Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
USAHA Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Jumlahnya mencapai sekitar 99% dari total unit usaha dan mampu menyerap hingga 97% tenaga kerja. Namun, sektor ini dinilai masih menghadapi berbagai kendala yang membuatnya sulit naik kelas.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kussusyarsana, mengatakan salah satu persoalan utama UMKM, khususnya yang berbasis bisnis keluarga, adalah lemahnya tata kelola. Menurut dia, hubungan antara keluarga dan bisnis yang bercampur kerap menimbulkan masalah berulang.
“Ada tiga karakteristik khas bisnis keluarga yang sekaligus menjadi sumber kekuatan dan kerentanan,” ujar Kussusyarsana menjelang pengukuhannya sebagai guru besar pada Rabu (29/4).
Ia menjelaskan, keterikatan emosional terhadap usaha dan keinginan mempertahankan kepemilikan lintas generasi sering kali menjadi tantangan. Sekitar 90% perusahaan keluarga tidak mampu bertahan hingga generasi kedua dan ketiga.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena minimnya perencanaan dari generasi pertama. Selain itu, pemberian kepercayaan yang berlebihan kepada anggota keluarga berisiko menurunkan disiplin serta melemahkan kontrol dalam tata kelola bisnis.
“Sering kali dalam proses rekrutmen, anak atau kerabat yang tidak memiliki minat maupun kompetensi tetap dipaksakan masuk. Ini menjadi akar persoalan dalam pengelolaan UMKM keluarga,” katanya.
Selain masalah internal, UMKM juga menghadapi kendala dari sisi kelembagaan. Kussusyarsana menyebutkan masih rendahnya tingkat legalitas dan pencatatan keuangan menjadi hambatan besar bagi pengembangan usaha.
“Saat ini hanya sekitar 1,22%UMKM yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), dan hanya 3,51%yang memiliki laporan keuangan,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya daya saing UMKM di tingkat global. Selama 20 tahun terakhir, partisipasi UMKM Indonesia dalam rantai nilai global hanya meningkat sekitar 4%. “Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan Vietnam yang bisa tumbuh 15 hingga 20%,” kata dia.
Ia menilai, untuk mendorong UMKM naik kelas, diperlukan kombinasi antara tata kelola formal dan tata kelola relasional yang lebih baik. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha atau konsep triple helix perlu diperkuat.
“UMKM keluarga membutuhkan penguatan sistem yang tidak hanya berbasis hubungan emosional, tetapi juga profesional agar mampu bersaing secara global,” ujar Kussusyarsana.
Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Surakarta dijadwalkan mengukuhkan dua guru besar pada 29 April, yakni Kussusyarsana dari bidang ekonomi dan Arum Pratiwi dari bidang keperawatan jiwa. Dengan penambahan tersebut, UMS kini memiliki total 72 profesor, yang menjadi capaian tertinggi di kalangan perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved