Tim Peneliti Lintas Negara Kumpulkan Data Biofisik Mangrove di Jembrana, Bali

Ruta Suryana
22/4/2026 13:20
Tim Peneliti Lintas Negara Kumpulkan Data Biofisik Mangrove di Jembrana, Bali
Tim peneliti lintas negara melakukan mengumpulkan data biofisik mangrove di Budeng, Kabupaten Jembrana, Bali.(Dok.Istimewa)

TIM peneliti lintas negara melakukan mengumpulkan data biofisik mangrove di Budeng, Kabupaten Jembrana, Bali. Proyek International Joint Research on Mangrove Ecosystems ini menjadi payung besar bagi para ilmuwan Kookmin University (Korea Selatan) untuk berkolaborasi dengan Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) serta juga diperkuat akademisi dari Universitas Warmadewa dan Universitas Dhyana Pura.  

Fokus utama tim peneliti ini tertuju pada pengumpulan data biofisik yang presisi, bukan sekadar seremoni formal. Tim peneliti melakukan pengambilan sampel vegetasi dan sedimen secara mendalam di bawah terik matahari pesisir Jembrana. Langkah pengambilan sampel sedimen ini menjadi krusial karena tanah di bawah tegakan mangrove mampu menyimpan karbon biru jauh lebih besar dibandingkan hutan tropis di daratan. 

Seperti disampaikan I Putu Sugiana,  dosen Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Warmadewa yang terjun langsung dalam riset ini, menjelaskan bahwa analisis sedimen akan membuka tabir mengenai fungsi ekologis kawasan tersebut.

"Analisis terhadap sampel sedimen memungkinkan kita memahami karakteristik penyimpanan karbon dan struktur vegetasi yang ada. Data ini menjadi kunci untuk melihat sejauh mana peran kawasan Budeng dalam mitigasi perubahan iklim secara nyata," ungkap Sugiana di sela-sela kegiatan lapangan, Selasa (21/4).

LIBATKAN MAHASISWA 
Dalam riset ini juga melibatkan mahasiswa yang menjadi bagian krusial dari proses transfer pengetahuan. Mereka mempelajari teknik pengambilan data sekaligus memahami bahwa setiap sentimeter lapisan lumpur mangrove mengandung informasi tentang sejarah lingkungan serta kemampuan adaptasi pesisir terhadap kenaikan air laut.

Riset kolaboratif ini mencerminkan bentuk diplomasi sains yang nyata, melampaui sekadar pengumpulan data teknis. Masalah iklim tidak mengenal batas negara sehingga kerusakan mangrove di satu titik pesisir akan berdampak pada resiliensi kawasan secara global.

Kemitraan antara institusi Korea Selatan dengan institusi lokal di Bali menunjukkan bahwa penyelamatan lingkungan memerlukan standar ilmiah internasional yang dipadukan dengan pemahaman konteks lokal. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya berakhir di meja laboratorium atau jurnal ilmiah, tetapi menjadi basis data bagi pengambil kebijakan dalam memetakan kawasan konservasi mangrove yang lebih efektif.

Ekosistem mangrove bukan sekadar sabuk hijau pelindung pesisir dari ancaman abrasi. Akar tunjang yang rapat dan hamparan lumpur di bawahnya menyimpan arsip alam raksasa yang menentukan nasib iklim global.  (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya