Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BULU TANGKIS menjadi olahraga yang populer di Tanah Air. Bahkan, nama Indonesia kian mendunia dan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di ajang olahraga internasional tak lepas dari prestasi yang ditorehkan para pebulu tangkis Indonesia.
Dari cabang bulu tangkis, para atlet Indonesia mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade 1992 melalui nomor tunggal putri yang kala itu diperkuat Susy Susanti.
Namun, persaingan di cabang bulu tangkis dari waktu ke waktu semakin kompetitif. Para pebulu tangkis Indonesia tidak lagi bisa berbicara banyak untuk nomor tunggal putri dan tunggal putra.
Dari nomor ganda putri, Indonesia masih belum memiliki pasangan yang dapat diandalkan termasuk pada multiajang Asian Games 2018. Untuk berbicara soal peluang medali emas pada Asian Games 2018, Indonesia memiliki pasangan ganda putra yang cukup tangguh, yakni Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Pada tahun lalu, kedua pemain muda itu mampu merebut tujuh gelar juara termasuk dari All England. Pada Asian Games XVIII, Marcus/Kevin yang terakhir menjuarai Indonesia Terbuka 2018 diharapkan kembali kembali mengangkat nama Indonesia dengan menyumbang medali emas.
Dari sektor ganda putra, Indonesia mempunyai sejarah manis di Asian Games. Saat ajang empat tahunan itu digelar pada 1974 di Iran, pasangan Tjun Tjun/Johan Wahyudi berhasil meraih medali emas.
Kepala pelatih ganda putra PBSI, Herry Iman Pierngadi, mengaku optimistis di Asian Games 2018, pasangan ganda putra Kevin/Marcus berpeluang besar menyumbang emas untuk kontingen tuan rumah.
“Saya sih optimistis dengan dua pasangan ini (Kevin/Marcus), mereka masih muda, kariernya masih panjang. Musuh-musuh di Asia usianya lebih tua dari mereka. Dari segi prestasi, saya rasa tidak kalah,” kata Herry.
Bidik gelar perdana
Selain ganda putra, ganda campuran juga memiliki berpeluang untuk menyumbangkan medali emas. Pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dipastikan bakal tampil habis-habisan untuk bisa meraih emas di Asian Games 2018.
Apalagi, mereka harus puas menjadi runner-up di Asian Games 2014. Kala itu, mereka takluk di tangan Zhang Nan/Zhao Yunlei dari Tiongkok. Tontowi/Liliyana, yang biasa disapa Owi/Butet, memang belum pernah mencicipi podium pertama di Asian Games.
Padahal, mereka berdua sejak berpasangan pada 2011 telah menjadi juara dunia, menjadi juara di All England, SEA Games, dan bahkan memberikan medali emas dari Olimpiade 2016 sebagai kado untuk ulang tahun Indonesia pada dua tahun lalu.
Di sisi lain, Asian Games tahun ini mungkin akan jadi ajang akbar terakhir bagi Butet yang sudah punya rencana untuk pensiun. Hal tersebut juga sudah dia ungkapkan ketika menjadi juara Indonesia Terbuka tahun ini. Karena itu, Butet pun memutuskan tidak ikut Kejuaraan Dunia di Tiongkok karena ingin fokus latihan demi meraih hasil terbaik di Asian Games.
Secara terpisah, Kepala Binpres PBSI Susy Susanti mengatakan bahwa seharusnya peta kekuatan lawan di Asian Games 2018 bisa terbaca di Kejuaraan Dunia 2018.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBSI Achmad Budiharto mengungkapkan target medali cabang bulu tangkis di Asian Games ialah satu medali emas. (R-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved