Kementan Andalkan Inseminasi Buatan untuk Dongkrak Populasi Sapi dan Kerbau

Depi Gunawan
20/4/2026 20:32
Kementan Andalkan Inseminasi Buatan untuk Dongkrak Populasi Sapi dan Kerbau
Ilustrasi(Dok Istimewa)

DIREKTUR Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda menyebutkan, bahwa saat ini Indonesia surplus daging ayam dan telur.

Namun, untuk daging sapi dan kerbau, produksi nasional pada 2026 baru diproyeksikan mencapai 479 ribu ton atau sekitar 50 persen dari kebutuhan nasional sebesar 964 ribu ton. Sementara produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional.

Hal itu Agung sampaikan saat kunjungan kerja Ketua Komite II DPD RI, Angelius Wake Kako ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Jawa Barat.

"Pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi dan produktivitas sapi dan kerbau, antara lain melalui penerapan teknologi inseminasi buatan. Tujuannya untuk memperbaiki mutu genetik ternak, meningkatkan angka kelahiran ternak secara teratur, mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul, dan mencegah penularan penyakit," kata Agung, Senin (20/4).

Ia menyatakan, pemerintah telah memastikan ketersediaan semen beku berkualitas melalui dua Balai Inseminasi Buatan nasional, yakni Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari di Jawa Timur dan BIB Lembang di Jawa Barat.

"Artinya kita sudah swasembada semen beku dari sisi jumlah. Saat ini stok semen beku di BIB Lembang mencapai 6,9 juta dosis, sementara di BBIB Singosari sebanyak 4,8 juta dosis," ujarnya.

Program inseminasi buatan juga telah menunjukkan hasil nyata. Melalui Upsus SIWAB dan SIKOMANDAN pada 2017–2023, layanan telah menjangkau 25,5 juta akseptor sapi dengan kelahiran ternak mencapai 13,85 juta ekor atau setara nilai ekonomi Rp 69,3 triliun.

Pada 2026, Kementerian Pertanian menargetkan layanan IB di 20 provinsi wilayah introduksi dengan fasilitasi 250 ribu dosis semen beku dan 14.089 liter nitrogen cair, serta target kelahiran pedet sebanyak 142.500 ekor pada 2027.

"Subsektor peternakan memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani berupa daging, susu, dan telur untuk mendukung ketahanan pangan nasional, yang menjadi salah satu prioritas Presiden periode 2025–2029," bebernya.

Sementara itu, Angelius Wake Kako menilai, bahwa inseminasi buatan merupakan isu strategis yang harus dikawal bersama karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional.

"BIB Lembang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Pertanian yang berperan strategis dalam penyediaan semen beku berkualitas dan pengembangan teknologi reproduksi ternak," kata Angelius Wake Kako.

Namun dalam pelaksanaannya, ia mengakui, masih terdapat tantangan terkait rendahnya tingkat adopsi teknologi oleh peternak, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia atau inseminator, serta kendala distribusi semen beku ke berbagai daerah di Indonesia.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu dijawab melalui penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

"Oleh karena itu, diperlukan penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan dalam mendorong efektivitas program inseminasi buatan serta penyusunan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis kebutuhan peternak," tuturnya.

Angelo juga menilai petugas inseminator bukan hanya menjalankan tugas teknis, tetapi menjadi pendamping penting bagi peternak dalam meningkatkan kualitas usaha.

"Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan hingga ke tingkat peternak dan petugas lapangan. Ketika inseminator kuat, maka peternak juga akan lebih percaya diri dalam mengembangkan usahanya, dan pada akhirnya ketahanan pangan nasional akan semakin kokoh," jelasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya