Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BUTUH perjuangan yang panjang agar cabang olahraga bridge bisa dipertandingkan di multiajang Asian Games 2018. Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) bersama dengan pemerintah dan Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (Inasgoc) terus berupaya membujuk Dewan Olimpiade Asia (OCA) dan keluarga mereka untuk memasukkan bridge sebagai cabang non-Olimpiade usulan dari Indonesia.
Upaya demi upaya PB GABSI dan Inasgoc lakukan dua tahun yang lalu hingga akhirnya bridge dapat diterima sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di perhelatan olahraga empat tahunan Asia ke-18. Namun, setelah perjuangan membuahkan hasil, bridge dapat dipertandingkan dengan syarat pemangkasan beberapa nomor. Dari total 11 nomor, hanya 6 nomor dengan mempertimbangkan efisien bujet.
Bukan tanpa alasan, Indonesia bersikeras bridge tampil di Asian Games 2018. Pasalnya, olahraga otak tersebut berpeluang menjadi lumbung emas bagi Merah Putih. Setelah resmi masuk sebagai cabor non-Olimpiade di Asian Games edisi kali ini, PB GABSI berjanji akan memberikan prestasi terbaik yang belum pernah mereka capai sebelumnya di tingkat internasional.
Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan dan kesempatan emas yang diberikan masyarakat. Dua emas menjadi hadiah yang hendak dipersembahkan kontingen bridge nasional sebagai kado Ulang Tahun Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia.
Karena itu, selama satu tahun persiapan jelang Asian Games 2018, sejumlah pembenahan pun dilakukan demi peningkatan performa yang lebih baik. Tak bisa dimungkiri, di level Asia, bridge Indonesia masih belum berkembang. Tahun lalu, Tiongkok masih merajai berbagai kompetisi internasional bahkan di tingkat dunia.
Pada turnamen Asia Pasifik (APBF) 2017, Tiongkok menyapu bersih semua emas, sedangkan Indonesia hanya sanggup menyabet perak. Begitu pula di Kejuaraan Dunia 2017 yang berlangsung di Lyon, Prancis, atlet putri Tiongkok menjadi juara dunia, sedangkan Indonesia yang hanya menduduki posisi delapan besar.
Meskipun saat itu, putra mereka masuk delapan besar, Indonesia masih tertinggal di peringkat ke-13. Begitu pula di Transnational Open Team yang juga berlangsung di Lyon, Prancis, putra Tiongkok juga menyabet gelar juara, sedangkan kita hanya di posisi ke-32.
Dengan kondisi tertinggal, tentu banyak pihak yang meragukan kemampuan bridge Indonesia di Asian Games. Namun, selama satu tahun terakhir, tim bridge sanggup menampik berbagai kritik yang beredar.
Dengan hadirnya pelatih berkelas dunia, Krzysztof Martens asal Polandia, tim bridge mulai menunjukkan perkembangan yang pesat. Mereka mulai menunjukkan perkembangan permainan yang meningkat signifikan di laga uji coba terakhir pada 17 Juni hingga 5 Agustus lalu.
Mereka meraih gelar juara umum di rangkaian kejuaraan 36rd International Bridge Festival Albena 2018, Bulgaria, dengan meraih 4 emas, 2 perak, dan 5 perunggu. Prestasi Merah Putih terus berlanjut di rangkaian turnamen regional di Amerika Serikat.
Mereka juga meraih juara umum di Music City Summer Sectional Tournament, Windy City Regional Championship, dan Siouxland Bridge Championship 2018. Begitu pula saat menghadapi uji coba terakhir di Atlanta NABC Summer 2018 pada 27 Juli-5 Agustus silam. Di kejuaraan level nasional Amerika Serikat yang diikuti pemain profesional dan juara dunia itu, Indonesia juga tampil gemilang dengan membawa pulang 3 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.
Ketua Umum PB GABSI Ekawahyu Kasih mengatakan timnya sudah semakin percaya diri untuk menghadapi Asian Games 2018 setelah mengalahkan juara dunia. Sebanyak 24 pemain sudah siap bermain dan berhadapan dengan lawan terkuat dari Asia, Tiongkok.
"Filosofi yang kita gunakan selama ini, yakni mengikuti uji coba untuk mencari dan mengurangi kesalahan tampaknya menuai hasil positif. Kami akhirnya bisa menjadi juara umum dari turnamen yang berlangsung di satu kota ke kota lain. Kalau saya katakan atlet sudah sangat percaya diri karena sudah mengalahkan juara dunia. Mereka sudah siap untuk head to head melawan Tiongkok," ujar Eka.
Perbaiki kesalahan
Semasa menjalani uji coba selama dua bulan terakhir, timnas bridge sama sekali tidak mengincar kemenangan. Pelatih asing yang juga merupakan pelatih kepala, Krzysztof, justru ingin atlet Indonesia mencari kelemahan dan memperbaikinya selama proses uji coba.
Alhasil, strategi perbaikan kelemahan pun berhasil dan prestasi di Eropa serta Amerika Serikat berhasil dicapai. Karena itu, di waktu yang tersisa, timnas bridge akan terus berupaya membenahi kelemahan dan kekurangan tim agar tak melakukan satu pun kesalahan saat pertandingan.
"Meskipun meraih prestasi di Eropa dan Amerika, atlet bridge Indonesia harus tetap menjaga mentalitas agar tidak cepat puas dengan pencapaian ini. Saat uji coba kemarin, kelemahan atlet masih ditemukan yang memerlukan penanganan khusus agar lebih siap dalam menghadapi Asian Games, tetapi semakin ke sini kelemahan itu menjadi semakin berkurang dan kekuatan teknik dan nonteknik atlet pun semakin meningkat tajam," pungkas Krzysztof.
(R-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved