Boling Siap Ulang Prestasi di Doha

Nurul Fadillah
03/8/2018 02:45
Boling Siap Ulang Prestasi di Doha
(ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

SEBAGAI tuan rumah Asian Games 2018, tim nasional boling Indonesia bertekad mengulang kembali masa keemasan. Pada Asian Games 2006 di Doha, Qatar, peboling putra Indonesia Ryan Leonard Lalisang sukses menyumbang medali emas.

Tidak hanya itu, peboling putri Indonesia Putty Armein juga menambah pundi medali bagi kontingen Indonesia dengan menyumbang perak.

Prestasi Ryan dan Putty menjadi sejarah baru bagi boling Indonesia yang sebelumnya tidak pernah mendapat emas dan perak di multiajang terbesar se-Asia tersebut.

Prestasi perdana Indonesia pada cabang boling diraih Sri Mulyani Ruzgar, Fenny Tjahjo, dan Charlotte Sjamsul dengan meraih perunggu di Asian Games 1986 di Seoul, Korea Sekatan. Tambahan perunggu lainnya dicapai Poppy Marijke Tambis untuk all-events putri.

Sejak itu, peboling 'Merah Putih' telah menyumbangkan delapan medali di Asian Games. Dengan satu emas, tiga perak, dan empat perunggu, Indonesia menempati posisi 10 besar negara peraih medali terbanyak di Asian Games.

Dengan Palembang dan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games XVIII, tim boling 'Merah Putih' bertekada kembali mengulang capaian di Doha, Qatar. Kali ini mereka berupaya meraih medali di nomor trio putra-putri, team of six putra-putri, dan master putra-putri di Palembang.

Target dua emas menjadi bidikan skuat 'Merah Putih' yang berlaga di Pusat Boling, Jakabaring Sport City Palembang, pada 22-27 Agustus mendatang.

Pelatih timnas boling Indonesia, Thomas Tan, mengatakan, tim boling berpeluang untuk mewujudkan target dua emas.

"Peluang ada di nomor trio lebih besar, tim enam juga besar tetapi utamanya yang saya lihat di nomor putra, sementara putri kemungkinan bisa di trio dan master, saya berharap ke Tannya (Roumimper) dan Sharon (Limansantoso)," kata Thomas.

"Lawan terkuat di putra masih dipegang Korea Selatan dan Malaysia, sementara putri dipegang oleh Singapura, tetapi meski ada di posisi tiga sebagai tuan rumah tentu ada keuntungan," ujar Thomas.

Banyak keterbatasan
Butuh motivasi besar untuk dapat mewujudkan prestasi peboling Indonesia di Asian Games 2018. Pasalnya, selama masa persiapan menuju perhelatan pesta olahraga empat tahunan tersebut, tim boling selalu dihadapkan dengan berbagai kendala.

Dari mulai kurang jam terbang, ketiadaan psikolog, dan pelatih asing, hingga persoalan peralatan menjadi kendala yang dialami para peboling nasional.

"Kita selalu meminta psikolog dari dulu kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tetapi sampai sekarang tidak ada realisasinya," ucap Thomas.

"Padahal, keberadaan psikolog sangat penting untuk terus menjaga mental bertanding atlet kita, sekarang akhirnya kita hanya saling memahami antara pelatih dan para atlet. Kalau atlet sedang down nanti kami pelatih yang memberi motivasi dan masukan positif," tambah Thomas

Selain itu, tim boling juga harus kehilangan pelatih asing yang sudah melatih mereka sejak Mei. Purvis James Granger dari Amerika Serikat sudah mengundurkan diri sejak awal Juli lalu.

Manajer timnas boling Ronny Mandagy menambahkan sejak awal tahun hingga Juni 2018, belum ada kucuran dana untuk pelatih asing dari Kemenpora.

(R-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya