Misi Tersirat Kalahkan sang Juara Dunia

(Rul/R-3)
18/8/2018 05:40
Misi Tersirat Kalahkan sang Juara Dunia
(DOK PRI )

MESKI bridge baru dipertandingkan perdana di Asian Games edisi kali ini, kontingen bridge Indonesia tetap ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia. Sebanyak dua emas sedikitnya menjadi bidikan kontingen Merah Putih pada pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.

Namun, dibalik target emas yang mereka incar, terdapat misi tersembunyi yang selalu menjadi mimpi para atlet bridge nasional. Mengalahkan juara dunia, Tiongkok, menjadi ambisi pribadi yang ingin mereka wujudkan pada turnamen level internasional.

Asian Games kali ini pun menjadi momentum bagi para pemain kartu terbaik Indonesia tersebut untuk mewujudkannya. Prestasi yang diraih di Eropa dan Amerika Serikat selama dua bulan uji coba menjadi modal apik kontingen bridge Indonesia di Asian Games 2018.

Berikut, hasil bincang-bincang Media Indonesia dengan Ketua Umum Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI), Ekawahyu Kasih.

Ini kali pertama bridge dipertandingkan di Asian Games, target apa yang diincar Kontingen bridge Indonesia?

Kami menargetkan dua emas dari enam nomor yang dipertandingkan. Dari awal memang kita menargetkan meraih dua emas dan kita, kan, berusaha mewujudkan hasil itu.

Ada enam nomor yang dipertandingkan, di mana letak peluang terbesar Indonesia?

Semua nomor punya peluang emas meskipun target kita tetap dua. Apakah bisa sapu bersih? Bisa saja, tetapi kita tak ingin berandai-andai dan berjuang lebih dulu mewujudkan target kita. Karena kita tahu, setiap olahraga itu pasti ada faktor keberuntungannya juga, dan yang kita lihat kompetitor terberat kita ada juara dunia dari Tiongkok, kemudian India dan Singapura yang kita lihat sudah mati-matian mematangkan persiapan.

Bagaimana persiapan tim bridge Indonesia sejauh ini menghadapi Asian Games 2018?

Persiapannya sangat panjang, sangat terstruktur, dan memakan manajemen strategi yang sangat runtut. Kita sudah lihat para kompetitor kita, yang utama ialah Tiongkok. Pada 2017 lalu medali di Asia Pasifik (APBF) semua disapu bersih oleh Tiongkok. Sementara Indonesia hanya menyabet perak, begitu pula di Kejuaraan Dunia 2017 di Lyon, Prancis, putri Tiongkok meraih gelar juara dunia dan semua negara kalah sama dia, termasuk Indonesia yang hanya menduduki posisi delapan besar. Saat itu, putra mereka masuk delapan besar, tetapi kita hanya peringkat ke-13. Kemudian di Transnational Open Team yang juga di Lyon, Prancis, tim mereka juara. Sementara kita hanya di posisi ke-32, merekalah kompetitor terkuat kita.

Dengan beratnya kompetitor, apa yang menjadi dasar Anda menentukan target dua emas?

Selama satu tahun penuh, kami sudah berusaha berbenah dan meningkatkan performa atlet untuk bisa bersaing dengan Tiongkok. Kita mendatangkan pelatih terhebat di dunia asal Polandia, Krzysztof Martens, bisa menggaet Krzysztof yang juga ditaksir Tiongkok itu menjadi kemenangan kita yang pertama.

Kemudian, kita ajak atlet bertanding di level internasional di Eropa dan Amerika, dan ternyata di bawah arahan Krzysztof atlet kita menunjukkan kemampuan yang begitu pesat. Mereka juara umum saat uji coba di Albena, Bulgaria, dan di tiga Kejuaraan Regional Amerika Serikat. Mereka juga mengalahkan para pemain profesional termasuk juara dunia itu sendiri di Atlanta Summer North American Bridge Championship (NABC) 2018. Hasil itu menambah optimisme kami bisa mencapai target tertinggi di Asian Games kali ini.

Apakah ada ambisi pribadi untuk mengalahkan Tiongkok?

Sebenarnya enggak ada ambisi pribadi, kita berpikir olahraga Indonesia harus bangkit, harus mampu menjadi juara, dan sebenarnya bridge ini ialah modal bagaimana dari suatu ketertinggalan kita bisa mengejar dengan strategi manajemen olahraga yang bagus.

Bagaimana akhirnya dalam satu tahun kita bisa mengungguli Tiongkok. Sebetulnya, strategi utama kita ialah 5C, yaitu competence (kompetensi) jadi dilatih oleh pelatih sekaliber dunia untuk menaikkan kompetisi, kemudian kalau kompetensi sudah naik, maka akan muncul confident (percaya diri), yang nantinya akan membuat pemain calm (tenang), ketenangan inilah yang akhirnya memunculkan consentration (konsentrasi) yang akan membuat mereka consistence (konsisten) dengan permainan mereka. Kalau sudah tercapai, maka medali akan datang dengan sendirinya.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya