Pelabuhan Pangkalbalam Dongkrak Ekonomi Babel

Rendy Ferdiansyah
17/4/2026 08:31
Pelabuhan Pangkalbalam Dongkrak Ekonomi Babel
Pekerja bongkar muat sedang bekerja memindahkan crude palm oil ( CPO) dari truk tangki ke kapal.(MI/Rendy Ferdiansyah)

PELABUHAN Pangkalbalam di pusat Kota Pangkalpinang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian dan pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pelabuhan nonpetikemas ini dilengkapi berbagai fasilitas dengan panjang dermaga mencapai 649 meter dan mengoperasikan terminal multipurpose.

Sejumlah dermaga yang tersedia, seperti dermaga beton, sheet pile, hingga dermaga perahu layar, melayani aktivitas bongkar muat beragam komoditas, mulai dari pupuk, semen, bahan bangunan, karet, hingga komoditas unggulan seperti crude palm oil (CPO) dan turunannya.

Sepanjang 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam mencatat throughput sebesar 1,6 juta ton dengan dominasi curah cair mencapai 33,24 persen. Sementara pada triwulan I 2026, realisasi bongkar muat tercatat 391.624 ton dengan porsi curah cair meningkat menjadi 35,18 persen.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam, Alamsyah, mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan layanan curah cair, khususnya CPO, seiring tingginya potensi komoditas sawit di wilayah tersebut.

“Peningkatan layanan terus kami lakukan, khususnya untuk CPO dan turunannya agar proses bongkar muat lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” ujar Alamsyah, Kamis (16/4).

Ia menjelaskan, berbagai inovasi operasional telah diterapkan, salah satunya penggunaan sistem portable drop tank yang dilengkapi pompa submersible untuk penanganan CPO. “Inovasi ini mampu meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan serta mengoptimalkan kapasitas pompa,” katanya.

Selain itu, penerapan sistem truck losing memungkinkan pelayanan hingga empat truk secara bersamaan. Dari sisi keselamatan dan lingkungan, pelabuhan juga dilengkapi sistem penanganan tumpahan minyak (oil spill response) seperti oil boom, bahan pengurai, serta kapal penunjang.

Ke depan, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam menyiapkan inovasi tambahan berupa tudung drop tank agar aktivitas pemuatan tetap berjalan saat hujan.

“Dengan rata-rata curah hujan mencapai 12 hari per bulan, inovasi ini diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas pemuatan hingga 5.280 ton per bulan,” ujarnya.

Selain CPO, pengembangan layanan juga dilakukan pada komoditas turunan sawit seperti cangkang. Realisasi curah kering meningkat dari 185.229 ton pada 2024 menjadi 310.441 ton pada 2025, dan hingga Maret 2026 telah mencapai 85.410 ton.

DAMPAK BAGI PEKERJA
Keberadaan Pelabuhan Pangkalbalam turut memberikan dampak ekonomi bagi tenaga kerja bongkar muat. Banyak pekerja menggantungkan hidup dari aktivitas di pelabuhan tersebut.

Salah satunya Demi (45), pekerja bongkar muat CPO yang telah tiga tahun bekerja di pelabuhan itu. Ia mengaku penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Untuk bongkar muat CPO ke satu kapal, kami berlima dibayar Rp600 ribu per orang per hari,” kata Demi.

Dalam sebulan, ia bisa memperoleh penghasilan lebih dari Rp3 juta, yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak. “Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan makan dan biaya sekolah anak,” ujarnya.

Demi berharap aktivitas industri CPO di Pelabuhan Pangkalbalam terus berjalan, karena banyak pekerja yang bergantung pada sektor tersebut. “Kami berharap kegiatan ini terus ada, karena banyak yang menggantungkan hidup di sini,” katanya. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya