Venue Badminton Berikan Servis Sekelas Kejuaraan Dunia

Nurul Fadillah
28/9/2018 19:18
Venue Badminton Berikan Servis Sekelas Kejuaraan Dunia
(MI/Ramdani)

MESKIPUN berbeda jenis event, pertandingan para bulu tangkis Asian Para Games 2018 dipastikan takkan kalah dengan turnamen bulu tangkis tingkat internasional lainnya. Fasilitas pada pertandingan para bulu tangkis akan disesuaikan dengan standar Federasi Bulu tangkis Dunia (BWF) dan juga Komite Paralimpiade Asia (APC).

Kepala Bidang Umum Panitia Pelaksana Para Bulu Tangkis Asian Para Games, Mimi Irawan mengatakan, servis yang digunakan di Istora Senayan yang menjadi venue para bulu tangkis akan disamakan dengan level Kejuaraan Dunia.

"Kita akan gunakan karpet, lampu, ruang dan fasilitas doping, hingga tournament software milik BWF. Semua sudah disesuaikan dengan standar Kejuaraan Dunia, kita buat hal yang maksimal meskipun ada hal non teknis yang masih perlu diperhatikan, misalnya seperti test event ada salah di toilet, dimana handle (pegangan) pengguna kursi roda kita taruh di bawah karen karena pikir untuk pijakan kaki, yang ternyata itu untuk tangan sehingga harus disesuaikan," ujar Mimi di sela-sela tinjauan venue bulu tangkis di Istora Senayan, GBK, Jumat (28/9).

"Kalau standar BWF sama APC itu sebetulnya hitungannya sama, paling bedanya di nomor kursi roda itu tidak ada karpet sama netnya tidak diikat semua, dan kalau untuk tunggal dia pakai separuh lapangan saja sehingga hakim garis bisa pindah ke tengah lapangan," lanjutnya.

Untuk APG, Istora Senayan juga membutuhkan penyesuaian lain bagi para pengguna disabilitas. Satu diantaranya adalah penyesuaian tempat duduk penonton yang sedikit mengalami perombakan dengan pertimbangan penonton kursi roda.

Mimi menambahkan, kapasitas penonton di Istora Senayan berjumlah 7200 kursi tunggal. Nantinya, sebanyak 5000 kursi akan digunakan untuk penonton non kursi roada termasuk Very Important Person (VIP) dan kelas satu, sementara sisanya akan diubah untuk pengguna kursi roda.

"Tiga baris dari depan akan kita ubah dengan mencabut kursi tunggalnya, lalu akan kami buat panggung untuk penonton kursi roda dengan kapasitas sekitar 100 kursi roda. Begitu pula dengan atlet pengguna kursi roda itu tempat nya kami pisahkan sendiri, dengan jumlah 20 atlet," jelas Mimi.

Selain itu, Panpel Para Bulu Tangkis APG juga mendapat masukan dari Inisiator Jakarta Barrier Free Tourism, Cucu Saidah. Menurut Cucu, beberapa fasilitas bagi penyandang disabilitas juga perlu ditambah di antaranya adalah bilik toilet Uniseks.

"Toilet itu juga dibutuhkan bagi pengguna kursi roda yang memiliki pendamping misalnya suaminya atau sebaliknya untuk membantunya di kamar mandi. Kemudian juga sebaiknya ada ruang ganti pempers karena ada pengguna kursi roda juga yang memakai pempers, lalu bilik kamar mandi di Istora kan satu-satu kalau bisa dua bilik di satukan saja biar lebih besar," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya