Tim Transisi Kemenpora Jalan Terus

MI/RO/X-11
29/5/2015 00:00
Tim Transisi Kemenpora Jalan Terus
( ANTARA FOTO/Teresia May)
Tim Transisi yang dibentuk Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyatakan putusan sela Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) tentang gugatan PSSI tidak mengikat, sehingga mereka tetap bekerja. Bahkan Tim Transisi telah menyiapkan beberapa langkah ke depan. Sikap itu diambi usai menggelar rapat pada Jumat (29/5). Ada enam poin yang menjadi keputusan tim transisi. "Kami tetap menghormati hukum. Namun demikian, kami harus tetap bekerja, karena putusan itu kan belum inkrah," kata Zuhairi Misrawi, anggota tim transisi kepada wartawan, Jumat (29/5).

Menurut Zuhairi, walaupun putusan PTUN nantinya sudah inkrah dan mengabulkan gugatannya PSSI, jalannya masih panjang, karena masih ada proses yang akan dijalani. Artinya, selama proses itu berjalan, Tim Transisi tak mungkin hanya berdiam diri. Karena itulah ada enam langkah yang akan diambil, yaitu:

1. Tim Transisi menyatakan tetap eksis menjalankan agenda-agenda pembenahan tata kelola sepak bola Indonesia yang lebih baik, sesuai amanat Menpora dan Presiden Indonesia

2. Tim Transisi mencermati dengan serius apa yang sedang terjadi di tubuh FIFA dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk menilisik lebih jauh dugaan-dugaan pelanggaran hukum yang dimungkinkan terjadi di tubuh PSSI

3. Tim Transisi sedang menindaklanjuti hasil-hasil temuan tim sembilan terkait pelanggaran-pelanggaran PSSI melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum

4. Tim Transisi akan segera menggelar turnamen dan kompetisi sepak bola dalam waktu dekat ini, antara lain turnamen Kemerdekaan dalam rangka memperebutkan Piala Presiden, Piala Panglima TNI, dan kompetisi liga profesional

5. Tim Transisi terus mendorong kegiatan-kegiatan positif pembinaan sepakbola usia muda melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) dan Sekolah sepakbola yang ada.

6. Tim Transisi akan berkomunikasi langsung dengan beberapa federasi dari luar negeri dalam rangka mempelajari tata kelola sepak bola, sehingga prestasi sepak bola nasional nasional di masa mendatang menjadi lebih transparan, profesional dan berprestasi.

Ditanya mengenai munculnya kasus FIFA, Zuhairi mengatakan, ada kesamaan antara kasus FIFA dengan kejadian di PSSI. Keduanya tidak ada transparansi, sebagaimana yang jadi sorotan. Seperti diketahui, sembilan pejabat FIFA ditangkap kepolisian Swiss atas dugaan kasus korupsi, penggelapan dana, dan pencucian uang. Penangkapan tersebut dilakukan sehari menjelang Kongres FIFA, di Zurich, Swiss pada Jumat (29/5).

"Kasus korupsi di FIFA mirip dengan yang terjadi di Indonesia (PSSI). Mulai dari hak sponsor, pendapatan hak siar," cetus Zuhairi. Salah satu bukti tidak transparannya PSSI adalah keenganan mereka mematuhi keputusan dari KIP (Komite Informasi Pusat) yang menyatakan bahwa PSSI adalah badan publik dan harus membuka kondisi keuangannya, mulai dari hak siar timnas U-19, hingga dana sponsor. Tuntutan transparansi tersebut diajukan oleh suporter FDSI (Forum Diskusi Suporter Indonesia).(RO/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya