselamatan.

Kasus serupa sejatinya pernah terjadi pada 2012 silam. Judoka asal Arab Saudi Wojda Shaherkani pernah terganjal aturan serupa ketika beraksi pada Olimpiade London. Namun, Shaherkani mengakalinya menggunakan penutup kepala yang tidak menutupi leher.

'Di judo jelas tidak boleh ada simbol agama, politik di atas tatami (matras judo). Sekali lagi ini bukan bentuk diskriminasi. Pemahamannya sederhana karena semua terjadi karena miss komunikasi saja," kata Ketua Panitia Pelaksana Asian Para Games 2018 (INAPGOC) Raja Sapta Oktohari di kesempatan berbeda.

Di lain pihak, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi akan segera mengirimkan surat kepada IJF agar kejadian seperti Miftah tidak terulang. Imam pun mendorong IJF untuk memperbarui aturannya agar ada keleluasaan bagi atlet judo wanita muslim.

"Ini momentum bagi kami merekomendasikan agar aturan bisa lentur atau mengizinkan jilbab yang didesain khusus agar tidak berbahaya. Kami akan mengirimkan surat kepada Federasi Judo Internasional (IJF) agar kejadian yang sama tak terulang lagi. Saya juga mengapresiasi Miftah karena memegang prinsipnya," jelas Imam.

Lebih lanjut, Imam juga mengingatkan berbagai kalangan untuk menyikapi insiden Miftah dari koridor ke olahragaan. "Jangan dibawa ini kepada soal-soal di luar olahraga. Jadi ini murni olahraga dan pemerintah akan mengawal agar regulasi dapat diubah untuk memerikan ruang kepada atlet muslim," imbuhnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya