DI balik rimbunnya hutan di Pulau Flores bagian barat, suara air jatuh bersahutan membelah sunyi. Di Desa Wisata Wae Lolos, air bukan sekadar lanskap, ia adalah identitas. Warga menyebut kawasan ini sebagai Seribu Air Terjun, julukan yang kini kian relevan seiring meningkatnya atensi wisatawan mancanegara.
Perjalanan menuju Wae Lolos di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukanlah perjalanan instan. Jalan setapak, vegetasi lebat, dan udara lembap menjadi pembuka sebelum pengunjung disuguhi pemandangan air jernih yang mengalir di antara batuan alami. Namun, justru di situlah letak daya tariknya: keaslian yang belum tersentuh modernisasi secara berlebihan.
Dominasi Wisatawan Mancanegara
Data dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 14.977 wisatawan telah berkunjung ke desa ini.
| Kategori Wisatawan | Jumlah Kunjungan (2025) |
|---|---|
| Wisatawan Mancanegara | 9.422 |
| Wisatawan Lokal | 5.018 |
| Wisatawan Domestik | 537 |
| Total | 14.977 |
Angka ini memperlihatkan fenomena unik yaitu Wae Lolos lebih dahulu dikenal secara global sebelum sepenuhnya ramai oleh pasar domestik. Jika ditarik sejak awal geliatnya pada Juni 2023 hingga akhir 2025, total kunjungan mencapai 28.289 orang dengan komposisi yang relatif berimbang antara wisatawan lokal (13.627) dan mancanegara (14.125).
Komitmen Berbasis Komunitas
Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, menegaskan bahwa lonjakan ini merupakan hasil kerja kolektif warga yang mengelola pariwisata berbasis komunitas.
Menurut Robert, dominasi turis asing menjadi indikator bahwa standar pelayanan di Wae Lolos mulai memenuhi ekspektasi global. Namun, hal ini juga membawa tantangan besar dalam menjaga kualitas tanpa kehilangan jati diri desa.
"Kami tidak ingin menjadi destinasi yang kehilangan ruhnya. Pariwisata harus tumbuh, tapi tidak boleh merusak. Itu prinsip yang terus kami pegang," tambahnya.
Filosofi Mai Ga Ite
Di pintu masuk kawasan, pengunjung disambut tulisan sederhana yaitu MAI GA ITE yang berarti selamat datang. Kalimat ini bukan sekadar formalitas, melainkan filosofi keterbukaan masyarakat Manggarai terhadap tamu tanpa meninggalkan akar budaya.
Berbeda dengan destinasi yang dibangun dengan investasi besar, Wae Lolos tumbuh secara organik dari kesadaran warga. Mereka merawat jalur trekking secara mandiri, menjaga kebersihan, hingga belajar berinteraksi dengan wisatawan asing secara bertahap. (I-2)
Menghadapi masa depan, Pokdarwis bersama masyarakat mulai menata ulang sistem kunjungan dan memperkuat kapasitas pemandu lokal. Tujuannya jelas: memastikan setiap wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami dan menghargai ekosistem yang ada agar Wae Lolos tetap lestari dalam jangka panjang.
(Marianus Marselus/Media Indonesia)
