Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI terik membakar bumi. Satu per satu perempuan berkerudung dan berkain sarung keluar dari lorong-lorong kecil pinggiran sawah Gampong (Desa) Dayah Bubue, Kemukiman Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.
Di atas kepala dan tangan mereka membawa wadah panci hidangan terbungkus kain penutup laksana dulang kenduri maulid. Sebagian lain menggunakan wadah rantangan jinjing bersusun rapi. Setiap lapisan rantangan berisi nasi dan beragam lauk ikan atau sayur masakan khas Aceh.
Di antara menu masakan berbumbu rempah khas bumi Serambi Mekah itu ialah kuah lemak santan sayur labu. Lalu ikan teri pepes dan telor sambal lado hingga kari ikan tuna atau tongkol khas kuah merah. Tidak ketinggalan sayur mayur tumis, kacang panjang pakai teri serta ikan dencis dan tongkol goreng.
Begitu wadah atau dulang hidangan satu persatu diletakkan di atas rumput pada pelataran bukit kecil tengah hamparan sawah, terhembus angin spoi-spoi. Sekejap saja mengeluarkan aroma menu masakan khas berbumbu rempah, hingga perut terasa lapar.
"Ini kenduri treoen u blang (kenduri turun ke sawah) sebelum mengawali membajak lahan. Dengan mengharap rida Allah, sebagai hamba tiada daya lagi tidak berkuasa, di sini kami berdoa semoga mendapat rahmat, nikmat dan tercurahkan rizki yang halal, sehat lagi berkah. Semoga benih padi yang kami tanami nanti luput dari serangan hama dan terhindar dari penyakit, sampai memperoleh hasil panen makmur melimpah serta sampai nisaf," tutur Teungku Jhuni Wahab, tokoh agama dan tetua adat Kemukiman Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, kepada Media Indonesia, di sela-sela acara kenduri blang, Senin (20/4) kala itu.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 13.15 WIB, persis saat jemaah Masjid Taqwa Lampoih Saka (sekitar 200 meter sebelah barat lokasi kenduri), usai menunaikan salat zuhur. Puluhan lelaki berkain sarung sudah berkumpul duduk lesehan bertilam rumput tebal, bak ambal permadani produk dari Turki.
Dua batang pohon besar jenis hagu dan keupula tumbuh bediri kokoh nan teduh lagi rindang yang seolah akarnya menusuk bumi. Pohon-pohon berdaun ramping lagi lansing dan lebat itu cukup rindang memayungi para petani yang lagi berzikir, samadiah, tahlil, serta doa bersama. Berkat doa semasa hidup sang ulama yang berpusara di gundukan bukit kecil itu, mereka mohon agar tersemai rida Ilahi serta menuai keberkahan hakiki.
Beberapa putra-putri berseragam SD dan siswa berbusana SMP baru pulang sekolah juga ikut berdoa menengadahkan tangan ke atas dengan raut wajah sendu, khusyuk dan penuh khidmat. Tatapan polos nan iklas itu bermakna penuh harap.
Raut wajah nan teduh, bola mata berkaca-kaca tampak mewarnai rangkaian doa dan upacara khanduri treoen u blang (kenduri turun ke sawah) siang itu. Di antara harapan para jemaah petani desa pedalaman itu, semoga Allah melindungi mereka dari fenomena El Nino yang bakal mendera negeri tanah rencong dan seantero bumi ibu pertiwi.
"Ya ALLAH, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya ALLAH, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan," demikian antara lain seruan doa dipimpin oleh Teungku Jhuni Wahab, yang juga Imam Rawatib Masjid Taqwa Lampoih Saka, sebagaimana tercantum dalam Hadis Riwayat Imam Bukhari.
Setelah rangkaian doa berakhir, beberapa pemuda langsung membuka bungkusan dulang hidangan kenduri serta berbagai wadah berisi lauk beragam masakan perempuan desa itu. Nasi kulah (nasi terbungkus daun pisang) pun dibagi seraya membuka bungkusannya dan diletakkan di hadapan semua yang hadir.
Terus beragam lauk ikan laut dan sayur juga dibagi sama rata dengan cara ditaruh dalam nasi berwadah daun pisang. Setelah semua bahan lauk menu itu di bagi rata, baru dipersilakan untuk menikmati bersama, tak ubahnya laksana bareng berkumpul satu keluarga besar.
Tradisi religi khanduri blang itu bukan hanya sekedar menikmati makan bersama ketika hendak memulai turun ke sawah. Ternyata kebersamaan itu jauh lebih bermakna dan memiliki pesan-pesan moral tiada tara, yaitu terkandung keagungan religi tiada terhingga, tersirat arti nilai sosial kemasyarakatan membahana dan terbangun kekompakan luar biasa.
Di kesempatan pertemuan itulah oleh keujruen blang (tokoh adat petani) menyampaikan titah untuk membersihkan saluran irigasi. Lalu seruan gotong royong membersihkan saluran irigasi, menyampaikan kapan mulai turun membajak lahan, hingga menjelaskan kondisi musim yang sedang berjalan dan fenomena El Nino bakal dihadapi.
"Sekarang kita berhadapan dengan musim kemarau panjang (fenomena El Nino). Mulai besok sudah harus mengaliri air mengisi ke semua petak lahan. Tiga hari ke depan traktor bajak sawah mulai masuk untuk membajak lahan dan mengolah tanah. Setelah itu segera menabur benih, menyemai bibit. Jangan sampai terlambat masa tanam. Nanti bisa berhadapan dengan musim kekeringan dan siklus hama penyakit," kata Teungku Jhuni Wahab mengajak semua petani setempat.
Tokoh Masyarakat Kecamatan Peukan Baro, Bukhari Thahir, mengatakan, khanduri blang merupakan kearifan lokal sebagai media menyatu kata petani. Lalu diskusi terbuka menyampaikan berbagai hal terkait jadwal turun ke sawah. Di situ keujruen blang (tokoh adat petani sawah) bisa mengarahkan warga untuk menentukan varietas benih padi yang sesuai untuk bercocok tanam pada musim (musim tanam kedua) yang dihadapi.
Di Katakan Bukhari, kawasan Kecamatan Peukan Baro, setiap satu blok hamparan sawah biasanya ada lokasi pelaksanaan khanduri blang. Itu akrab digelar pada tempat memiliki nilai sejarah religi atau lokasi makam ulama.
"Ada yang digelar di masjid tua (masjid kuno) bersejarah, banyak juga pada lokasi makam ulama yang dianggap keramat. Bukan mengagungkan lokasi itu, tetapi memohon doa melalui orang tercintanya atau pada tempat yang sejak dulu masjid sebagai tempat sujud," tutur Bukhari Thahir.
Adapun di lokasi gundukan bukit kecil di hamparan sawah Gampong Dayah Bubue, tempat warga menggelar kenduri blang itu, terdapat tiga makam syuhada. Satu di antaranya adah pusara ulama yang diperkirakan syahid sekitar abad 17 atau 18 M.
Warga menyebut lokasi bukit kecil di tengah sawah itu dengan nama Cot Beuringen. Letaknya persis sekitar 50 meter arah selatan jalan nasional Banda Aceh-Medan, Gampong (Desa) Dayah Bubue, Kemukiman Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.
Penelusuran Media Indonesia, satu di antara makam syuhada yang juga ulama itu diapit oleh pohon kupula pada bagian kaki dan bersisian pohon hagu di dekat nisan bagian kepala.
Konon tiga makam syuhada gugur dalam mempertahankan agama atau tampil sebagai pejuang bangsa. Mereka ialah tokoh atau ulama pada zamannya. Itu tergambar dari batu nisan terlukis kaligrafi Arab identik dengan abad ke-17 dan 18 M.
Warga tidak mengetahui secara persis nama-nama pemilik makam nisan kaligrafi itu. Pasalnya separuh nisan sudah tertutup dalam tanah dan ada bagian atas yang sudah patah.
"Sesuai penuturan orang-orang tua di sini dulu, ini kuburan Teungku keramat. Tapi tidak tahu siapa nama aslinya. Kami menyebut kuburan Teungku (makam Ulama). Beliau syahid dan jasadnya terpotong tiga oleh kekejaman musuh," tutur Muhammad Amin, 60, warga Kemukiman Lampoih Saka.
Versi lain menyebutkan, para pemilik makam tersebut syahid sekitar abad 18 atau awal 19 tatkala mereka menghadang pergerakan tentara kolonial Belanda di bekas jalur rel kereta api Medan-Banda Aceh. Sekarang menjadi jalur darat Nasional Banda Aceh-Medan berjarak sekitar 50 meter sebelah utara Cot Beuringen dana makan tiga syuhada itu bersemayam.
"Sebelah timur hingga 250 meter ke ke arah selatan ini masih ada bekas galian benteng (kurok-kurok: bahasa Aceh) pertahanan," tutur Teungku Jhuni Wahab yang juga imam rawatib Masjid Taqwa Lampoih Saka smbil menunjukkan lokasi bekas lubang galian benteng.
Menurut budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK) M Adli Abdullah, tradisi khanduri treoen u blang atau khanduri blang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam atau sekitar abad ke-15 M. Melalui tradisi religi itu terlaksana doa bersama, semangat gotong-royong, kesempatan bermusyawarah. Lalu sebagai media bersilaturrahmi dan membangun kekompakan serta kepedulian sosial sesama.
"Kenduri blang atau kenduri turun ke sawah bermakna kedekatan masyarakat Aceh dengan ajaran Islam yang di dalamnya terbangun rasa sosial dan kebersamaan. Doa bersama yang dipimpin oleh seorang Teungku menunjukkan bahwa untuk mendapat hasil panen itu perlu memohon melalui doa agar mendapat anugerah Allah," tutur Adli Abdullah juga dosen senior USK Banda Aceh itu.
Dikatakannya, melestarikan tradisi religi sebagai kekayaan budaya daerah merupakan identitas peradaban bangsa. Kearifan lokal itu teruji turun temurun dan terbukti efektif untuk dilanjutkan pada daerah dan sesuai kehidupan masyarakat di sana. (I-2)
Penurunan harga luar biasa itu memunculkan berbagai kecurigaan tidak sehat. Apakah ada permainan pasar atau ulah pengusaha besar yang melakukan monopoli harga.
Di kawasan Desa Dayah Caleue, Kecamatan Indrajaya misalnya, hasil panen kali ini menurun luar biasa.
Di Desa Pulo Tunong dan Desa Pulo Baroh, Kecamatan Delima misalnya, daun padi yang pekan lalu tampak subuh menghijau, sekarang sudah berubah warna mirip menjelang musim panen.
Puluhan hektare tanaman padi berumur berkisar 50 hari hingga 2 bulan di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, diduga terserang kresek. Itu merupakan tanaman padi musim gadu.
PETANI di Kawasan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, mulai tersenyum kecil. Pasalnya harga gabah kering panen di wilayah pesisir Selat Malaka itu kini semakin menggembirakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved