Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA menargetkan masuk 10 besar Asia, sukses penyelenggaraan, dan bebas doping dalam Asian Games 2018.
Realisasi dari harapan tersebut bakal diwujudkan dalam sebuah kerja sama yang dilakukan oleh panitia penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) dan Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) dalam waktu dekat ini.
Menurut Direktur Pengawasan Medis dan Doping Inasgoc Leane Suniar, dalam kesepakatan tersebut akan tercantum seluruh hak dan kewajiban antara pihaknya dengan LADI.
“Draf kontrak sudah ada, tapi harus disetujui terlebih dahulu oleh Dewan Olimpiade Asia (OCA). Baru setelahnya penandatanganan bisa dilakukan dan bisa merumuskan berapa anggaran yang dibutuhkan,” kata Leane di Jakarta, Sabtu (21/10).
Nantinya, apa yang akan menjadi tugas Inasgoc antara lain memfasilitasi Divisi Pengawasan Medis dan Doping selama Asian Games berlangsung, menentukan laboratorium pengujian sample, menyusun rencana pengujian sample (TDP), memastikan ketersediaan tempat pengambilan sample (DCS), membiayai seluruh kegiatan pengawasan doping, dan membuat laporan seluruh kegiatan.
Sementara LADI, adalah pihak yang menentukan badan pengawas doping. Mereka juga ikut menyusun rencana kerja dan anggaran sesuai TDP yang dibuat oleh Inasgoc. Selain itu, LADI juga membuat daftar kebutuhan peralatan pengambilan sample dan segala sarana pendukung di DCS, serta melakukan pengambilan dan pengumpulan sample sesuai tempat yang telah ditentukan.
Sekretaris Umum LADI Ari Sutopo mengatakan nantinya ada 1.500 sample yang akan diambil dan dikumpulkan ketika Asian Games berlangsung. Namun, dia juga menegaskan bahwa pengambilan dan pengumpulan sample juga dilakukan di segala ajang yang berkaitan dengan Asian Games, seperti test event. Setidaknya, ada 200 sample yang akan diuji saat test event digelar pada Februari tahun depan.
Ari menambahkan, SDM yang dibutuhkan untuk mengambil dan mengumpulkan sample akan sangat banyak mengingat jumlah atlet yang bertanding bisa mencapai ribuan.
“Kami akan kerahkan tenaga pengawas doping (DCO) yang pernah bertugas di SEA Games 2011. Kebanyakan dari mereka lisensi internasionalnya sudah kadaluarsa dan yang masih berlaku kurang dari 10 orang. Hanya dibutuhkan beberapa pelatihan untuk bisa mengaktifkan lagi lisensi mereka. Tapi, amanat OCA juga harus ada DCO internasional yang jumlahnya mencapai 10 orang,” ungkap Ari.
Di sisi lain, komitmen LADI untuk bisa membebaskan atlet dari doping kian berat seiring Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dibubarkan Ppemerintah. Ketua LADI Zaini Saragih mengatakan sebelumnya pengawasan LADI terbilang mudah, karena Satlak Prima juga bertugas untuk melakukan fungsi kontrol doping terhadap para atlet elite.
“Sekarang, tanggung jawab dikembalikan lagi ke masing-masing cabang olahraga (cabor) yang jumlahnya puluhan. Data medis para atlet ada di masing-masing pengurus cabor. Ini tantangan yang berat untuk kami karena harus turun satu per satu ke setiap cabor,” papar Zaini.
Menanggapi itu, Kepala Bidang Sport Science dan Penerapan Iptek Olahraga KONI Pusat Lilik Sudarwati meminta LADI untuk tidak khawatir. LADI bisa berkoordinasi dengan KONI untuk meminta data yang dibutuhkan.
“Atau memang jika diperlukan kami bisa turun langsung ke lapangan. KONI punya banyak tangan untuk bisa menangani puluhan cabor tersebut,” terang mantan pebulu tangkis nasional itu.
Sedangkan saat Asian Games, KONI juga otomatis sudah terlibat karena Leane merupakan wakil dari Lilik yang diperbantukan di Inasgoc. “Jadi selama test event dan pelaksanaan Asian Games, KONI sudah ikut melakukan pengawasan doping,” pungkas Lilik. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved