Sejarah Kelam di Atas Rel: 5 Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia

Putri Rosmalia Octaviyani
29/4/2026 15:22
Sejarah Kelam di Atas Rel: 5 Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek.(Dok. Antara)

KECELAKAAN kereta api antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam membuat banyak orang kembali mengingat sejarah kelam yang sebelumnya terjadi. Sebelum tragedi di Bekasi Timur, Indonesia juga pernah mengalami masa kelam transportasi akibat kecelakaan kereta api yang merenggut korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar, hingga ratusan orang.

Transportasi kereta api di Indonesia memiliki sejarah panjang yang membentang lebih dari satu abad. Di balik efisiensinya sebagai moda transportasi massal, terselip catatan kelam mengenai berbagai kecelakaan kereta besar yang merenggut ratusan nyawa.

Mempelajari tragedi ini bukan sekadar mengenang duka, melainkan memahami evolusi sistem keamanan perkeretaapian nasional agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Berikut adalah daftar 5 kecelakaan kereta api terparah yang pernah terjadi di Indonesiaya

1. Tragedi Lembah Anai (25 Desember 1944)

Secara historis, ini adalah salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan di masa pendudukan Jepang. Terjadi di Lembah Anai, Sumatra Barat, sebuah kereta api kehilangan kendali rem di jalur bergigi yang sangat curam. Kereta terjun ke jurang dan menewaskan sekitar 200 orang, yang sebagian besar adalah pekerja paksa (romusha) dan tentara Jepang.

2. Tragedi Bintaro (19 Oktober 1987)

Tragedi Bintaro merupakan kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini melibatkan tabrakan "adu banteng" antara KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota dan KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak di daerah Pondok Betung, Bintaro.

Penyebab utama kecelakaan ini adalah kesalahan komunikasi dan instruksi keberangkatan kereta yang tumpang tindih. Tercatat sedikitnya 156 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka berat. Peristiwa ini kemudian diangkat ke layar lebar dan menjadi pengingat keras akan pentingnya disiplin persinyalan.

3. Tragedi Ratujaya, Depok (2 November 1993)

Kecelakaan ini terjadi di kawasan Ratujaya, Depok, melibatkan dua kereta rel listrik (KRL) yang datang dari arah berlawanan di jalur tunggal (single track). KRL dari arah Jakarta bertabrakan dengan KRL dari arah Bogor.

Tragedi ini mengakibatkan 20 orang meninggal dunia dan seratusan orang luka-luka. Penyebabnya adalah miskomunikasi antara petugas pengatur perjalanan kereta api (PPKA) di Stasiun Depok dan Stasiun Citayam terkait posisi kereta di jalur tunggal tersebut.

4. Tragedi Trowek (25 Oktober 1995)

Jalur antara Linggapura dan Cirahayu di Tasikmalaya dikenal memiliki medan yang ekstrem dengan tanjakan dan turunan tajam. Di sinilah terjadi Tragedi Trowek, di mana KA Galuh dan KA Kahuripan mengalami kegagalan fungsi rem (rem blong) saat melintasi turunan.

Kereta meluncur tak terkendali hingga masuk ke dalam jurang. Kecelakaan ini menewaskan sekitar 20 orang. Medan Trowek hingga kini tetap menjadi salah satu jalur yang paling diwaspadai oleh para masinis karena tingkat kecuramannya.

5. Tragedi Ketanggungan Brebes (25 Desember 2001)

Tepat di hari Natal tahun 2001, terjadi tabrakan antara KA Empu Jaya dengan KA Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Ketanggungan Barat, Brebes. KA Empu Jaya menabrak KA Gaya Baru Malam yang sedang berhenti di jalur 2.

(H-3)


 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya