Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA hanya menempatkan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo-Marcus Fernaldi Gideon di ajang Jepang Terbuka 2017.
Juara All England 2017 itu lolos ke final setelah menaklukkan ganda putra yang merupakan musuh bebuyutan mereka, Mathias Boe-Carsten Mogensen (Denmark), 21-15 dan 21-14, Sabtu (23/9).
Kemenangan tersebut merupakan yang kedua setelah kedua pasangan ini bertemu sebanyak enam kali sejak April dua tahun silam. Kekalahan Boe-Mogensen sebelumnya terjadi saat China Open 2016.
Sementara di Jepang kali ini merupakan pertemuan mereka yang kedua dalam bulan ini, setelah final Korea Terbuka 2017 pekan lalu. Kevin-Marcus harus puas dengan posisi runner up.
Berbeda ketika bertemu di Korea, Kevin-Marcus mampu menerapkan strategi mereka untuk bisa unggul dari Boe-Mogensen. Beberapa kali terjadi reli dan akhirnya menguras tenaga Boe-Mogensen, sehingga Kevin-Marcus hanya perlu menunggu lawan kelelahan. Marcus yang selalu ada di belakang Kevin hanya sesekali melancarkan smash keras.
Di babak final, Kevin-Marcus ditantang ganda putra asal Jepang, Takuto Inoue-Yuki Kaneko. Peringkat 17 dunia itu diprediksi akan kewalahan menghadapi Kevin-Marcus. Apalagi Inoue-Kaneko tidak pernah menang dalam dua kali perjumpaan dengan Kevin-Marcus. Pertemuan terakhir kedua pasangan ini di India Terbuka 2017. Ketika itu Kevin-Marcus hanya butuh dua set untuk menang 21-16 dan 21-18.
Wakil Indonesia lainnya Praveen Jordan-Debby Susanto gagal mewujudkan mimpi meraih gelar kedua tahun ini. Mereka tidak berhasil mengalahkan pasangan nonunggulan asal Tiongkok Wang Yilyu-Huang Dongping, dan kalah dengan skor 14-21 dan 19-21.
“Tenaga kami kalah jika dibandingkan lawan. Saat pertandingan juga ada reli yang menyebabkan kami kehilangan fokus,” kata Jordan.
Menurut Debby, strategi Yilyu-Dongping tidak berbeda ketika bertemu di final Korea Terbuka pekan lalu. Hanya saja Debby menilai lawan kali ini lebih berani baik untuk bertahan dan juga menyerang.
“Mereka cukup solid dan tidak takut. Faktor lain, kalau di Korea memang karena ada angin, jadi mereka tidak leluasa mengangkat bola,” beber Debby.
Kekalahan Indonesia di sektor tunggal putri langsung dievaluasi oleh sang pelatih, Minarti. Wakil Indonesia di Jepang Terbuka 2017 yaitu Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, kalah di putaran awal.
Fitriani dilibas Ratchanok Intanon (Thailand) 20-22 dan 12-21. Sementara Gregoria kalah di babak pertama kualifikasi dari Pai Yu Po (Taiwan) 17-21, 21-17 dan 19-21.
“Level super series mungkin memang masih cukup berat buat mereka. Tapi, mau tidak mau harus mencoba. Karena, misalnya tahun depan mereka main di Piala Uber, lawannya adalah yang main di super series. Dengan mencoba di super series, setidaknya nanti ketika di level yang lebih tinggi, mereka bisa memberikan perlawanan,” ungkap Minarti seperti dilansir badmintonindonesia.org.
Minarti mengatakan, pemain tunggal putri yang ada sekarang butuh keberanian lebih ketika berlaga. Selain itu kecepatan dalam beradaptasi juga masih perlu ditingkatkan, agar mereka tidak mudah tertekan.
Namun, secara variasi teknik sudah baik. Peraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 itu bahkan berani mengatakan bahwa pemain Indonesia lebih baik dibandingkan dengan pemain Jepang.
Melihat hasil pertandingan anak didiknya, Minarti pun bersiap untuk memberikan sejumlah program demi meningkatkan kualitas pemain tunggal putri Indonesia.
“Pemain kita masih harus melengkapi semua hal, dari segi mental, cara berpikir dan cara main harus seperti apa. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan satu cara main yang sama. Jadi mungkin harus ada dua atau tiga pola yang mereka kuasai untuk bisa mengatasi lawan yang berbeda-beda,” pungkas Minarti. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved