Banjir Bandang Tapanuli Utara, Ratusan Warga Mengungsi di Gereja dan Kantor Desa

Irvan Sihombing
24/4/2026 17:09
Banjir Bandang Tapanuli Utara, Ratusan Warga Mengungsi di Gereja dan Kantor Desa
Seorang anak di Desa Sibalanga Julu, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara menatap proses pembangunan huntara bagi penyintas bencana lonsor di daerah setempat, Jumat (23/1/2026).(ANTARA/Mario Sofia Nasution)

SEBANYAK 150 keluarga di Kecamatan Simangumban, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, terpaksa mengungsi ke Gereja GKPA dan kantor desa setempat setelah banjir bandang menerjang wilayah mereka pada Rabu (22/4/2026) petang. 

Bencana dipicu hujan ekstrem ini menyebabkan tiga rumah hanyut, satu jembatan hilang, hingga jaringan listrik padam total, sementara petugas gabungan mulai menyalurkan bantuan logistik di titik-titik pengungsian.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan Gereja GKPA Simangumban dan Kantor Desa Aek Nabara di Kecamatan Simangumban digunakan sebagai tempat pengungsian sementara.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan yang dapat memicu banjir lanjutan, terutama di wilayah dengan kondisi tanah yang sudah jenuh air.

BNPB mencatat sebanyak 150 kepala keluarga dari Desa Simangumban Julu dan Desa Aek Nabara terdampak banjir bandang yang terjadi pada Rabu (22/4/2026) petang.

Bencana yang dipicu hujan berintensitas tinggi tersebut menyebabkan kerusakan cukup besar, dengan 150 rumah terdampak dan tiga di antaranya hanyut terbawa arus.

Selain rumah warga, satu jembatan dilaporkan hilang, sementara satu mushalla dan satu fasilitas pendidikan mengalami kerusakan.

“Hingga Kamis (23/4) jaringan listrik di wilayah terdampak masih padam. Selain kerugian harta benda, satu orang warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat terseret material banjir bandang ini,” ujar Abdul.

Petugas Lakukan Pendampingan di Lokasi

Tim gabungan masih berada di lapangan untuk melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan perangkat desa guna memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.

Pemanfaatan gereja dan kantor desa sebagai lokasi pengungsian dinilai memudahkan distribusi bantuan dan pendampingan bagi para penyintas.

Peristiwa di Tapanuli Utara merupakan bagian dari tiga bencana hidrometeorologi yang tercatat BNPB dalam periode 23–24 April 2026. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya