Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KECELAKAAN kereta api antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam membuat banyak orang kembali mengingat sejarah kelam yang sebelumnya terjadi. Sebelum tragedi di Bekasi Timur, Indonesia juga pernah mengalami masa kelam transportasi akibat kecelakaan kereta api yang merenggut korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar, hingga ratusan orang.
Transportasi kereta api di Indonesia memiliki sejarah panjang yang membentang lebih dari satu abad. Di balik efisiensinya sebagai moda transportasi massal, terselip catatan kelam mengenai berbagai kecelakaan kereta besar yang merenggut ratusan nyawa.
Mempelajari tragedi ini bukan sekadar mengenang duka, melainkan memahami evolusi sistem keamanan perkeretaapian nasional agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Secara historis, ini adalah salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan di masa pendudukan Jepang. Terjadi di Lembah Anai, Sumatra Barat, sebuah kereta api kehilangan kendali rem di jalur bergigi yang sangat curam. Kereta terjun ke jurang dan menewaskan sekitar 200 orang, yang sebagian besar adalah pekerja paksa (romusha) dan tentara Jepang.
Tragedi Bintaro merupakan kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini melibatkan tabrakan "adu banteng" antara KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota dan KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak di daerah Pondok Betung, Bintaro.
Penyebab utama kecelakaan ini adalah kesalahan komunikasi dan instruksi keberangkatan kereta yang tumpang tindih. Tercatat sedikitnya 156 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka berat. Peristiwa ini kemudian diangkat ke layar lebar dan menjadi pengingat keras akan pentingnya disiplin persinyalan.
Kecelakaan ini terjadi di kawasan Ratujaya, Depok, melibatkan dua kereta rel listrik (KRL) yang datang dari arah berlawanan di jalur tunggal (single track). KRL dari arah Jakarta bertabrakan dengan KRL dari arah Bogor.
Tragedi ini mengakibatkan 20 orang meninggal dunia dan seratusan orang luka-luka. Penyebabnya adalah miskomunikasi antara petugas pengatur perjalanan kereta api (PPKA) di Stasiun Depok dan Stasiun Citayam terkait posisi kereta di jalur tunggal tersebut.
Jalur antara Linggapura dan Cirahayu di Tasikmalaya dikenal memiliki medan yang ekstrem dengan tanjakan dan turunan tajam. Di sinilah terjadi Tragedi Trowek, di mana KA Galuh dan KA Kahuripan mengalami kegagalan fungsi rem (rem blong) saat melintasi turunan.
Kereta meluncur tak terkendali hingga masuk ke dalam jurang. Kecelakaan ini menewaskan sekitar 20 orang. Medan Trowek hingga kini tetap menjadi salah satu jalur yang paling diwaspadai oleh para masinis karena tingkat kecuramannya.
Tepat di hari Natal tahun 2001, terjadi tabrakan antara KA Empu Jaya dengan KA Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Ketanggungan Barat, Brebes. KA Empu Jaya menabrak KA Gaya Baru Malam yang sedang berhenti di jalur 2.
(H-3)
Mengulas Tragedi Ratujaya 1993, kecelakaan kereta api maut di Depok yang melibatkan tabrakan adu banteng dua rangkaian KRL dan menelan puluhan korban jiwa.
Mengulas kembali Tragedi Trowek 1995, kecelakaan kereta api maut di Tasikmalaya akibat rem blong yang menjadi pelajaran berharga bagi keselamatan transportasi Indonesia.
Mengulas sejarah Tragedi Lembah Anai 1944, kecelakaan kereta api terdahsyat di Sumatra Barat pada masa pendudukan Jepang yang menelan ratusan korban jiwa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved