Desa Adat Denpasar Komit Dukung Penanganan Sampah Organik di Sumber

Ruta Suryana
19/4/2026 22:40
Desa Adat Denpasar Komit Dukung Penanganan Sampah Organik di Sumber
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma saat menghadiri sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber, Minggu (19/4).(MI/Ruta Suryana)

KOMITMEN penanganan sampah berbasis sumber terus mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Kali ini datang dari Desa Adat Denpasar yang berkomitmen untuk mendukung pengolahan sampah organik di sumber. 

Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma menyampaikan permasalahan sampah merupakan tantangan bersama. Karenanya, penanganannya pun memerlukan komitmen dari seluruh pihak, termasuk dari pemerintah, lembaga hingga masyarakat itu sendiri.

“Kami berkomitmen untuk penanganan sampah, utamanya sampah organik dari sumber, dan ini juga sudah disepakati oleh para prajuru banjar adat yang hadir. Harapan kami bisa optimal dalam penanganan sampah organik di sumber,” ujar Wirakesuma di hadapan Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara pada kegiatan sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber di Wantilan Setra Agung Badung, Desa Adat Denpasar, Minggu (19/4).

Menurutnya, sinergi antara dinas dan adat tidak dapat dipisahkan. Sebab desa adat juga memiliki peran sentral dalam kebijakan penanganan persampahan. Dengan mewilayahi 106 banjar, Desa Adat Denpasar memiliki wilayah luas sehingga diperlukan kesepakatan serta kesepahaman dalam penanganan sampah.  

Saat ini, lanjut Wirakesuma, Desa Adat Denpasar terus berupaya menangani sampah organik secara mandiri, terutama sampah upakara. Namun demikian, penanganannya hanya akan optimal jika masyarakat mendukung dengan memilah dan mencacah sampah organik. 

“Jadi perlu kerja sama dan sinergitas, pemerintah menangani yang an organik dan residu, kita di masyarakat termasuk Desa Adat Denpasar menangani yang organik,” ujarnya. Pihaknya  juga  sudah menyiapkan lahan untuk penampungan yang nantinya akan dijadikan taman atau ruang terbuka hijau.

Sementara itu Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengaku bersyukur atas sinergi dan komitmen dari Desa Adat Denpasar dalam penanganan sampah organik. Hal ini tentu menjadi wujud nyata bahwa penanganan persampahan wajib dilaksanakan secara bersama-sama. 

“Kami berharap, budaya baik dalam memilah sampah agar terus ditularkan, sehingga nanti kita di Kota Denpasar bisa optimal dalam penanganan sampah sampai PSEL beroperasi, dan kita sangat berterima kasih atas komitmen dari Desa Adat Denpasar,” ujarnya.

Jaya Negara menjelaskan, walaupun nanti dalam praktiknya, PSEL mampu mengolah sampah campuran namun kualitas dan dampak pengolahan sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk ke dalam sistem. Sehingga sampah yang dihasilkan oleh masyarakat harus tetap dipilah untuk memastikan input sampah yang digunakan benar-benar berkualitas. 

“Untuk diketahui bersama, bahwa Waste to Energy memerlukan sampah berkualitas, sehingga sampah yang terpilah akan mendukung optimalisasi dari PSEL tersebut,” jelasnya.

Dia menjelaskan, sampah yang sudah dipilah dari sumber (seperti pemisahan sampah organik, anorganik dan residu) memiliki nilai kalori yang lebih stabil dan kandungan air yang lebih rendah. Kondisi ini membuat proses pembakaran di PSEL menjadi lebih efisien, menghasilkan energi listrik yang lebih optimal serta dapat menekan potensi emisi berbahaya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya