Jejak Sunyi Pemulihan di Desa Batu Godang

Cahya Mulyana
22/4/2026 17:49
Jejak Sunyi Pemulihan di Desa Batu Godang
Mahasiswa Universitas Aufa Royhan(dok.istimewa)

PAGI di Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, kini menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di halaman rumah warga, pipa-pipa sederhana tersusun rapi, meneteskan air ke tanaman hijau yang tumbuh perlahan. Di sudut lain desa, suara tawa anak-anak kembali terdengar dari ruang belajar darurat yang dibangun seadanya.

Tidak ada kemewahan yang mencolok. Yang tampak hanyalah tanda-tanda kehidupan yang perlahan pulih. Di balik perubahan itu, berlangsung kerja sunyi selama berminggu-minggu—upaya yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa dampaknya.

Kehadiran mahasiswa dari Universitas Aufa Royhan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mereka datang bukan sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi ikut merasakan denyut kehidupan masyarakat yang masih menyimpan trauma pascabencana.

Rektor Dr. Anto J. Hadi turut hadir bersama para dosen dan pembina yayasan, menyapa warga secara langsung dan memastikan setiap langkah yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan. Kami memilih mendengar lebih dulu, memahami apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujar Anto di sela kunjungannya.

Program bertajuk Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra dijalankan dengan pendekatan bertahap. Segala sesuatu dimulai dari percakapan sederhana—di balai desa, di rumah warga, hingga di teras-teras kecil. Dari proses itu, kepercayaan perlahan tumbuh.

Di Desa Batu Godang dan Dusun Sirongit, pemulihan tidak lagi dimaknai sebagai pembangunan fisik semata. Lebih dari itu, proses ini menjadi upaya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali berdiri mandiri.

Salah satu perubahan terlihat dari keterlibatan ibu-ibu PKK dalam edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi mulai berperan aktif sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.

“Kami jadi lebih paham bagaimana menjaga kesehatan keluarga, apalagi setelah bencana. Sekarang kami saling mengingatkan,” kata seorang anggota PKK.

Di sisi lain, mahasiswa memperkenalkan hidroponik skala rumah tangga. Dengan peralatan sederhana, warga diajak menanam dan merawat tanaman sendiri. Metode ini menjadi solusi di tengah keterbatasan lahan dan sumber daya.

“Awalnya kami ragu, tapi setelah melihat hasilnya, kami yakin ini bisa membantu kebutuhan sehari-hari,” ujar salah satu warga.

Sementara itu, anak-anak yang sebelumnya kehilangan ritme belajar mulai kembali menemukan semangatnya. Di sekolah darurat, mereka belajar sambil bermain melalui pendekatan *trauma healing* yang membuat suasana lebih ringan dan menyenangkan.

“Sekarang anak-anak sudah mulai ceria lagi. Mereka tidak takut seperti dulu,” ungkap seorang relawan.

Program ini juga menyentuh aspek ekonomi keluarga. Warga diajak memahami pencatatan sederhana, menghitung biaya produksi, hingga merencanakan usaha kecil. Meski terlihat sederhana, keterampilan ini menjadi bekal penting bagi masyarakat yang sedang bangkit dari keterpurukan.

Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai tampak dalam keseharian warga. Tidak dalam bentuk yang besar, tetapi hadir dalam hal-hal kecil—kebun di halaman rumah, catatan di buku tulis, hingga tawa anak-anak yang kembali mengisi ruang desa.

Secara administratif, program ini mungkin akan berakhir. Mahasiswa akan kembali ke kampus dan laporan kegiatan akan disusun. Namun, jejak yang ditinggalkan tidak berhenti di sana.

“Yang kami harapkan bukan hanya program selesai, tetapi masyarakat bisa melanjutkan dan mengembangkan apa yang sudah dimulai,” kata Anto.

Di Desa Batu Godang, yang tumbuh bukan sekadar hasil kegiatan, melainkan perubahan yang hidup. Pengetahuan menjadi keterampilan, rasa percaya diri yang sempat rapuh mulai menguat, dan kebersamaan menjelma menjadi daya tahan sosial.

Harapan hadir tanpa gegap gempita. Ia tumbuh dalam hal-hal sederhana—pada tanaman yang dirawat, pada ibu-ibu yang kini berani berbagi pengetahuan, dan pada anak-anak yang kembali belajar tanpa rasa takut.

Di situlah makna pengabdian perguruan tinggi menemukan bentuk nyatanya: bukan sekadar menyelesaikan program, tetapi meninggalkan jejak yang terus tumbuh, bahkan setelah langkah kaki para mahasiswa kembali ke kampus. (Ant/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya