Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN mempertahankan proses pengolahan tradisional Kopi Aroma Bandung, hingga kini tetap mempertahankan cita rasanya. Kopi legendaris yang berdiri sejak 1930 di sebuah sudut Kota Bandung, tepatnya di Jalan Banceuy, seolah menolak tunduk pada zaman dan menjadi bagian sejarah Kota Kembang, julukan Bandung, dari zaman kolonial Belanda, Jepang dan era kemerdekaan hingga kini.
Bagi penikmat kopi, Kopi Aroma berdiri seperti ingatan yang tak akan pudar. Semua bermula dari Tan Houw Sian, seorang perintis yang memilih jalan sunyi dengan menjaga rasa, bukan mengejar ramai. Ia tidak hanya meracik kopi, tetapi menanamkan satu hal yang kini terasa langka, kejujuran dalam setiap proses.
Warisan itu diteruskan oleh Widyapratama, lalu kini dijaga oleh Monica, generasi ketiga yang sejak 2013 mulai memanggul beban yang sama. Mempertahankan sesuatu yang tidak boleh berubah, bahkan ketika dunia berubah terlalu cepat. Di sini, kopi tidak pernah diperlakukan sebagai produk cepat saji.
Biji kopi disangrai menggunakan mesin buatan Jerman, mesin tua tetap bekerja setia hingga kini, dengan bahan bakar dari kayu karet. Api dari kayu itu menyala perlahan selama delapan jam, seolah mengajarkan satu hal sederhana, bahwa rasa yang jujur tidak bisa dipercepat.
Setelah disangrai, kopi tidak langsung dijual. Ia disimpan selama lima hingga delapan tahun. Didiamkan. Dibiarkan matang oleh waktu. Seperti manusia yang belajar sabar, kopi di sini pun “ditumbuhkan” dengan cara yang sama.
Pilihan produknya pun tak berubah sejak awal sebelum Indonesia merdeka, hanya mokka arabika dan robusta, yang kopinya didatangkan dari daerah-daerah yang terkenal dengan kopi nya, seperti Aceh, Lampung, Jawa dan Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.
Dua jenis, satu keyakinan. Justru dari keterbatasan itu lahir kesetiaan pelanggan yang tak tergoyahkan lintas generasi. Namun yang paling menggetarkan bukan sekadar metode, melainkan sikap.
MENJUAL LANGSUNG DI TOKO
Di tengah godaan untuk memperbesar produksi, membuka cabang, atau menjangkau pasar lebih luas, Widyapratama memilih bertahan dengan cara lama, menjual langsung di toko, membatasi pembelian maksimal tiga kilogram per orang. Keputusan yang bagi sebagian orang terasa tak masuk akal, tetapi justru di situlah letak integritasnya.
“Ini dilakukan untuk memastikan bahwa kopi tetap tersedia bagi semua pelanggan. Karena kapasitas produksinya terbatas dan proses pengolahannya perlu waktu yang lama,” tutur Widya.
Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan sesuatu yang lebih dalam, keberanian untuk berkata cukup, ketika dunia terus mendorong lebih, Monica memahami betul bahwa yang ia jaga bukan sekadar usaha, melainkan nilai.
“Bagi kami, yang paling penting adalah memastikan kopi yang dihasilkan tetap sehat dan alami. Tidak menggunakan bahan tambahan kimia menjadi prinsip yang kami pegang setiap hari,” paparnya.
ARSIP KENANGAN
Di gudang penyimpanan, waktu benar-benar terasa hidup. Karung-karung kopi tersusun seperti arsip kenangan. Seorang sahabat keluarga dari Amerika, , Francis, merasakan langsung pengalaman itu dan tersimpan rapi dalam ingatannya.
“Dan saya seperti, ‘Wow, Kopi Aroma!’, kan? Dan aromanya luar biasa… Dia bilang, ‘Oh, ini delapan belas tahun, oh ini tujuh [tahun]’. Saya merasa, ‘Wow!’,” ucapnya.
Kekaguman Francis itu bukan hanya pada usia kopi, tetapi pada kesetiaan sebuah keluarga menjaga proses yang nyaris tak terlihat. Bahkan dalam hal cara minum, ada cerita kecil yang menyentuh tentang gula, tentang kesehatan, tentang perubahan cara pandang.
“Memang harus ada sedikit gula,” ujar salah satu pembicara. “Jadi Profesor Hendro memberikan edukasi kepada kami tentang efek kopi.”
Percakapan sederhana, tapi menyiratkan bahwa kopi di tempat ini selalu berdialog dengan tubuh, dengan waktu dan dengan pengetahuan. Lebih dari sekadar minuman, Kopi Aroma pernah menjadi bagian dari sejarah, hadir dalam jamuan di Hotel Savoy Homann saat momen Konferensi Asia Afrika (KAA)
“Kopi Aroma, jelas, kita menggunakannya di Savoy selama Asia Afrika, ya. Tapi yang kita cari adalah hubungan jangka panjang antara Asia Afrika dan kopi,” jelas Francis.
Dan kini, di tengah riuh tren kopi kekinian, tempat ini tetap memilih diam. Tidak membuka cabang. Tidak mengubah resep. Tidak mempercepat apa yang memang harus berjalan lambat.
Dari Tan Houw Sian, ke Widyapratama, hingga Monica, yang diwariskan bukan hanya teknik, tetapi sikap hidup, jujur pada proses, setia pada rasa, dan teguh menjaga keharuman yang telah dicintai selama hampir satu abad. Aroma itu, pada akhirnya, bukan hanya milik kopi. Ia adalah aroma keteguhan.(E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved