Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI Paralayang Indonesia belum merilis daftar atlet yang akan diturunkan di Asian Games 2018, Rika Wijayanti diprediksi bakal ikut diterjunkan pada multiajang empat tahunan itu.
Atlet yang masih berusia 23 tahun itu pun berharap bisa menyumbangkan medali emas untuk Indonesia. Ambisi itu tentu tidak asal dilontarkan Rika. Faktanya, dirinya sudah berkali-kali mencetak prestasi di tingkat internasional.
Pada 2017, misalnya, Rika yang berasal dari Batu, Jawa Timur, berhasil menjadi juara dunia di nomor ketepatan mendarat. Dari empat seri kejuaraan dunia tahun lalu, Rika merebut podium pertama di Serbia, jadi runner-up di Kanada, peringkat keempat di Slovenia, dan peringkat ketujuh di Indonesia.
Sementara itu, tahun ini, Rika keluar jadi juara pertama di Turki. Di daftar peringkat dunia untuk kategori atlet putri, Rika menempati urutan ke-7 di bawah kompatriotnya Ike Ayu Wulandari (ke-6) dan Eka Nesti Wulansari (ke-4).
Bagi Rika, hasil yang dia dapat itu tidak datang dengan instan. Dari ceritanya, dia hanya ikutan mencoba merasakan terbang di kampung halamannya yang memang jadi lokasi favorit untuk para penggemar olahraga paralayang.
Sentuhan pertamanya bermula ketika Rika bergabung dalam perkumpulan paralayang setempat. Selama dirinya masih duduk di bangku SMK, dia masih belajar mengenai teori mengendalikan peralatan yang dibutuhkan dan barulah ketika lulus Rika terbang untuk pertama kalinya.
Kakaknya, Joni Efendi, juga berperan membuat Rika jadi lihai bergerak di angkasa. Khususnya bagaimana cara mengontrol arah terbang dan menghadapi angin. Kegagalan saat belajar juga pernah dia alami, yaitu ketika dia jatuh dari ketinggian 8 meter.
Pada 2013, Rika mulai mengikuti kejuaraan profesional pertamanya di Sumatra Utara dan terus menambah pengalamannya untuk bisa menjadikan dirinya seperti sekarang ini.
Rika mengatakan bahwa strategi yang dia terapkan setiap kali mengikuti perlombaan, ialah dengan cara berpikir bahwa apa yang dia ikuti hanya merupakan latihan biasa. Sementara itu, saat latihan, justru merupakan sesi dalam sebuah perlombaan. Dengan begitu, dia tidak pernah terbeban ketika menghadapi turnamen apa pun. “Tinggal mohon doa saat saya tampil di Asian Games,” ujarnya. (Berbagai sumber/Beo/R-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved