Pelayanan Disabilitas Butuh Kesigapan Sukarelawan

Nurul Fadillah
28/9/2018 19:35
Pelayanan Disabilitas Butuh Kesigapan Sukarelawan
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

SUKARELAWAN berperan krusial dalam penyelenggaraan Asian Para Games 2018. Mereka bertugas langsung dalam pelayanan para atlet, offisial, dan penonton disabilitas.

Karena itu, Sukarelawan harus sigap dalam mendampingi dan melayani para penyandang disabilitas di APG nanti. Pasalnya, peran mereka dapat menentukan penilaian para tamu negara tersebut terhadap ramah tidaknya Indonesia bagi penyandang disabilitas.

Sayangnya, sukarelawan APG 2018 hanya memiliki waktu pelatihan yang singkat. Pelatihan bagi 1200 sukarelawan yang menjadi pendamping langsung para atlet dan offisial penyandang disabilitas hanya dilakukan selama tiga hari.

"Kalau volunteer itu kita berikan dua materi utama, pertama tentang info umum dan pemahaman terhadap disabilitas, komunikasi, respect dan lain-lain, yang kedua teknis sehingga kalau volunteer venue ya venue katering ya katering, sport ya sport.

Tapi, secara umum semua volunteer sudah tahu, gaya komunikasi bahkan bahasa dasar untuk komunikasi dengan tuna rungu, mereka hanya dikasih dasarnya saja," ujar Raja Sapta Oktohari, Ketua Panitia Pelaksana Inapgoc di sela-sela tinjauan venue di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (28/9).

"Kami berharap mereka bisa lebih responsif tetapi perlu diingat lagi, orang yang dilatih bertahun-tahun saja bisa salah apalagi cuma seminggu dua minggu. Karena itu, kami mengajak masyarakat Indonesia, ini panggung kita, ini acara kita, dimana Indonesia menjadi tuan rumah jadi mari saling membantu untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia juga bisa," lanjut Okto.

Sementara itu, Inisiator Komunitas Penyandang Disabilitas, Jakarta Barrier Free Tourism, Cucu Saidah yang menjadi salah satu trainer dalam pelatihan sukarelawan mengatakan, kelemahan yang masih dijumpai di sukarelawan Indonesia adalah sensibilitas atau kepekaan.

"Misalnya ketika berjumpa dengan pengguna kursi roda, mereka seharusnya lebih peka untuk memperkenalkan diri, mengajak bicara, menawarkan bantuan dan sebagainya. Tapi, sambil jalan itu bisa sambil dilatih," tandas Cucu.

Cucu menjelaskan, pada acara pelatihan terhadap 1.200 sukarelawan yang berlangsung beberapa waktu lalu, pihaknya memberikan pemahaman terhadap penanganan para penyandang disabilitas. Para sukarelawan harus memahami etika dan tidak berasumsi.

"Apabila ingin membantu pengguna kursi roda misalnya, mereka perlu ditanya langsung perlu dibantu atau tidak supaya yang diajak bicara merasa nyaman, setelah itu ikuti instruksinya, tanyakan apa yang harus dilakukan, kemudian kalau ada langkah-langkahnya itu harus diikuti. Kalau ada tuna netra yang sedang lewat dan ada halangan di depannya juga patut dibantu dan diberi tahu," tandasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya