Dari Tanah Liat Pedalaman NTT, Srikandi Heroik Tumbuhkan Numerasi Anak Usia Dini

Palce Amalo
21/4/2026 07:50
Dari Tanah Liat Pedalaman NTT, Srikandi Heroik Tumbuhkan Numerasi Anak Usia Dini
(MI/HO)

JALANAN tanah liat berwarna cokelat kemerahan tampak licin dan berlumpur setelah diguyur hujan. Di bawah lapisan lumpur itu, bebatuan tajam siap menguji ketahanan siapa pun yang melintas. Inilah potret harian akses menuju Desa Laob, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di tengah keterbatasan geografis dan minimnya fasilitas umum, seorang srikandi pendidikan bernama Indri Kristiana Koa mendedikasikan hidupnya. Guru Taman Kanak-kanak (TK) ini memulai perjalanannya dari Kota Soe setiap pukul 06.00. Jarak 35 kilometer ditempuhnya selama dua jam sekali jalan, menghadapi tantangan alam yang tak main-main.

Tantangan terberat adalah sungai yang membelah jalur utama menuju sekolah. Saat musim kemarau, sungai mungkin bersahabat. Namun, ketika musim hujan tiba, debit air meluap deras. Tak jarang, Indri harus bertaruh nyawa menyeberang sendiri atau dibantu warga setempat demi mencapai sekolah.

"Takut pasti ada, apalagi kalau air sungai sedang tinggi. Namun, anak-anak menunggu di sekolah. Jadi saya bertekad untuk terus bertemu dan mengajar mereka," ungkap Indri dengan nada tegar.

Inovasi di Tengah Keterbatasan Wilayah 3T

TK Negeri Baob ialah satu-satunya layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Laob, wilayah yang masuk kategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Fasilitasnya sangat bersahaja. Hanya ada satu ruang kelas yang harus berbagi fungsi untuk Kelompok A dan Kelompok B.

Kondisi ekonomi orangtua yang mayoritas petani membuat sekolah tidak bisa membebankan biaya tinggi. Iuran sekolah pun hanya dipatok sekitar Rp10 ribu per anak. Akses internet? Nyaris tidak ada. Indri harus memutar otak, mengunduh video pembelajaran di kota untuk kemudian dipresentasikan secara offline di kelas.

Masalah utama yang dihadapi Indri adalah rendahnya kemampuan numerasi siswa. Banyak anak yang belum mengenal simbol angka sama sekali. Metode konvensional menggunakan buku sering kali membuat mereka jenuh.

"Numerasi sejak dini adalah fondasi kognitif untuk berpikir logis dan sistematis. Ini membantu anak memahami konsep matematika dasar melalui bermain," jelasnya.

Tanah Liat: Media Belajar dari Alam

Menyadari media pabrikan sulit dijangkau, Indri melirik potensi lokal yang melimpah di Desa Laob: tanah liat. Ia mengajak anak-anak keluar kelas, menggali tanah di halaman sekolah, dan mencampurnya dengan air.

Di tangan mungil anak-anak pedalaman NTT, tanah liat itu dibentuk menjadi simbol-simbol angka. Ada yang membentuk garis lurus untuk angka satu, ada pula yang membuat lingkaran untuk angka nol. Tanpa paksaan, proses belajar berubah menjadi arena bermain yang penuh tawa.

"Waktu mereka membentuk sendiri. Anak-anak jadi lebih cepat mengenal angka. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi memahami," kata Indri. Inovasi sederhana ini terbukti meningkatkan minat belajar, motorik halus, hingga kreativitas anak secara signifikan.

Catatan Keberhasilan: Melalui media tanah liat, Indri berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk menumbuhkan literasi dan numerasi pada anak usia dini di pelosok negeri.

Apresiasi Nasional

Dedikasi luar biasa Indri Kristiana Koa tidak luput dari perhatian nasional. Perjuangannya mengantarkan dirinya meraih gelar Guru Heroik pada ajang Askrindo PAUD Award Indonesia (APIA) 2025.

Direktur Kepatuhan, SDM, dan Manajemen Risiko Askrindo, R Mahelan Prabantarikso, menegaskan bahwa perusahaan secara konsisten mendukung peningkatan kualitas PAUD dan penguatan kapasitas guru secara berkelanjutan.

"Sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) No. 4 yakni Pendidikan Berkualitas, Askrindo percaya bahwa investasi di bidang pendidikan anak usia dini adalah investasi strategis bagi masa depan bangsa," ujar Mahelan.

Hingga saat ini, ribuan guru telah menerima manfaat dari program-program Askrindo. Kisah Indri Kristiana Koa menjadi pengingat bahwa di balik lumpur dan sungai deras pedalaman NTT, ada semangat yang tak kunjung padam untuk mencetak Generasi Emas Indonesia.

"Belajar itu tidak harus selalu di dalam kelas. Dari hal-hal sederhana di sekitar kita, anak-anak bisa belajar banyak," tutup Indri. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya