Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MAHASISWA asing dari 30 negara mengikuti International Cultural and Culinary Festival (ICCF) ke-11 yang digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kegiatan ini dinilai menjadi ruang diplomasi budaya dan kuliner yang mampu mempererat hubungan antarbangsa di tengah situasi global yang memanas.
Festival yang berlangsung di Sportorium UMY pada Selasa (29/4) tersebut menampilkan beragam kuliner dan budaya dari berbagai negara. Selain menjadi ajang pertukaran budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat jejaring internasional di kalangan mahasiswa.
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Slamet Riyadi, mengatakan pendekatan budaya dan kuliner terbukti efektif dalam membangun hubungan antarnegara. “Pendekatan budaya dan kuliner akan memperkuat kita untuk saling berkolaborasi memahami pembangunan skala nasional dan global,” ujarnya.
Menurut Slamet, ICCF yang pertama kali digelar pada 2015 turut berperan dalam meningkatkan citra UMY sebagai kampus terbuka bagi komunitas internasional. Ia menyebut minat mahasiswa asing untuk melanjutkan studi di UMY terus meningkat.
“Pendaftar mahasiswa asing itu tidak kurang dari sepuluh ribu untuk mendaftar ke UMY. Event ini menjadi satu pertanda bahwa kita sangat terbuka dengan mobilitas dan pertukaran internasional,” katanya.
INKLUSIVITAS KAMPUS
Ia menegaskan reputasi tersebut tidak hanya dibangun melalui promosi formal, tetapi juga melalui kegiatan nyata seperti ICCF yang menunjukkan inklusivitas kampus. “Kami adalah kampus yang universal. Dengan mengedepankan inklusivitas, kami menerima calon mahasiswa dari seluruh negara, termasuk kolaborasi profesor dan peneliti dari berbagai negara,” tegasnya.
Direktur Direktorat Kemitraan Global dan Employability (DKGE) UMY, Rizal Yaya, mengatakan keterlibatan mahasiswa internasional dari berbagai kampus di Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur menunjukkan perluasan jejaring global yang semakin kuat.
“Ini membuat jaringan sesama mahasiswa asing semakin kuat. Kesempatan mereka berinteraksi semakin banyak, sehingga mereka semakin mengenal UMY dan program internasionalisasi yang ada,” ujarnya.
ICCF tahun ini menargetkan lebih dari 2.500 pengunjung, meningkat dibandingkan sekitar 1.900 pengunjung pada penyelenggaraan 2025. Meski jumlah negara peserta tetap 30, cakupan kegiatan dinilai lebih luas karena melibatkan lebih banyak institusi pendidikan.
Selain pameran kuliner dan budaya, festival ini juga menghadirkan berbagai kompetisi serta pertunjukan seni dari masing-masing negara peserta. Pada hari kedua, peserta dijadwalkan mengikuti kunjungan ke sejumlah situs budaya di Yogyakarta sebagai bagian dari pengenalan budaya lokal.
SANGAT ANTUSIAS
Salah satu peserta asal Turkiye, Rumeysa, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut karena dapat mengenal budaya dan kuliner dari berbagai negara. “Di sini kita bisa mengenal budaya dan kuliner dari banyak negara,” ujarnya sambil memperkenalkan hidangan khas seperti borek dan sutloc.
Peserta lain asal Korea Selatan, Poppy, juga menyampaikan kesannya terhadap keberagaman peserta dalam festival tersebut. Ia memperkenalkan minuman khas negaranya, subak hwa-chae, yang terbuat dari campuran buah segar, soda, dan susu. “Dari sekian banyak kuliner Korea Selatan, saya memilih memperkenalkan subak hwa-chae,” katanya.
Melalui kegiatan ini, UMY berharap dapat terus memperkuat peran sebagai kampus berwawasan global sekaligus mendorong terciptanya hubungan antarbangsa yang lebih harmonis melalui pendekatan budaya dan kuliner. (E-2)
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menggelar mudik bareng. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (7/3) yang diikuti sebanyak 335 mahasiswa dan 33 pendamping.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved