Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI baru saja terbit dari ufuk timur. Namun Pasar Tunjungan di Kabupaten Blora sudah berdenyut kencang. Di tengah hiruk-pikuk bongkar muat barang dagangan di ujung timur Jawa Tengah ini, sesosok pria paruh baya bertopi lusuh tampak sibuk. Mengenakan batik dan celana pendek hitam, ia memanggul karung-karung dari mobil bak terbuka menuju lapak pedagang.
Pria itu ialah Sumarno, 63. Meski peluh membasahi dahi dan bajunya, tubuhnya tetap terlihat kukuh. Sudah puluhan tahun ia bergelut sebagai kuli panggul di pasar ini tanpa mengeluh, meski upah yang diterimanya jauh dari kata besar.
"Setiap hari pendapatan berkisar Rp30.000 hingga Rp40.000. Itu dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujar Sumarno sembari menyeka keringat di pojokan pasar.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Sumarno memiliki tekad baja. Dari penghasilannya yang tak seberapa, ia selalu berupaya menyisihkan uang sebesar Rp4.000 hingga Rp5.000 setiap hari. Uang recehan itu ia kumpulkan selama 20 tahun demi satu impian mulia: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Perjalanan mewujudkan cita-cita ini tidaklah mulus. Sumarno mengaku sering menerima cibiran dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan niatnya. "Ya, banyak yang bilang, untuk makan setiap hari saja susah, kok mau berhaji?" kenangnya lirih.
Namun, cibiran itu justru menjadi pelecut semangat. Dengan ketekunan dan keyakinan bahwa niat baik akan dimudahkan Tuhan, ia terus menabung. Ujian kesabaran kembali datang saat ia sempat gagal berangkat akibat pandemi covid-19 beberapa tahun silam. Namun, Sumarno tidak patah arang.
Setelah berjuang sejak mulai menjadi kuli panggul pada tahun 1985, penantian panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Nama Sumarno kini resmi tercatat dalam daftar 787 calon jemaah haji asal Kabupaten Blora tahun 2026. Ia dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci pada 5 Mei mendatang.
Meski keberangkatan tinggal menghitung hari, rutinitas Sumarno tidak berubah. Saban hari usai salat Subuh, ia berangkat dari rumah kayu sederhananya yang bercat hijau kusam menggunakan sepeda motor tua. Ia tetap setia melayani jasa angkut barang di Pasar Tunjungan, tempat yang menjadi saksi bisu perjuangannya mengumpulkan rupiah demi rupiah demi panggilan Baitullah.
Kisah Sumarno menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa keteguhan niat dan disiplin dalam ikhtiar mampu menembus batas kemustahilan. Kini, kuli panggul itu bersiap menukar topi lusuhnya dengan kain ihram di tanah suci. (I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved