Bentrok dengan Security Perusahaan Perkebunan Sawit, Dua Orang Rimba Terluka

Solmi
13/4/2026 17:54
Bentrok dengan Security Perusahaan Perkebunan Sawit, Dua Orang Rimba Terluka
Dua warga Orang Rimba Neliti dan Nyunting terbaring lemah saat mendapat penanganan medis di RSUD Kolonel Abundjani Kota Bangko, Merangin, Minggu malam (12/4).(Dok.Istimewa)

KEKERASAN terhadap Orang Rimba atau warga Suku Anak Dalam (SAD) dengan petugas security kembali terjadi di areal perusahaan perkebunan kelapa sawit di Jambi.

Akibat insiden, Minggu petang (12/4) tersebut, dua Orang Rimba bernama Neliti dan Nyunting mengalami luka bacok serius pada bagian kepala dan punggung. Sementara satu orang rekannya, Nyatang, 50 tahun, hingga Senin ini masih hilang.

Kepala Bidang Humas Polda Jambi Komisaris Besar Erlan Munaji membenarkan peristiwa bentrokan yang menyebabkan kedua pihak bertikai terluka. Polri bersama stakeholder dan mengajak pemuka Orang Rimba berupaya untuk mencegah masalah tersebut melebar, dan situasi kamtibmas di lokasi kejadian aman kondusif.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Media Indonesia, kekerasan tersebut terjadi beberapa saat setelah pertemuan penyelesaian konflik antara Orang Rimba Air Hitam dan perusahaan perkebunan sawit yang menghangat dalam sepekan terakhir.

Sementara pertemuan penyelesaian di areal perusahaan tersebut, menurut rilis Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia Warsi sejatinya berjalan aman dan kondusif. Difasilitasi oleh pemerintah kabupaten, kecamatan, kepala desa dan aparat keamanan setempat. 

Pertemuan tersebut digelar guna mencari solusi atas beberapa konflik yang terjadi sebelumnya yang melibatkan perempuan dan anak-anak Orang Rimba yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari pihak keamanan perusahaan. Tenaga pengamanan tersebut direkrut perusahaan dari luar Provinsi Jambi.

Dalam pertemuan tersebut, Orang Rimba meminta agar tidak lagi mendapatkan perlakuan kasar. Dalam diskusi ini dijanjikan akan ada pertemuan lanjutan dengan pimpinan perusahaan guna penyelesaian konflik. 
Dalam perjalanan pulang menuju lokasi melangun di Mentawak Baru empat Orang Rimba mendapatkan aksi kekerasan fisik dari beberapa oknum anggota security.

Dua orang mengalami luka bacok di bagian kepala dan punggung, atas nama Neliti dan Nyunting. Seorang rekannya Besawang berhasil melarikan diri, dan mengadu kepada Orang Rimba sanaknya. Sedangkan Nyatang yang ikut berbarengan dalam perjalanan tersebut, dilaporkan hilang.

Mendapat kabar buruk tentang aksi kekerasan tersebut, puluhan warga Orang Rimba dari beberapa kelompok meradang. Mereka melakukan aksi balasan, dan kembali terlibat bentrok fisik dengan para security di sekitar kantor dan permukiman karyawan di sekitar Desa Bukit Suban. Akibat bentrokan tersebut, tiga anggota security terluka dan dua unit rumah karyawan dibakar kelompok Orang Rimba.

“Ini bukan peristiwa tunggal, tetapi bagian dari konflik kronis yang terus berulang karena akar masalahnya tidak pernah diselesaikan,” tegas Robert Aritonang, antropolog KKI Warsi.

Menurut Robert, akar konflik tersebut adalah akibat hilangnya ruang hidup Orang Rimba gegara ekspansi perkebunan kelapa sawit, yang tidak diikuti dengan perlindungan hak maupun skema transisi kehidupan yang layak bagi komunitas.

Situasi semakin memburuk sejak perusahaan menggunakan tenaga keamanan dari luar daerah yang tidak memahami budaya Orang Rimba. Air Hitam adalah wilayah Orang Rimba, melintas di kawasan itu sudah menjadi tradisi mereka. Namun karena tidak memaahami masyarakat adat, tenaga keamanan dimaskud memperparah situasi dengan pendekatan represif di lapangan.

Terkait dengan ini, KKI Warsi mendesak pengusutan tuntas atas dugaan kekerasan oleh pihak keamanan perusahaan, segera pencarian Nyatang yang hingga kini hilang . 
“Hentikan segala bentuk kekerasan terhadap Orang Rimba dan selesaikan konflik berbasis pemulihan ruang hidup dan hak-hak Orang Rimba!” kata Robert. 

Warsi juga menghimbau keterlibatan aktif negara dalam menjamin perlindungan masyarakat adat di wilayah konflik. “Tanpa langkah serius dan menyeluruh, konflik ini akan terus berulang dan menempatkan Orang Rimba sebagai korban,” pungkas Robert. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya